Thursday, 03 May 2018

Bagaimana Membantu Anak Mematuhi Aturan Rumah dengan Senang Hati

img detail
ISTOCK

Agar tidak mengulang 100 kali—dan dicueki.

Tidak peduli seberapa sering kamu mengatakan dengan manis "rapikan mainannya", si kecil menolak. Ingin sih teriak, terutama saat sedang kesal, tapi kemungkinan nanti kamu akan merasa bersalah. Akhirnya, sebagai kompensasi merapikan sendiri ratusan mobil-mobilan atau ribuan baju boneka tersebut. Padahal, kedua pihak—kamu dan anak—sudah membuat perjanjian, aturan di dalam rumah untuk membuat kehidupan semua orang lebih terorganisir, lebih tenang. Bahkan, disahkan dengan "materai" berupa "janji, ya?" Janji!

Sebenarnya, adakah trik agar si anak mentaati aturan yang dibuat sedemokratis tersebut dengan senang hati, tanpa melibatkan emosi level tinggi. Woop bertanya kepada Lily Anggraini, S.Psi, M.Psi, seorang psikolog Pendidikan.

ASAL MUASAL ATURAN

Ah, peraturan, kata yang tidak begitu indah, ya? Namun, menurut Lily, hal ini dibutuhkan dalam keluarga untuk mengajarkan anak berperilaku sesuai dengan batasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Harapannya adalah untuk membantu anak memahami peran, tanggung jawab, dan nilai dari keluarga karena biasanya aturan dan nilai setiap keluarga berbeda-beda. "Aturan hadir karena belum terbentuknya perilaku positif yang diharapkan oleh keluarga. Goal dari aturan adalah anak memahami batasan perilaku, melakukan kontrol diri dan memiliki kesadaran penuh atas tindakannya bahkan tanpa adanya hadiah atau penguatan eksternal," jelasnya melalui email. 

Jika peraturan resmi dalam masyarakat dibuat oleh pemerintah, dalam keluarga daftar apa yang boleh dan sebaiknya tidak dilakukan diciptkan oleh orangtua dalam proses "ketok palu" berdasarkan aturan baku. Akan tetapi, idealnya, orangtua harus melibatkan seluruh anggota keluarga. "Hal ini bertujuan agar orangtua dapat menggali hal-hal apa yang dapat memotivasi anak untuk menaati aturan juga aturan yang dibuat bersifat kesepakatan bukan paksaan," tegas Lily. 

SESUATU YANG DISEBUT ATURAN IDEAL ITU... 

Sekali lagi, perlu diingatkan bahwa aturan keluarga ini sangat bersifat internal—beda keluarga, beda aturan. Akan tetapi, Lily mengutip sebuah teori Munger (2007) yang pada intinya menyarankan orangtua untuk tidak membuat terlalu banyak aturan. Pasalnya, anak memiliki kapasitas terbatas; tidak ada efek positifnya saat anak sesak nafas dengan peraturan sementara orangtua kewalahan "memantau" ketaatannya. 

Sebagai permulaan, mulailah dengan membuat dua-tiga peraturan tertulis dengan bahasa yang positifJika sudah tercapai, kembangkan untuk mewujudkan target lain. Tidak kalah pentingnya juga adalah buat aturan yang jelas, spesifik dan perhitungkan "celah" yang mungkin diambil oleh anak. Tujuannya: agar semua pihak, tidak hanya orangtua, tapi kakek, nenek, pengasuh dapat mengetahui dan membantu menerapkan aturan tersebut dengan konsisten. Dan jika anak sukses? "Berikan 'hadiah', tapi tidak harus berbentuk barang. Namun lebih pada hal-hal yang diinginkan anak sehari-hari, misalnya main gadget, main sepeda, makan es krim, jalan-jalan di akhir pekan, dsb," jelas Lily. Prinsipnya penghargaan ini adalah sesuatu yang di luar kategori kebutuhan utama (seperti makanan, pakaian, tempat tinggal atau kasih sayang), yakni makanan yang bukan makanan utama (seperti pudding dan es krim), pakaian yang merupakan barang mewah seperti sepatu baru, dan lain sebagainya. 

Bingung ingin memberikan "hadiah" apa? Cari ide dari percakapan yang kamu lakukan dengan anak agar dia tahu bahwa ini adalah kesepakatan, bukan ancaman apalagi paksaan. 

KENYATAANNYA SERINGKALI TIDAK SEINDAH TULISAN TANGAN

Untuk yang memiliki anak atau keponakan, pasti tahu situasi ini: disuruh A, dilakukannya B. Atau, disuruh C, bergerak pun tidak. "Hal ini biasanya dilakukan oleh anak untuk mengetes kekuatan dari aturan tersebut, anak akan berupaya agar orangtua kesulitan untuk menegakkan aturan," jelas Lily. 

TRIK AGAR TIDAK PERLU MENGULANG-ULANG PERMINTAAN YANG SAMA 

Sudah 10 kali bilang, "ayo waktunya mandi", tapi tidak ada respon. Rasa frustrasimu melebihi ketika teman/ pasanganmu membaca pesan di WhatsApp (ada bukti berapa dua centang biru), tapi entah kenapa tidak membalasnya. (Mungkinkah dia membuang ponselnya begitu membaca pesanmu?). "Hal ini kemungkinan terjadi karena aturan tidak memiliki konsekuensi yang jelas dan konsisten, misalnya, ketika anak menolak mengikuti aturan kemudian orangtua menyerah dan melakukan pekerjaan tersebut sendirian. Hal ini akan membuat anak merasa bahwa dengan tidak mendengarkan orangtua menjadi cara yang efektif untuk menghindari aturan atau pekerjaan rumah." 

Oleh karena itu, Lily menyarankan: jika orangtua mengharapkan anak untuk membereskan kamar, maka jadikan membereskan kamar tersebut sebagai tugas, dan memegang ponsel sebagai hak istimewa yang didapat dari menyelesaikan pekerjaan tersebut. "Hal ini akan lebih powerful dibandingkan sebaliknya. Definisikan juga berapa lama dia dapat memegang hp jika ia telah berhasil mengerjakan tugas rumahnya. Orangtua juga harus menaati hak istimewa yang telah disepakati, agar anak tidak merasa dikhianati atau merasa tidak diperlakukan secara adil," Lily mengingatkan. 

SI KECIL PINTAR... DIA BISA BERARGUMEN

Seringkali diminta melakukan sesuatu, jawabannya, "ah, mama/papa saja main handphone mulu kok. Kenapa aku nggak boleh?" "Ini adalah upaya anak untuk mengetes aturan yang diterapkan. Hal ini akan terjadi ketika aturan yang dibuat tidak spesifik dan jelas. Ketika aturan yang dibuat sudah spesifik dan jelas, hal ini dapat dhinidari. Misalnya, orangtua dapat menggunakan hp karena sudah mengerjakan tugas-tugas orangtua, sedangkan anak belum selesai mengerjakan PR sesuai dengan kesepakatan." 

Skenario lain: seringkali ada orangtua yang memberikan aturan anak tidak boleh memegang ponsel di jam tertentu, tanpa menjelaskan alasannya. Tidak perlu menjadi Stephen Hawking, kamu pasti tahu yang akan terjadi selanjutnya: anak akan berupaya mencari celah dari aturan dan jika pun melakukan aturan tersebut, si kecil akan merasa terpaksa.  

JIKA GAGAL, SEBAIKNYA MELAKUKAN.... 

Time-out? Lily menjelaskan bahwa time-out dapat diberikan ketika anak melakukan sesuatu yang salah dan sedang dalam kondisi emosi yang bergejolak. "Ketika anak sedang marah atau penuh emosi, maka orangtua dapat membawanya ke tempat yang tenang, dan menenangkan anak dengan cara mengusap punggung atau kepalanya." 

Lalu, jelaskan bahwa ia diberi waktu untuk menenangkan diri. Setelah hal tersebut tercapai, ajaklah si anak berbicara. Jangan lupa menjelaskan bahwa tindakannya tidak sesuai dengan aturan yang telah dibuat, sehingga hak istimewa yang disepakati bersama tidak akan diperolehnya. 

Dan jika perilakunya memberi dampak bagi orang lain (misalnya temannya, kakaknya, pengasuhnya, dll), jelaskan juga bahwa hal tersebut berefek negatif bagi orang lain. Cari tahu kronologi dan sebab-musabab kejadian; pahami kondisi anak, kemudian tanyakan apa yang akan dilakukannya  jika dia menghadapi situasi yang sama di lain hari. Ingat: kuatkan anak untuk melakukan tindakan sesuai dengan aturan yang telah disepakati.


MORE ARTICLES


MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR