Tuesday, 09 October 2018

Kenapa Sih, Kamu Selalu Ingin Mengecek Ponsel Pasanganmu?

img detail
ISTOCK

Benarkah hanya "iseng"?

Kalau boleh jujur, terkadang godaan membuka ponsel pasangan jauuuh melebihi godaan .... (isi sendiri). Misalnya, godaan menahan diri minum lebih dari empat gelas kopi satu hari, atau berkomentar tentang seorang kakek dan nenek (pasti kamu tahu siapa)dua tantangan itu ibarat startup dan Google-nya berupa godaan mengintip handphone pasangan. Minion vs Venom. Padahal kita tahu: curiosity killed the cat. Jadi, sebenarnya dalam aturan sebuah hubungan, lumrahkah pasangan berhasrat melihat/mengecek ponsel pihak lain? 

Menurut Sri Juwita Kusumawardhani., M.Psi., Psikolog., seorang psikolog klinis dewasa, dari LPTUI dan TigaGenerasi yang juga pendiri dari Cinta Setara, ada beberapa hal yang dapat menjadi alasan mengapa kita terdorong mengecek ponsel pasangan. Kata kunci: ow-ow. 

  1. Adanya isu kepercayaan. "Kita merasa ada yang disembunyikan oleh pasangan, kita tidak cukup percaya dengan apa yang ditunjukkan dan dikatakan oleh pasangan secara langsung kepada kita."

  2. Masalah komunikasi yang buruk. "Kita dan pasangan sulit terbuka satu sama lain. Kita merasa perlu memahami pasangan melalui cara berkomunikasinya dengan orang lain."

  3. Ada kecurigaan bahwa pasangan selingkuh. "Kita merasa perilakunya berubah atau tidak seperti biasanya sehingga kita ingin memastikan apakah ada orang ketiga di dalam hubungan."

Sekali lagi: ow-ow (ala Teletubbies). 

“Nah, jika dilihat dari beberapa alasan di atas, tentunya keinginan untuk mengecek ponsel pasangan adalah salah satu tanda hubungan yang tidak sehat. Jika memang ada yang dicuriga atau kurang sreg terhadap pasangan, mengapa tidak kita coba untuk ditanyakan saja secara langsung,” sarannya. 

Masih ingat 'kan pepatah: malu bertanya, hubungannya tidak jalan-jalan? Atau kamu memang pemalu, atau cenderung ingin menghindari konflik, sehingga butuh kisi-kisi bagaimana membuka percakapan tentang ponsel dan privasi kepada pasangan? 

“Untuk aturan, tentunya setiap pasangan memiliki kesepakatan masing-masing terkait hal ini. Ada pasangan yang benar-benar menjaga privacy masing-masing hingga tidak berbagi kode atau password ponsel, email atau media sosial. Ada juga pasangan yang berbagi kode hanya untuk berjaga-jaga jika ada keadaan darurat dan tetap tidak membuka privacy pasangan di belakangnya. Ada juga yang saling membuka isi ponsel atau media sosial di depan pasangan,” lanjutnya. Sebenarnya, “apa pun kesepakatannya, pastikan ini adalah hal yang disetujui oleh kedua belah pihak dan dilandasi oleh rasa percaya satu sama lain dan keinginan untuk menjaga komitmen serta kepercayaan pasangan.”

Di dalam tulisan ini terdengar mudah, tapi pada kenyataannya jauuuh lebih sulit dibandingkan menahan godaan karbo padahal minggu depan adalah pesta pernikahanmu dan ada ancaman ukuran gaun pengantin sepertinya tidak muat. Tahan diri, teman! 

Lalu, bagaimana jika si pasangan mengecek ponselmu diam-diam (dan karena bakat detektifmu, kamu akhirnya tahu)? Atau pasanganmu sering memaksa untuk mengecek ponselmu. 

“Untuk situasi yang pertama (pasangan mengecek ponsel diam-diam), sebaiknya jaga diri untuk tetap tenang dalam menghadapi pasangan. Pastikan kita tidak menghardik atau mengagetkannya. Lalu, jika dia sudah selesai, maka kita bisa tanyakan baik-baik apa yang membuat ia melakukan hal tadi. Apakah ada yang membuatnya merasa tidak tenang atau tidak nyaman? Tawarkan keterbukaan kepada pasangan,” terang Wita.

“Untuk situasi yang kedua, tidak jauh berbeda sebenarnya. Kita tetap harus tenang dan tawarkan keterbukaan cerita tanpa harus memperlihatkan isi ponsel kita. Yang jadi highlight adalah mengapa pasanganmu memaksa hal ini? Apakah ini terjadi lebih dari sekali? Apakah ini salah satu dari bentuk paksaan yang lain? Ini adalah tanda pasanganmu telah melakukan kekerasan emosional, karena memaksakan keinginannya kepadamu,” sambungnya.

Siapa sangka jika tertanya ponsel bisa menjadi cermin dari hubunganmu!

Martha Stewart mungkin akan mampu menahan diri tidak mengecek ponsel pasangannya, tapi bagaimana jika karaktermu mirip Hulk?

Ajukan pertanyaan, saran Wita. "Tanyakan kepada diri sendiri, apa yang membuat kamu sulit untuk mempercayai pasanganmu? Apa yang membuatmu sulit untuk berkomunikasi terbuka dengan pasanganmu? Jika memang pernah mengalami trauma (misalnya pernah diselingkuhi), sebaiknya lakukan usaha untuk menyembuhkan dirimu. Kamu dapat membaca buku-buku untuk memperbaiki trust issue atau mencoba untuk konseling kepada seorang psikolog," ujarnya. 

“Ini bukan masalah ada apa-apa atau tidak ada apa-apa di dalam ponsel," Wita menekankan. "Ini masalah komunikasi yang terbuka dan kepercayaan. Seharusnya, kita tetap dapat menjalani hubungan dengan tenang meskipun tidak mengecek ponsel pasangan kita. Kalaupun memang kesepakatan kedua belah pihak untuk saling membuka ponsel masing-masing memang bukan karena ada isu kepercayaan, tentunya itu dikembalikan kepada keputusan pasangan,” tegasnya. 

Selanjutnya: butuh pengalihan dari keinginan mengecek handphone pasangan? Lakukan saja ini, manfaatnya lebih banyak dan positif. 


MORE ARTICLES


POPULAR ARTICLES
MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR