Wednesday, 13 September 2017

Jovi Adhiguna: "Aku Nggak Ngerti Kenapa Seseorang Bisa Sangat Membenci Orang Lain di Sosial Media"

img detail
WOOP.ID

Vlogger Indonesia ini bercerita tentang "labelnya" dan rasa optimismenya. 

Jovi Adhiguna tertawa lebar saat mendengarkan permintaan maaf saya saat kami bertemu muka untuk pertama kalinya. "Kirain aku yang salah kirim, lho. Haha," ujarnya tertawa, memperlihatkan deretan rapi gigi putih, dua lesung pipit, dan matanya ikut berbinar geli. 

Putar ulang adegan 45 menit yang lalu. Bangga tiba tempat waktu yang sudah disepakati bersama, saya mengirim pesan kepada Jovi bahwa saya telah tiba dengan selamat dan menunggu instruksi lebih lanjut. Ini balasannya:

"Hahhhh? Plaza Indonesia? :((("

Ternyata saya salah baca, alhasil salah tempat. Malu dan merasa seperti orang bodoh sedunia? Melampaui lapisan mesosfer. Setelah meminta maaf dan berjanji akan secepatnya terbang ke sana, balasannya:

"Hahahahahah gak papa santaiii. Aku jam 7 ada acara lagi aja pokoknya." 

"Kabarin aja kalau udah sampe."

Akhirnya kami bertemu—sama sekali tidak sulit mencarinya di antara yang lain dengan tinggi badan 173 dan rambut gondrong—dan yah itu... Jovi menanggapi permintaan maaf saya dengan santai. Untuk seseorang yang sudah lumayan sering mewawancarai nama terkenal, tidak sulit untuk mengenali bahwa "kesantaiannya" itu murni. 

Selama hampir satu jam kami mengobrol, Jovi menjawab semua pertanyaan saya dengan santai, ekspresif, sambil sesekali merapikan rambutnya. Bahkan saat dia mengatakan bahwa dirinya sudah sejak lama suka anime, flamingo, dragon ball, dan mahluk mitologi seperti unicorn (di profil Instagramnya tertulis: content creator and part time unicorn) dan saya dengan idiotnya menyeletuk, "aneh juga ya, cowok suka unicorn."

"Kenapa aneh kalau cowok suka unicorn," tanyanya santai. "Ini seperti norma, kebiasaan yang selama ini ada di masyarakat. Misalnya, saat kita masih sekolah dulu, selalu diajarin kalau gambar gunung itu begini: dua gunung, ada jalanan, matahari di atasnya (sambil menggambarkannya di atas meja). Kalau nggak begitu, yah salah. Padahal 'kan, harusnya nggak papa kalau berbeda," tukasnya dengan serius. 

Sebagai seorang social media influencer dan vlogger, Jovi mulai dikenal massal beberapa tahun belakangan. Awalnya terlihat oleh publik secara tidak sengaja melihat sosoknya dari sebuah video adiknya, Sarah Ayu, seorang selebgram dan beauty vlogger—keduanya disebut sebagai the Hunter Siblings. “'Itu siapa? Kylie Jenner, ya?' kata orang-orang yang melihat sekelabat bayanganku waktu itu. Haha," kenang Jovi. "Saat itu rambut aku berwarna biru, dan sepanjang pantat," tukasnya sambil menunjukkan panjang rambutnya waktu itu dengan tangan kanan.

Sekarang rambutnya sepanjang dada dan berwarna cokelat dengan blonde highlight. Dari situ, Jovi dan sang adik membuat beberapa video, meskipun hal ini bukan sesuatu yang gampang karena, "Dulu aku juga sangat pemalu," katanya. "Udah deh, di balik layar aja," lanjut lulusan fashion design dari Telkom Bandung ini sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, "tapi setelah bikin video, tertanya banyak yang lihat dan relate sama aku. Ini membuat aku berpikir: 'jadi apa yang gue takuti dan tutupi selama ini ternyata bisa menjadi kekuatan gue, dan orang lain suka?'" ceritanya dengan nada terkejut dan tidak percaya. "Yah sudah, akhirnya aku teruskan sampai sekarang." 

Sampai sekarang, di Instagram Jovi memiliki 149 ribu pengikut (dan pasti akan terus bertambah) dan ada lebih dari 105 ribu subsciber di channel YouTube Jovi Adhiguna Hunter. Dan Jovi yang berbicara di depan saya hari itu tidak jauh berbeda dengan yang terlihat di video-videonya di media sosial: energetik, ekspresif, dan ceplas-ceplos. 

"Awalnya aku dan adekku berpikir membuat sebuah persona lain, tapi karena kita berdua memang nggak bakat bikin persona lain, akhirnya yang terlihat di video-video, di sosial media itulah diriku yang sebenarnya," jawab Jovi. 

Menerima dirinya yang sebenarnya, yang menurutnya "eksentrik sejak kecil", bukan perjalanan yang gampang. Ada suatu masa dalam hidupnya karena ingin menyenangkan orang lain, Jovi memutuskan mengubah dirinya. "Namun, sama sekali nggak enak, sehingga akhirnya aku go back to being me. Dan itu tidak ada salahnya. Sama sekali tidak salah." 

Sehabis SMA bersama dengan ibunya, bahkan Jovi pernah mengunjungi seorang psikiater untuk mencari tahu "siapa sebenarnya dirinya." "Aku diberi tahu sama psikiater bahwa memang ada orang yang kromosom X-nya lebih dominan, atau Y-nya yang lebih dominan. Nah, aku cowok tapi kromosom Y-nya lebih dominan."

Apa responnya setelah mendengarkan penjelasan itu? "Cuma bilang 'oh,'" jawab pria yang sudah berusia 27 ini, tertawa, dan merapikan rambutnya. Orangtua dan keluarganya sendiri dari awal menerima diri Jovi apa adanya. "Mungkin karena latar belakang keluargaku nggak hanya dari Indonesia aja kali ya, kita dari berbagai negara, jadi referensi kita dari berbagai negara dan lebih terbuka," ujar laki-laki blasteran Belanda dan Cina ini. 

Namun siapa sebenarnya dirinya? Dari sisi label gender binary siapa sebenarnya Jovi Adhiguna?

"Kalau aku sih, bilang diri aku androgini," katanya dengan tegas, tanpa ragu. Meski sebenarnya, Jovi mengaku tidak terlalu suka untuk dikategorikan, "tapi 'kan orang, agar bisa mengerti akhirnya mengategorikan, ‘oh ini tuh, ini, itu itu apa'. Kalau aku sih, kalau ditanya siapa aku, yah itu tadi androgini."

Menyebut dirinya androgini, karena menurut Jovi memang suka memakai baju perempuan, tapi tidak selalu memakainya tiap hari. Kesukaannya ini dilakukannya sejak SMA. "Ini aja nih, (katanya mengarahkan tangannya ke outfit-nya hari itu), blazernya perempuan, celananya ini celana laki-laki. Semuanya tergantung kondisi juga. Lagian kenapa sih, kalau cewek bisa pakai baju cowok dan nggak papa, tapi giliran cowok pakai baju cewek, dibilang banci, bencong, cewek jadi-jadian?" Jovi berargumen. 

Jovi meraih tas tangannya dan mengeluarkan KTP, lalu menunjukkan jenis kelamin yang tertulis di dalamnya: laki-laki. 

"Kalau aku sih, dari diri aku, aku sama sekali tidak berencana atau berusaha mengganti gender aku sama sekali. Aku terlalu bro untuk menjadi sis. Itu kasarnya. Haha," katanya dengan suara beratnya. "Even bentuk aku seperti ini," katanya mengibaskan tangannya dari atas rambut ke kaki, "aku sama sekali tidak ada keinginan untuk ganti kelamin, atau apapun, sama sekali nggak ada. Dan itu biasanya orang menyebutnya androgini, karena I can look feminine, I can look masculine at the same time juga, tapi nggak selalu feminin." 

Dari mulai suara sampai otot lengannya menurutnya terlalu maskulin untuk berganti gender. "Kalau memang dari dulu niatnya seperti itu, aku sudah pasti suntik-suntikan nih, untuk mengecilkan otot-otot ini," katanya sambil memamerkan lengannya yang berotot (berkat rajin olahraga), di balik blazernya yang berwarna millennial pink

"Beberapa orang sih, mencoba menerka-nerka apakah aku transeksual atau transgender, tapi kalau mereka ngikutin aku dari awal, mereka pasti mengerti aku seperti apa, karena di channel aku bikin kehidupan sehari-hari aku kayak apa, jadi makanya suka dibedakan sama yang lain, ‘Oh Jovi beda sama yang ini, oh Jovi beda sama yang itu'. 

"Setahu aku tuh, transgender itu cewek yang merasa trap di badan cowok atau cowok yang merasa trap di badan cewek. Dan karena itu, mereka melakukan sesuatu dengan itu," paparnya.

Kalau kamu melakukan apa?

"Kalau aku, sih, nggak ada. Duduk aja diam, begini. Haha,” katanya sambil memperlihatkan gaya duduknya. Jika mau dilabelkan maka disebut manspreading: gaya duduk tipikal pria dengan kedua kaki terbuka lebar. 

Di sebuah video berjudul Story Time with Jovi: Hatred di saluran YouTube-nyaJovi membacakan beberapa komentar pedas dan "terkadang ofensif", salah satunya menyebutkan bahwa imejnya di media sosial merupakan "buatan agar terlihat kekini-kinian."

"Aku memang terlahir seperti ini. Ini juga bukan sesuatu yang bisa ditularkan. Aku sentuh kamu," katanya sambil menyentuh lengan saya dengan pelan, "kamu akan tertular. Bukan seperti itu. Sometimes you born udah kayak begitu."

Dan sejak menjadi seorang influencer, banyak orang yang menjangkau Jovi. Salah satunya, seorang anak kecil. "Dia nge-reach aku dan bilang: 'Kak, aku baru umur 11 tahun, aku di sini ketua bolanya SD aku'—kalau nggak salah waktu itu dia bilang. 'Tapi kak, aku nggak pernah ngerasa aku cowok?’ Itu anak SD bisa ngomong begitu, lho. Seberapa tidak pantasnya kalau kita ngomong bahwa sesuatu seperti itu salah. Ngerti ‘kan maksud aku?" katanya dengan serius.

"Kita tuh, sebagai manusia harus banyak toleransi, harus terbuka pikiran kita terhadap hal-hal yang kejadian sekarang, bukannya malah dimusuhin. Aku aja orang yang aneh begini bisa bingung, ‘busyet, anak kecil bisa ngomong 'gue cewek dalamnya’, padahal dia anak bola. Cowok yang bro banget. Aku sendiri sampe kaget. Itu anak kecil, umur 11 tahun. Aku nggak tahu apa-apa pas umur 11 tahun, masih main karet, belum tahu hal-hal seperti itu. Yes, I know a little thing about sex, dan lain-lain. Tapi aku tuh, nggak pernah mikir ‘oh, aku dalamnya cewek’. Ngerti 'kan maksud aku," ujarnya dengan intonasi urgensi. 

Apa responnya terhadap anak itu?

"Aku respon dia dan bilang: 'everything is gonna be ok. Sekarang, everything seems blurry karena waktu kecil pun aku belum tahu diri aku seperti apa, semua orang tuh, kayak against me, belum bisa nerima apa-apa, tapi eventually things get better,"  ceritanya. "Aku juga bilang sama dia," lanjutnya, "'kamu stay true to yourself.' Aku selalu ngomong begitu."

'Menjadi diri sendiri' seperti sebuah mantra bagi Jovi. Saya bertanya seberapa penting hal itu bagi dirinya.

Emang enak jadi orang lain?” tanyanya balik. "Misalkan," katanya dengan nada serius, "ada banyak yang menghubungi dirinya sendiri. Dia muda, dan menikah dengan perempuan. Dan setelah menikah, dia balik lagi sama cowok. Ada berapa banyak orang yang disakitinya karena keputusannya itu? Istrinya, keluarganya, keluarga istrinya, mungkin pacarnya.

It takes time pasti untuk berani menjadi diri sendiri. Namun, in the end of the day, itu yang paling penting. Aku selalu bilang sama orang yang me-reach aku untuk don’t worry, you will be fine." 

Diakui olehnya, meski sekarang nyaman dan bahagia dengan dirinya, ada masa-masa dimana Jovi merasa sakit hati dan merasa insecure saat dilirik dan dipelototin orang. Panggilan seperti "banci", "bencong", "gay", "mahluk jadi-jadian" sudah biasa di telinganya. Namun tetap saja, "Aku sebenarnya nggak ngerti sih, kenapa seseorang bisa sangat membenci orang lain, mem-bully seseorang di social media. Words do hurt. Bahkan ada yang sampai bunuh diri, 'kan?" katanya dengan nada heran. 

"Contohnya, apa yang terjadi dengan Mulan Jameela. Itu kejadiannya kapan, tapi orang lain sakit hatinya sampai sekarang. Aku tidak membenarkan perselingkuhan atau apapun. Tapi 'kan, ada yang sampai bawa anak-anak mereka segala. Padahal, anak-anak itu 'kan nggak ada salahnya, mereka brojol nggak ada dosanya. Kenapa sih, kita harus seperti itu?" tanyanya. Saya menjawab bahwa itu juga masih menjadi misteri dalam hidup saya. 

Sadar betapa bully di media sosial semakin marak, saat dipilih menjadi salah satu content creator (jumlah total 30 orang) oleh YouTube Creators of Change, Jovi berencana membuat dua video. "Sebenarnya cuma diminta satu, tapi karena aku memang peduli dengan bully di social media, jadi aku mau buat dua, tentang confidence dan bully," bocornya. Videonya sendiri masih dalam tahap pembuatan dan akan dirilis sebelum tahun ini berakhir.  

Namun menurutnya sendiri apakah ada perubahan di Indonesia tentang androgini, transeksual, transgender, gay, dan berbagai label lainnya? Misalnya, jika dibandingkan 10 tahun yang lalu?

"Menurut aku sekarang kita makin toleran. Ini bisa dilihat dari semakin banyak orang yang membuka jati diri mereka yang sebenarnya. Kenapa mereka melakukan itu, yah pasti karena merasa sudah bisa diterima oleh sekitarnya, orang-orang terdekatnya. Aku optimis bahwa kita will get bettter, tapi memang masih jauh, tapi at least sudah berubah ke arah yang lebih baik," ujarnya dengan penuh keyakinan. 

Ponsel Jovi bergetar. Sebuah notifikasi masuk dan dia menunjukkannya kepada saya. Seseorang memberikan komentar di salah satu akunnya, begini kalimatnya: 'dari penampakannya sih, kayaknya banci, ya?'

Jovi tersenyum kecil. "Aku sih, biasanya, sekarang kalau membaca yang begini, cuma akan mengibaskan rambut aja," katanya sambil mengibaskan rambut panjangnya ala model iklan sampo. "Inilah untungnya punya rambut gondrong. Haha," ucapnya dengan santai dan mata berbinar geli. 

 

 


MORE ARTICLES


MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR