Tuesday, 06 November 2018

Apa yang Terjadi Jika Hormon Estrogenmu Naik?

img detail
ISTOCK

Mohon baca baik-baik.

Apa yang terjadi dengan dirimu? Akhir-akhir ini kok keinginan menjambak rambut seseorang semakin menggebu-gebu (emosi, dan diperparah dengan fakta bahwa kamu iri setiap kali melihat rambut ala Rapunzel-nya). Hmm... mungkinkah benar kata Mama bahwa ini ada kaitannya dengan fluktuasi hormon estrogen? 

“Hormon estrogen khususnya estradiol merupakan hormon utama yang dihasilkan kedua indung telur. Hormon ini memiliki reseptor untuk ikatannya dalam bentuk protein baru yang mengaktifkan sel atau jaringan yang terdapat di hampir seluruh organ tubuh perempuan,” kata dr. Dian Tjahyadi, SpOG(K)., MMRS., seorang Dokter Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Konsultan dan Endokrinologi Reproduksi dari Divisi Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UNPAD/RSHS dan RSIA Limijati Bandung.

Estrogen dikenal dengan nama hormon "perempuan". Sementara testosteron dijuluki hormon "laki-laki." Meskipun kedua hormon identik dengan jenis kelamin yang spesifik, keduanya ditemukan pada laki-laki dan perempuan. Biasanya, perempuan memiliki level estrogen yang lebih tinggi dan laki-laki mempunyai lebih banyak testosteron.

Untuk yang sudah lupa pelajaran biologi, estrogen pada wanita membantu memulai masa pertumbuhan seksual. Bersama-sama dengan hormon seks perempuan lainnya yakni progesteron, meregulasi siklus menstruasi dan mempengaruhi seluruh sistem reproduksinya. Dalam masa pramenopause, level estrogen dan progesteron sangat bervariasi dari satu siklus menstruasi ke siklus lainnya. (Ah, guru biologimu pasti bangga jika mendengar kamu masih mengingat dan menghapalnya dengan baik.) 

Menurut Dokter Dian, penurunan estrogen bisa menyebabkan gangguan fungsi anatomis dari organ perempuan. "Selain daripada itu, penurunan hormon sering disertai dengan menurunnya daya tahan tubuh atau imunitas. Semua hal itu dapat menimbulkan kelainan atau fungsi penyakit yang primernya karena penurunan fungsi hormon, kemudian sekundernya dengan berbagai hal seperti kuman infeksi, pertumbuhan tumor/kanker dan proses peningkatan degeratif khususnya pada memori.”

Ternyata, oh ternyata.

Itu jika estrogen menurun. Dan jika terjadi kenaikan, ada banyak gejalanya, pada perempuan di antaranya: mood swings, kembung, pembengkakan dan nyeri pada payudara, irregular menstrual periods, kenaikan berat badan, amenorrhea (ketiadaan haid), rambut rontok, susah tidur, capek, penurunan nafsu seksual, sakit kepala, mengantuk, dan lain sebagainya. 

“Pada dasarnya hormon estrogen merupakan hormon yang dimiliki setiap perempuan. Secara fisik kelebihan hormon estrogen sulit dilihat. Namun, lebih cenderung ke arah gejala yang berkaitan dengan gangguan alat reproduksi dan infertilitas (maksudnya seperti gangguan haid, kista endrometriosis, mioma dan infertilitas),” terangnya. 

Namun yang membuat penasaran adalah apa yang bisa menyebabkan hormon estrogen saya naik? 

“Hiperestrogenisme dapat disebabkan oleh tumor ovarium atau konsumsi berlebihan dari sumber estrogen eksogen, termasuk obat yang digunakan dalam terapi penggantian hormon dan kontrasepsi hormonal,” jelasnya. Jadi, obat tertentu bisa menjadi penyebabnya, misalnya estrogen replacement therapy, sebuah perawatan yang biasa ditempuh untuk menanggulangi gejala-gejala menopause. 

Menurut Dokter Dian, perempuan yang masih berada pada usia produktif, maka kadar estrogen (estradiol) akan mencapai kadar terendah pada beberapa hari pertama siklus menstruasi, yaitu bersikar 20 - 40 pg/ml. Namun, saat sel telur mulai matang, maka kadar estradiol pun akan meningkat yaitu antara 150-280 pg/mi atau lebih. “Kadar estradiol akan terus meningkat setelah ovulasi (terlepasnya sel telur dari indung telur) hingga siklus menstruasi berikutnya dimulai, kecuali belum terjadi kehamilan.”

Menurut Mayo Medical Laboratories, level estrone dan estradiol yang dianggap normal pada perempuan adalah sebagai berikut: 
 

sumber: https://www.healthline.com/health/high-estrogen#diagnosis

Lalu, bagaimana agar hormon estrogen bisa kembali normal?

“Perawatan mungkin terdiri dari pembedahan dalam kasus tumor, dosis estrogen lebih rendah dalam kasus kelebihan estrogen yang diperantai secara eksogen dan obat penekan estrogen seperti analog gonadotrophin-releasing hormone,” jelasnya. 

Intinya adalah jika kamu merasakan beberapa gejala aneh di atas dan mengganggu aktivitasmu, tidak ada salahnya buat janji temu dengan dokter. Mereka bisa jadi akan menyarankanmu untuk menempuh prosedur dan perawatan tertentu, atau mengatur pola makan, atau menyarankan mengurangi kelebihan berat badan.

Mengapa kamu perlu mengobrol dengan dokter A.S.A.P? Menurut Healthline, kondisi level estrogen tinggi bisa membuatmu rentan terhadap risiko tertentu, misalnya kanker payudara dan ovarium. Menurut American Cancer Society, estrogen dominance (kondisi estrogen luar biasa tinggi dibandingkan progesteron) bisa juga meningkatkan risiko kanker endometrium. Tidak hanya itu, estrogen tinggi juga meningkatkan risiko penggumpalan darah dan serangan otak. 

Selanjutnya: Lemak "baik" penting untuk menjaga kesehatan tubuhmu. Ini cara memastikan kamu mengonsumsi lebih banyak lemak "baik" dibandingkan lemak "jahat". 


MORE ARTICLES


POPULAR ARTICLES
MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR