Friday, 31 May 2019

Cerita 2 Sahabat yang Sukses Berbisnis Fashion di Usia Muda

img detail
Dok. Instagram @amandadheanisa

Parasayu Arizya dan Amanda Dhea, dua orang sahabat yang memutuskan berkolaborasi--tidak hanya untuk urusan pribadi tapi juga sukses berbisnis.

Apakah kamu berencana membuka bisnis dengan sahabatmu? Atau malah sedang melakoninya? Apapun yang sedang kamu jalani, Woop hanya ingin bilang: Semangat!

Menjalani bisnis itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang akan kita temukan seiring dengan perjalanan. Apalagi menjalaninya dengan sahabat, meski sudah mengenal ‘luar dalam’ tapi tetap saja rasa ‘tidak enakan’ pasti akan mengganggu profesionalitas. Ditambah lagi jika kita kesal dengannya, bisa-bisa urusan pribadi dibawa ke urusan kerjaan. Tapi hal itu tidak terjadi pada seorang Parasayu Arizya Diandra, yang memilih Amanda Dhea Ayuwardhana--sahabatnya sejak kuliah bersama di London School of Public Relation, untuk menjadi rekan bisnisnya.

“Memilih Dhea itu, karena dia teman aku, dan dia juga ingin membuka bisnis. Kebetulan juga kita berdua punya visi misi dan taste yang sama dalam dunia fashion. Jadi nggak ada salahnya untuk memilih dia menjadi rekan bisnis aku,” ujar Paras yang ditemui Woop pada acara Woop Connect ‘SHE.E.O Women Making The Move di Ragil Coffee and Roastery, Jakarta.

Berbisnis dengan sahabat memang harus dimulai dari visi dan misi yang sejalan. Karena kalau tidak, bisnis yang kamu miliki tidak akan berjalan dengan lancar. Mungkin itulah yang menjadi alasan Paras memilih Dhea untuk menjalankan bisnis fashionnya dengan nama (baru): House of Parasayu.

Membuka bisnisnya pada Juni 2017 dengan nama Parasayu Atelier: @byparasayu, ternyata Paras melakukannya sendiri tanpa ada campur tangan Dhea di awal-awal bisnisnya. “Aku mulai sendiri dulu. Terus di awal tahun 2018, aku bareng temanku yang lain, berdua, menjalaninya. Tapi cuma berlangsung dua bulan saja, karena temanku ini memutuskan untuk kerja di bank. Baru di akhir 2018, Dhea bergabung menjalani bisnis ini bersamaku,” kata Paras.

Berarti sempat vakum?

“Iya, sempat vakum semenjak temannya Paras keluar dan memutuskan untuk kerja di tempat lain. Sampai akhirnya di 2018 akhir aku join dan kita rebranding dari awal. Seperti mengganti nama, konsep, dan idenya benar-benar dimulai dari awal lagi,” ujar Dhea.

Mungkin ini keputusan tepat yang diambil oleh Paras dalam hidupnya untuk menjadikan Dhea--tidak hanya sebagai seorang sahabat untuk urusan pribadi tapi juga menjadi rekan bisnis kepercayaannya. Meski bisnis yang dijalankan oleh Paras dan Dhea adalah bisnis yang sudah banyak dimiliki oleh semua orang, hal itu tidak membuat bisnisnya hanya berjalan di tempat saja. Karena menurutnya omzet yang didapatkan lumayan besar.

“Biasanya kita satu bulan bikin ready-to-wear sekitar 15 pieces. Alhamdulillah, dalam waktu satu bulan, setengahnya tuh udah terjual. Jadi bulan selanjutnya biasanya hanya untuk menghabiskan. Karena kita bikin satu season itu untuk dua bulan. Tapi untuk yang costume, setiap bulan, alhamdulillah ada. Bisa sampai enam baju. Mulai dari kebaya ataupun outerwear. Biasanya lebih ke acara-acara, wisuda atau lamaran, kalau yang costume,” jelas Paras.

“Sedang kalau omzet, bulan ini--bulan April-- bisa sampai 8 juta. Itupun belum semua baju terjual, baru hanya beberapa baju saja,” tambah Dhea.

Karena baju yang dijualnya terlihat semi formal dan formal. Saya penasaran dengan konsumen dari House of Parasayu. Siapa saja pembelinya?

“Biasanya sih yang beli paling seumuran kita. Pokoknya umur 18 sampai 25 tahun. Tapi ada juga yang 30an sih. Karena baju kita itu semi formal,” jawab Paras dan Dhea, bersama.

Menjalani bisnis tanpa ada duka? Rasanya tidak mungkin ada di dunia ini. Semua orang pasti pernah mengalami hal-hal tidak mengenakan dalam hidupnya. Apakah Paras dan Dhea pernah juga merasakannya?

“Ada banget. Malah banyak banget,” ujar Paras dan Dhea dengan penuh semangat. “Ada yang nanya doang. Trus, udah minta dibalas tengah malam, tiba-tiba kabur gitu aja. Ada juga yang minta pricelist doang, atau minta foto detailnya, saat aku udah ngirimin katalognya, mereka gak bilang makasih atau apa gitu kek. Padahal kita nggak ‘maksa’ untuk mereka membeli, tapi paling nggak bilang terima kasih gitu,” cerita Dhea, dengan nada kesal.

“Sebelum ada Dhea, aku pernah dapat costumer yang (pada saat itu aku pegang line sendiri ya) nanyanya galak banget dan banyak maunya, malah sampai nawar harga. Padahal, aku jualannya harga pas,” ujar Paras.

Yep, mengucapkan rasa terima kasih memang sering dilupakan oleh orang banyak. Padahal kita sudah membantunya dengan ikhlas. Tapi yang dilakukan oleh kedua perempuan cantik ini adalah tetap baik kepada semua orang, khususnya para costumernya. Apalagi untuk kamu yang sedang merintis bisnis, hal ini sangat penting untuk dilakukan. Intinya, harus memberikan service yang terbaik. Ah, baiknya!

Duka sudah. Bagaimana dengan goalsnya? Apa yang ingin mereka dicapai dari House of Parasayu?

“Kita ingin punya offline store,” ujar Paras, berharap. “Sekarang kan orang hanya lihat kita dari instagram saja. Terkadang banyak orang yang ingin melihat tokonya di mana, pengen lihat langsung, dan ingin mencoba bajunya secara fisik. Itulah keterbatasan kita yang belum dimiliki. Jadi saat ada yang ingin costume atau fitting bisa datang langsung ke store. Satu lagi, kita juga pengen masukin barang-barang kita ini ke toko-toko. Supaya banyak orang yang mengenal brand kita,” tambahnya.

Sebagai perempuan muda yang sukses menjalani kehidupan pribadi dan bisnis. Sebenarnya, apakah kalian berdua memiliki kelemahan (saat ingin membuka bisnis)?

“Banyak perempuan tuh ngerasa kurang percaya diri sih,” jawab Paras. “Kayak pengen bikin tapi udah down duluan. ‘aduh ada gak ya yang beli’ atau ‘apa banyak yang suka’. Harusnya jangan berpikir seperti itu dulu sih. Saat kamu kepikiran mau bikin apa, udah percaya diri dan berani aja dulu. Pokoknya dicoba! Walaupun modalnya sedikit, kalau tekun, bisa jadi kok. Jangan lupa berani berkomitmen. Karena jika dia nggak berani berkomitmen sama diri sendiri dan nggak tau tujuannya apa, pasti dia akan selalu jadi followers. Satu lagi, jangan pernah merasa puas sama yang sudah dicapai. Mendengarkan masukan dari orang lain itu juga penting,” sarannya.

 

Selanjutnya: Resign setelah Lebaran? Pastikan kamu mengetahui empat hal berikut ini terlebih dahulu. 


MORE ARTICLES


POPULAR ARTICLES
MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR