Thursday, 08 November 2018

Pertanyaan Paling Penting Hari Ini: Apa Itu Vaginismus?

img detail
ISTOCK

Jika kamu hanya punya 10 menit untuk baca hari ini, artikel ini harus menjadi prioritas. 

Coba ketik "vaginismus" di Google, maka penjelasan yang keluar adalah sebuah kondisi dimana vagina tidak bisa menerima penetrasi saat berhubungan seksual. Membacanya mungkin membuat merinding atau langsung merapatkan paha—tidak apa-apa—tapi yang paling penting adalah kamu membaca ini sampai titik terakhir. 

“Vaginismus adalah sebuah penyakit. Bukan keadaan kurang rileks,” jawab dr. Robbi Asri Wicaksono., SpOG., dari Rumah Sakit Ibu & Anak Limijati, Bandung dengan tegas. Lanjutnya, “menurut panduan penggolongan penyakit yang dikeluarkan oleh WHO (World Health Organization) yaitu ICD-10 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems, edisi 10) vaginismus digolongkan sebagai penyakit pada sistem organ reproduksi (tepatnya vagina) berupa otot dinding vagina yang tidak dapat dikendalikan oleh penderitanya, sehingga mengakibatkan kendala maupun kegagalan penetrasi vagina.”

Dokter Robbi menjelaskan bahwa bentuk penetrasi bermacam-macam, dan secara umum dibagi menjadi dua yaitu seksual (penis) dan non-seksual (tampon, jari, pemeriksaan medis melalui vagina). 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, gejala utama yang akan dialami oleh penderita vaginismus adalah kendala dalam penetrasi vagina. "Vagina yang normal dapat mengalami penetrasi kapan saja, dalam bentuk apa pun, dalam situasi apa pun dengan lancar begitu saja," lanjut Dokter Robbi. Jika seorang perempuan (misalnya kamu) tidak mengalami itu, maka besar kemungkinan mengalami vaginismus. Vaginismus sendiri memiliki beberapa level, dari yang terendah level 1 sampai level 5. 

“Spektrum vaginismus bisa berupa rasa tidak nyaman terus menerus saat penetrasi, rasa nyeri, penetrasi sangat sulit untuk dilakukan, hingga tidak bisa terjadi penetrasi sama sekali. Fenomena paling umum adalah setelah menikah/aktif secara seksual, penis tetap tidak bisa masuk ke vagina, walaupun sudah dalam keadaan terangsang secara seksual, atau tidak berhasil dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan dokter kandungan yang prosesnya melalui vagina,” sambungnya. Perempuan yang memiliki vaginismus menggambarkan rasa sakitnya seperti dirobek-robek atau dipukul dengan benda keras. 

Membaca penjelasan ini, kemungkinan membuatmu penasaran apa yang menyebabkan kondisi tersebut. Sayangnya, masih misteri. “Hingga saat ini penyebab vaginismus adalah idiopatik atau tidak diketahui. Sekali lagi, vaginismus bukan disebabkan oleh keadaan kurang rileks, ya," tekannya. 

Ada anggapan bahwa vaginismus berhubungan dengan rasa cemas berlebih dan takut berhubungan seks. Meskipun belum ada penjelasan final, resmi dan jelas mana yang timbul terlebih dahulu, vaginismus atau rasa cemas.

Webmd menjelaskan bahwa beberapa perempuan mengalami vaginismus pada segala situasi dan dengan objek apa pun. Sementara yang lainnnya hanya merasakannya pada situasi tertentu, misalnya cuma saat berhubungan dengan satu pasangan tapi tidak dengan yang lain, atau hanya saat berhubungan seksual tapi tidak saat memasukkan tampon atau selama pemeriksaan kesehatan. 

Semua perempuan memiliki vagina. Jika begitu apakah semua orang yang berjenis kelamin perempuan bisa mengalami kondisi ini?  “Vaginismus bisa mengenai siapa saja, tanpa melihat latar belakang usia, pendidikan, sosio-ekonomi, maupun pengetahuan,” ujarnya.

Di tahap ini kamu mungkin makin serius dan bertanya-tanya sekiranya adakah cara untuk mengobatinya—atau mencegahnya? 

“Karena vaginismus hingga kini belum diketahui penyebab pastinya, maka medis tidak punya upaya pencegahan untuk menghindarinya. Penanganan vaginismus pada prinsipnya adalah dengan melakukan latihan dilatasi. (Dilatasi adalah sebuah kegiatan penetrasi buatan, menggunakan jari maupun alat bantu berupa dilator). Namun, karena level keparahan berbeda-beda pada setiap penderita, maka akan ada penderita yang bisa begitu saja melakukan latihan dilatasi mandiri dengan jari. Akan tetapi jika penetrasi penis belum bisa terjadi, tersedia sebuah prosedur medis yang dinamakan prosedur dilatasi berbantu yang membuat pasien bisa langsung melakukan latihan dilatasi mandiri dengan menggunakan dilator berukuran terbesar, tanpa nyeri, tanpa takut dan tanpa paksa. Setelah itu, pasien bisa melakukan latihan dilatasi yang optimal, efektif, dan efisien, sehingga pada akhirnya akan juga bisa mengalami segala bentuk penetrasi dengan lancar dan nyaman, termasuk penetrasi penis pada hubungan seksual,” papar Dokter Robbi.  

Namun perlu diingat bahwa masalah medis lain seperti infeksi juga bisa menyebabkan nyeri saat berhubungan seks. Oleh karenanya sangat penting untuk konsultasi kepada dokter untuk memastikan penyebab sakit selama berhubungan seks. 

Selanjutnya: Ini yang terjadi jika level estrogen pada perempuan naik—dan cara menormalkannya. 

 


MORE ARTICLES


POPULAR ARTICLES
MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR