Monday, 10 December 2018

Bagaimana Agar Kamu Bahagia—Tidak Hanya di Instagram, Tapi Juga di Dunia Nyata

img detail
ISTOCK

Unfiltered. 

Coba Google: how to be as happy in real life as you look on social media. Apa yang kamu dapatkan?

Woop mendapatkan ini: bahwa semakin bahagia postinganmu, sebenarnya semakin menyedihkan kehidupan nyatamu. Atau ini: Instagram adalah wadah media sosial terburuk untuk kesehatan mental (bisa meningkatkan depresi dan kecemasan berlebihan). Dan pantyhose adalah senjata andalan untuk menyebarkan kepalsuan berat badan (perut rata, paha langsing)—dan membuat orang lain iri. Atau, thread di Quora: So many people post happy photos on social media, are they really happy? (Kunci jawaban: sebagian besar menganalisa dan berkesimpulan, nuh-uh, no way jose). 

Seberapa mungkin memiliki kehidupan nyata yang berbanding lurus dengan kehidupan maya; dua-duanya sama bahagia, atau dua-duanya sama merana? 

“Kita harus tahu dulu, definisi bahagia itu apa," seorang Psikolog Klinis Dewasa dari Klinik Pelangi, Cibubur, Irene Raflesia, S. Psi, M. Psi., menjelaskan kepada Woop. "Sejak dulu sudah banyak upaya yang dilakukan untuk mendefinisikan konsep bahagia. Kata ‘bahagia’ biasa digunakan untuk menggambarkan pengalaman merasakan emosi positif seperti rasa senang, bangga, bersyukur, dan merasa berkecukupan. Bahagia ini juga sering dikaitkan dengan kesejahteraan dan kepuasan hidup. Mengutip Lyubomirsky, bahagia sebagai pengalaman emosi senang, puas, dan sejahtera dikombinasikan dengan pikiran bahwa hidup lebih baik, bermakna, dan berharga," lanjutnya. 

Intip Instagram temanmu, idolamu, tetanggamu (atau milikmu sendiri), sepertinya semua orang selalu, senantiasa, 24/7 hari, bahkan hari kerja dan tanggal tua, mereka (dan kamu) sepertinya super duper mega bahagia. Tersenyum, lengkap dengan pose baby giraffe (pantat menjorok ke luar, satu kaki di depan dan kaki lain di belakang, seperti bayi jerapah jalan) atau invisible dog (biasanya pria, pose jalan dengan kepala di kepala menengok ke belakang, seperti mau bilang, "Lah, anjing gue ke mana?). Intinya, semua orang bahagia di dunia maya. Secara logika apakah ini mungkin? 

“Nah, mungkin ini yang sering menjadi pertanyaan; apakah kita tidak mengalami emosi negatif sama sekali. Tentu saja ini tidak berarti demikian," Irene berpendapat. "Tidak ada yang dapat terbebas dari tekanan kehidupan sehari-hari. Namun, orang yang bahagia mungkin saja mengalami kemalangan. Hal yang membedakan bisa jadi terletak pada bagaimana mereka memproses pengalaman negatif yang dirasakan. Sederhananya, kebahagiaan adalah tentang menginginkan apa yang kita miliki dan memiliki apa yang kita inginkan,” ujarnya.                             

Mengutip penelitian Lyubomirsky et al (2005), Irene menjelaskan bahwa penelitian tersebut menemukan bahwa orang yang bahagia memiliki kesempatan yang lebih tinggi untuk mencapai kesuksesan bila dibandingkan dengan orang yang mengalami emosi negatif. “Hasil ini mendukung penelitian sebelumnya oleh Daubman dan Nowicki (1987) yang menyimpulkan bahwa orang yang bahagia mampu memecahkan masalah lebih cepat ketimbang orang yang berada pada situasi netral atau mengalami emosi negatif. Pengalaman positif membuat diri kita dan tindakan kita menjadi lebih bermakna. Hal inilah yang terus mendorong kita untuk mencapai target yang lebih tinggi,” kata Irene.

Bahagia satu hal, tapi bahagia terus seperti yang kita perlihatkan di sosial media lain lagi. Adakah cara ampuh untuk merasa bahagia di luar dan dalam internet?

“Di tengah maraknya akun media sosial, kita cukup sering melihat posting yang menarik dari beberapa teman atau artis pujaan. Jalan-jalan keluar negeri, makan malam di tempat yang gaul, foto kompakan dengan pakaian bagus bersama teman-teman. Biasanya, postingan ini tak jarang membuat kita mengagumi dan membayangkan betapa bahagianya jika kita juga menjalani aktivitas yang sama," ujar Irene. "Selain itu, media sosial dalam jaringan memang memberikan daya tarik tersendiri dalam hal mengekspresikan diri. Ketika bertemu hal yang menyenangkan, ada kalanya kita ingin berbagi kepada follower untuk mengabadikan momen yang dilalui. Media sosial ini sendiri memberikan jarak antara diri kita dengan lingkungan sosial. Jarak ini memungkinkan kita untuk mengendalikan citra seperti apa yang ingin kita tampilkan pada follower,” ujarnya.

Istilah pra-Instagram, jaim.

“Nah, tentunya, berinteraksi melalui media sosial memberikan kenyamanan lebih dan terasa lebih ringan ketimbang beban yang kita hadapi saat berinteraksi dengan orang lain secara langsung. Apa pun citra yang ingin kita bentuk akan mempengaruhi isi posting dari akun media sosial kita. Ini membuat siapa pun yang melihat isi postingan di Instagram dapat menjadi kagum atau tak jarang tergoda untuk menginginkan hal yang sama—padahal, hal itu berada di luar jangkauan kita. Terlebih jika pemilik akun media sosial tersebut memiliki keinginan untuk dikagumi,” lanjutnya.

Para ilmuwan menyebut ini dengan prinsip "membandingkan dan merana" —kamu membandingkan kariermu (misalnya) yang sepertinya mandek dan merana karena kamu tidak bisa sesakses dan sekaya mereka. Alhasil, kamu mati-matian berusaha agar kehidupan Instamu sesempurna dan sebahagia orang lain—jujur saja, semua orang melakukan ini, caranya saja yang mungkin berbeda. Padahal, kita tidak perlu menempuh atau menjadi berlebihan seperti itu. 

Menurut Irene, ada tiga hal yang bisa membuatmu tetap bahagia baik saat berpose sparrow face (mata lebar dan mulut sedikit terbuka) di IG atau pose tiarap-belum-mandi-di atas kasur. 

1. Berbuat baik kepada orang lain

Memang ini bertentangan dengan mitos memiliki uang dapat membawa kebahagiaan, tapi memanfaatkan uang untuk kepentingan orang lain membuat kita bahagia. "Hal ini tentu tidak selalu berarti harus memberi sejumlah besar uang kepada orang lain setiap saat. Memberikan makanan, bantuan, sumbangan secara sukarela juga dapat membuat kita merasa bahagia." Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa, menjadi sukarelawan bisa membuatmu lebih bahagia, depresi menurun dan merasa lebih puasa. 

2. Bersosialisasi

Berbeda dengan interaksi di media sosial, bersosialisasi di sini adalah menjalin interaksi bermakna dengan lingkungan kita di dunia nyata. "Memiliki hubungan yang memuaskan dengan pasangan, keluarga, teman dan komunitas akan membuat hidup menjadi lebih berarti. Menyempatkan diri untuk melakukan aktivitas bersama, berkumpul, bercengkerama, berlibur bersama dapat meningkatkan kebahagiaan kita," ujar Irene. Ketika kamu melakukan ini, mungkin ada baiknya mencoba detoks media sosial sesekali. 

3. Bersyukur

Menghargai apa yang kita miliki membantu kita melatih rasa bersyukur yang tentunya akan meningkatkan kebahagiaan. "Jika kita cenderung menginginkan apa yang tidak kita miliki, kita akan sulit menghargai dan mensyukuri apa yang kita punya." Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa sikap bersyukur adalah salah satu kunci surga kebahagiaan. 

Selanjutnya: Tidak semua yang palsu itu dilarang; salah satunya memakai maskara ini akan membuat bulu mata aslimu seperti palsu, alias lebih panjang dan tebal. 






 


MORE ARTICLES


POPULAR ARTICLES
MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR