Wednesday, 26 September 2018

Interview: 3 Perempuan Hebat tentang Suka Duka Mewujudkan Mimpi

img detail
WOOP.ID

Founders speak up.

Apakah sedang berniat mendirikan sebuah usaha, atau bahasa jamannya: startup? Atau sudah melakoninya, dulu semangat tapi sekarang dalam kondisi 'hidup segan, tamat tidak mau'? Woop berbincang dengan tiga perempuan dengan usaha yang berbeda dan berharap setelah mendengar ceritanya, kamu kembali semangat mewujudkan mimpimu.

CYNTHIA LARASANTI, FOUNDER of BUBA AND BUMP 
 

Restoran memang tempat yang menyenangkan bagi banyak orang, tapi dilematis bagi ibu, karena hanya segelintir yang ramah anak! Menyadari keabsenan tersebut, Cynthia Larasanti bersama kedua sahabatnya, Priscilla Angriawan dan Kimberly Sarah, membuka sebuah tempat bernama Buba and Bump di Jakarta sembilan bulan yang lalu. 

“Sebenarnya, ini ide dari salah satu partner aku (salah satu pendiri Buba and Bump) saat pulang dari Amerika,” ujar Cynthia, kepada Woop. “Kebetulan, aku dan satu dari founder Buba and Bump ini adalah seorang ibu. Mungkin, karena itu kita berdua ingin menciptakan kayak tempat ini, yang belum ada untuk keluarga. Dari awal pengen banget buka bisnis, cuma dari awal kita tahu kalau perempuan sudah punya anak akan susah buat ngapain-ngapain. Kebetulan bisnis ini untuk kita bertiga, [bisa dilakukan] sambil kerja dan sambil jagain anak juga. Ya, yang namanya perempuan, number one priority-nya tetap anak 'kan. Bisa mewujudkan mimpi tapi tetap bisa mengurus anak juga,” terangnya. 

"Alasannya bukan cuma yang kita bilang, bukan cuma karena ini khusus bagus untuk keluarga. Kita pikir sebagai ibu ‘kok nggak ada tempat di Jakarta yang benar-benar memperhatikan kebutuhan ibu gitu. Seperti tempat menyusui, tapi bukan mal ya. Kita ngomonginnya kayak tempat yang ada tempat main, trus, misalnya saat ibunya sedang kerepotan, dia juga bisa beli barang di sini, bisa juga ngumpul sama ibu-ibu lain di sini, bisa main bareng juga,” ceritanya, dengan semangat. 

Namanya, Buba and Bump–apa artinya? 

Buba-nya itu mom, Bump-nya itu dari kata pregnancy. Atau, bisa diartikan Bump-nya itu sebagai anaknya,” ceritanya sambil tertawa. Jadi, Buba and Bump = Ibu dan Anak!

Saat Woop mengunjungi Buba and Bump, banyak hal yang menarik dari tempat “Ibu dan Anak”. Misalnya, menu makanannya yang sehat (tapi enak). 

“Sebenarnya, kita mikirnya nggak cuma ibu-ibu (kebanyakan ibu menyusui) ini," kata Cynthia. Fokus utamanya adalah tidak hanya ibu, tapi karena makanan tersebut juga akan diserap oleh bayi, maka "kita pikir, kenapa nggak sekalian aja kita buat kafe sehat,” ceritanya. Yah, salah satu hal baik dari era modern adalah kesadaran dan kepedulian orang terhadap pilihan makanan sehat.

Bukan hanya itu, Buba and Bump juga menjual peralatan bayi, mulai dari baju sampai pernak-pernik. Juga, beberapa kelas olahraga. “Konsep yang kita tawarkan adalah seperti one stop destination. Pemikiran kita, kita akan cover seribu hari pertama dari ibu dan anak,” paparnya.

Tunggu, seribu hari pertama? Maksudnya? “Iya, selama sembilan bulan mengandung, habis itu dua tahun pertama anak. Kita mikirnya dari dia hamil, dia sudah enjoy kelas-kelas kita, misalnya kelas prenatal yoga, atau childbirth education. Selain itu, setelah melahirkan, kita juga memberikan edukasi kepada anaknya dan ibunya sendiri, seperti kelas baby massage, kelas ASI-MPASI. Trus, untuk baby-nya sendiri ada kelas sensory juga. Kenapa one stop destination? At the same time, kelas, lalu turun bisa belanja langsung keperluan dan bisa sekalian makan juga,” ungkapnya.

Merintis startup company, ehm... bukanlah sesuatu yang sederhana. Terutama, jika usaha tersebut 'berbeda'. Apakah Cynthia merasakan hal itu juga?

“Iya, ada suka dan duka yang harus dijalankan,” tuturnya, serius. "Sukanya sih, sudah pasti," lanjutnya, "kita happy lihat banyak ibu yang datang ke sini, padahal mereka masih menyusui. Mereka kerepotan misalnya anaknya ada dua; satu baby, satunya sudah besar. Tapi senang karena mereka bisa happy, happy, dan bisa dapat edukasi yang benar juga. Kalau dukanya? Mungkin, lebih ke awal-awal berdiri kali ya, taruh nama kita di luar, benar-benar meyakinkan orang-orang, kalau tempat kita ini memang cocok untuk keluarga, dan kita juga bisa memberikan edukasi.”
 

VERNA SUKIAT, FOUNDER of WATT: WALK THE TALK
 

Bagi banyak perempuan, sepatu merupakan bagian wajib dari penampilan. Tas atau t-shirt putih boleh hanya satu di lemari, tapi sepatu, uh-uh, harus lebih dari rak. Sepatu apa yang menjadi obsesi dan mimpimu akhir-akhir ini? Tunggu dulu, tahan jawabanmu. 

Perkenalkan, Verna Sukiat, seorang pendiri merek sepatu, WATT: Walk The Talk

Background aku adalah desainer, tapi interior desainer, hahaha,” kata Verna, saat ditanya oleh Woop tentang usahanya.

Jadi begini: “Dulu aku sekolah di Singapura, dari lulus SD, udah all the way di situ. Aku pun sempat kerja juga di desain interior. Jadi dari background desain ini, of course, aku tahu tentang segala macam material, finishes. Itu sih, yang membantu banget di usahaku, Walk The Talk,” sambungnya.

“Jadi, setelah aku lulus, aku pernah kerja lima tahun di Singapura. Nah, di situ tuh, everyday kayak supermonday," ujarnya lagi. Sibuk, dan pada saat yang bersamaan, repetisi—hampir setiap hari polanya sama. Itulah yang membuatnya berpikir untuk mendirikan, "sesuatu, brand baru," bersama kakaknya, dengan syarat, "aku nggak mau bikin brand yang asal-asalan.”

Akhirnya, lahirlah WATT: Walk The Talk.

“Nah, kita nggak mau brand ini hanya menjadi sebuah tren aja," Verna kembali menekankan. "Brand ini bisa menjadi movement. Kayak namanya aja, Walk The Talk. Ibaratnya nih, ‘lo jangan ngomong doang. Tapi lakukanlah'! Dan kenapa sepatu? Karena kita mau sepatu ini tuh, jadi early reminder. Jadi setiap orang memakai sepatu kita, our dream, our passion, [maka] mereka akan ingat, ibaratnya, kamu berjalan seperti apa yang kamu katakan kemarin,” ujarnya, dengan penuh semangat.

Tidak bisa dipungkiri, di Indonesia banyak merek sepatu lokal yang bermunculan (plus merek internasional yang sudah merajai sejak lama). Apa yang membedakan Walk the Talk dengan yang lain?

“Yang membedakan kita dengan lainnya adalah kita tidak bekerjasama dengan online shop. Itu yang menjadi identity kita," tegasnya. "Kita juga hanya menjual sepatu untuk perempuan saja. Ini bukan feminis, ya! Tapi kita juga mungkin akan bikin sepatu untuk laki-laki juga,” katanya.

Sambil menyeruput kopi, Verna mengaku bahwa dalam membuka usaha penuh dengan tantangan. “Bukan duka kali ya, tapi everyday have a challenge. Kayak misalnya, hari ini datang ke rumah produksi ada aja yang salah atau kurang. Kalau sukanya, I have my sister yang bekerja membantuku,” ceritanya. Simpel. 

Terakhir, apa arti sepatu untuk seorang Verna?

Impression!” tegasnya. “Karena banyak orang yang suka bingung mau pakai baju apa ya, hari ini. Dan biarin deh, sepatunya yang gue matching-in. Padahal, kita bisa mix and match baju dengan sepatunya. Sepatu itu bisa menjadi pemanis untuk outfit yang kamu gunakan,” jawabnya.

Oh, maaf, ini benar-benar yang terakhir: jika dikaitkan dengan sepatu, jenis sepatu seperti apa sih, kamu?

“Haduh! Kayaknya susah banget untuk dijawab ya,” katanya, seraya tertawa. “Soalnya mood-ku tuh sering berubah-ubah. Kayak aku enjoy pakai heels, sometimes aku suka juga pake sneakers. Jadi, tergantung mood dan tempat kali ya, hahaha. Tapi kalau dikasih pertanyaan seperti itu, aku nggak tahu mau jawab apa sih," ujarnya, tertawa lebar. 

PUTI CENIZA SAPPHIRA, FOUNDER of PUSTAKALANA 
 

Nama usahanya, Pustakalana (artinya: berkelana di dunia pustaka). Yep, kamu benar, yang satu ini ada hubungan—erat malah—dengan buku. Pendirinya, Puti Ceniza Sapphira, yang akrab dipanggil Chica. Didirkan sejak tahun 2005, di Bandung. 

“Ceritanya panjang,” kata Chica, seraya tertawa.

Tidak apa-apa, Woop punya banyak waktu. 

“Sebenarnya, ini karena pengalaman merantau," ibu dua anak ini mengawali ceritanya. "Jadi, yang aku pikir salah satu cara aku beradaptasi, kali ya. Kebetulan juga pas aku merantau keluar negeri itu, aku lagi hamil 4 bulan. Jadi, aku benar-benar nggak bisa keluar, cuma bisa baca buku dan belajar di perantauan. Tapi saat usia [kehamilan] sudah masuk 7 bulan, aku baru bisa diajak pergi keluar rumah. Aku menemukan bahwa salah satu tempat di kota—kota mana pun sebenarnya di Amerika, penuh dengan perpustakaan. Jadi, di sana tuh image dari perpustakaan itu bukan hanya untuk meminjam buku saja dan bukan tempat yang bosenin, sama sekali nggak," tegasnya. Melainkan, "di sana [perpustakaan], aku menemukan orang-orang baru untuk bisa menambah teman,” ujarnya.

Sempat tinggal di Amerika, tepatnya di New Bedford, State Massachusett, tidak membuat dia melupakan tempat kelahirannya. Dia bercerita bahwa tempat tinggalnya di Amerika merupakan sebuah kota kecil yang hanya berpenduduk sebanyak seratus ribu orang saja, tapi memiliki lima perpustakaan dengan koleksi yang lengkap. “Iya, di sana semua koleksinya sangat mumpuni banget. Bahkan kalau mampir ke perpustakaan kota Bandung saja, nggak ada jumlah koleksi yang selengkap itu,” ujarnya, miris.

[wawancara terhenti sejenak karena seorang teman Chica datang menghampiri].

Lalu, tak lama Chica berkata, “kenapa awalnya bikin Pustakalana? Karena aku ngelihat sendiri, di Indonesia, eh bukan di Indonesia," koreksinya, "aku mempersiapkannya untuk balik ke Bandung, karena menurutku di Bandung nggak ada wadah seperti Pustakalana. Walaupun Pustakalana base-nya adalah perpustakaan, tapi soul-nya ada di aktivasi perpustakaan itu sendiri. Menurutku, perpustakaan itu akan mati jika tidak ada kegiatan,” ujarnya, dengan antusias.

“Saat banyak orang berkoar-koar, kenapa literasi banyak orang Indonesia ini jelek banget, kenapa sih kita peringkat 2 terakhir setelah Zimbabwe, yah itu, karena dari kecil kita tidak dibiasakan, menjadikan part of reading atau misalkan pergi ke perpustakaan sebagai suatu budaya. Bagaimana caranya, kita lebih nyasar ke orang-orang yang lebih besar akan lebih sulit. Jadi, aku berpikir ya udah deh, dari 7 tahun ke bawah aja. Dari usia dini diperkenalkan tentang perpustakaan, dan dia juga bisa tertarik lihat buku, tertarik minta dibacakan, dari situ dia akan lebih mencintai membaca dan buku itu sendiri,” paparnya.

Satu setengah bulan dibutuhkan Chica untuk mempersiapkan perpustakaan ini. Dan untuk membantu mobilisasi penduduk, Chica memutuskan membukanya di tengah kota. Jika tidak sempat datang, "kita punya library management system, di mana orang bisa melihat koleksi buku kita. Sampai sekarang bisa reserve buku, nanti kita bisa kirim. Jadi, Pustakalana berusaha memudahkan orang untuk bisa meminjam buku berkualitas. Jadi, nggak ada tuh alasan untuk tidak membaca buku. Kita tahu buku itu bukan barang primer, karena mahal 'kan? Misalnya harga buku dua ratus ribu, banyak orang yang memilih untuk beli baju atau makan 'kan?” ceritanya, penuh semangat.

Adakah kendala yang dihadapi?

“Dulu sempat aku mengalami kendala bahwa, wah... ternyata membuka perpustakaan di tengah kota, biayanya nggak sedikit!" ujarnya, terkesima. "Kita bisa dapat uang darimana untuk bisa dapat tempat yang affordable? Yang kita tahu, perpustakaan adalah usaha non-profit, 'kan? Akhirnya, cari-cari komunitas, bisakah kita ‘nebeng’ di sini, bisa bayar sekian atau rekening sharing dan segala macemnya. Ya udah, ketika dijalani masih ada banyak kendala, karena konsep perpustakaan sendiri langsung men-judge ‘oh iya perpustakaan, siapa yang mau ke sana,'" kenangnya. 

“Awalnya kalau nggak dapet tempat, aku berpikir ‘how to make it without...' tanpa kendala tempat. Jadi, misalnya harus pakai aplikasi, orang tinggal klik saja. Dikirim! Itu sempat jadi opsi aku," tuturnya.

Kendala ada. Duka? 

“Banyak banget, sampai berdarah-darah,” katanya, sambil menghela nafas. “Ya, meskipun banyak orang yang bilang kalau suka melakukan, dukanya itu tidak menjadi kendala. Memang benar, sih. Dukanya sih, lebih kepada omongan orang sih, kayak ‘buat apa sih buat perpustakaan. Siapa yang mau dateng’. Ketika Pustakalana mulai dikenal, juga menjadi masalah. Tempat yang kita ‘tebengin’ itu jadi tidak terlalu tidak berubah, padahal nama Pustakalana mulai naik. Dukanya ya, lebih ke persepsi orang ya, trus, mencari SDM yang mau menjalani Pustakalana. Selain itu, juga harus menjaga keseimbangan dengan keluarga, sih. Soalnya, anak pertamaku pernah marah ‘kenapa Ibu lebih peduli sama Pustakalana,'" ungkapnya.

Kendala, duka tidak hanya eksis di awal usaha, bahkan setelahnya. Chica pernah berpikir untuk menutup Pustakalana.

“Bulan Ramadhan kemarin, aku kehilangan orang yang aku sayangi banget, adik aku. Jadi, [saat itu adalah] di mana aku tidak mau melakukan apa pun, [dan berpikir] 'kayaknya gue nggak mau ngejalanin Pustakalana lagi, deh. Gue mau di rumah aja’. Sementara itu di waktu yang bersamaan, banyak sekali tawaran kerjasama yang masuk, tapi aku nggak mau ngejalaninnya. Saat aku shut down, ya Pustakalana akan shut down juga," Chica bercerita denagn serius. "Tapi akhirnya yang bisa membuat aku semangat lagi adalah dukungan komunitas. Karena mereka mengganggap Pustakalana bisa memberikan energi positif untuk semuanya. Semua harus dilakukan dengan hati, pokoknya,” simpulnya. 

Jika dikaitkan dengan buku, tipe buku apa yang paling sesuai dengan kepribadian Chica?

“Hmm, pertanyaannya bagus!” katanya. “Apa, ya?" ujarnya, terdiam sebentar. Lalu, "aku dari kecil selalu dikasih buku ensiklopedi, tapi aku taruh aja, soalnya aku lebih memilih komik," ujarnya, tertawa. "Mungkin, aku bakal jawab, picture book. Kenapa, ya? Karena aku berpikir membuat buku untuk anak itu susah. Aku suka visual literasinya. Karena dari gambar aja sudah banyak cerita, message yang bisa kita ambil. Di Indonesia sendiri jarang ada buku kayak gini,” tutupnya dengan nada agak prihatin. 

Selanjutnya: tips ini juga akan membantu meningkatkan dan mendapatkan pekerjaan impianmu.

 


MORE ARTICLES


POPULAR ARTICLES
MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR