Thursday, 10 January 2019

Saat Kita Sudah Merasa 'Cukup' Dengan Hubungan Ini. Apakah Memang Harus Berhenti?

img detail
ISTOCK

Jangan sampai ada penyesalan. 

Tidak selamanya cinta itu indah. Adakalanya, kita merasakan bosan dan lelah dalam setiap perjalanannya. Karena tidak ada perubahan yang berarti, kita seakan ingin menyelesaikannya saja dan mengatakan: “cukup!”. Saat kita sudah merasakan seperti itu, perlukah berhenti?

“Pasang surut dalam jalinan hubungan dapat terjadi baik dalam hubungan keluarga, pertemanan, maupun hubungan romantis,” ujar seorang psikolog klinis dewasa, Irene Raflesia, S. Psi, M. Psi., dari Klinik Pelangi, Cibubur. Namun, “selama kita bekerja keras dalam mempertahankan hubungan, suatu saat hubungan tersebut akan berhasil. Setidaknya pikiran itu yang mendorong kita untuk mencoba memberikan segalanya untuk mempertahankan suatu hubungan. Terkadang, kita telah berusaha sekuat tenaga tanpa hasil yang berarti,” lanjutnya.

Menyerah bukan berarti kalah. Setiap manusia mempunyai batas kesabaran yang harus dimengerti oleh manusia lainnya.

“Memutuskan untuk menyerah dalam mempertahankan hubungan adalah suatu keputusan yang besar dan pelik. Bisa jadi kita merasa kita masih mampu bertahan sehingga tak mau meninggalkan hubungan. Kita terkadang berpikir untuk meninggalkan hubungan namun merasa tak sampai hati untuk melakukannya,” katanya.

Lalu, kapan 'cukup' itu berarti cukup?

Menurut Irene, pada dasarnya, setiap orang memiliki batas kemampuan yang berbeda dan tak satupun yang mengetahui kapan sudah merasa cukup untuk berusaha atau tidak. "Dan juga, tidak ada satu resep jitu yang dapat menjawab seluruh permasalahan dalam hubungan. Bahkan, di dunia ini tidak mengenal istilah ‘keputusan yang benar’. Keputusan ini sifatnya selalu relatif dan tergantung konteks masalah yang terjadi. Ketika kita sudah memutuskan, kitalah yang berusaha untuk membuat keputusan ini menjadi benar bagi diri kita sendiri,” ucap Irene.

Yep. Betul. Kebanyakan dari kita sering mengambil keputusan yang tidak tepat, tergesa-gesa, penuh dengan emosi. Sehingga, menyesal dikemudian hari. Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan untuk bertahan atau mengakhiri hubungan, ada baiknya kita mempertimbangkan hal-hal berikut:

  • Mengetahui dimana posisi kita seharusnya berada

Apakah kita merasa aman dalam hubungan? Dapatkah kita mempercayai pasangan kita? Apakah harapan kita terhadap hubungan ini realistis? Sudahkah kita bahagia? Pertanyaan-pertanyaan ini juga perlu kita refleksikan untuk mengetahui di mana posisi yang kita harapkan. Jelas jika hubungan melibatkan kekerasan baik itu fisik, psikologis, maupun verbal. Hal ini berarti kita tidak aman dan hubungan ini harus berakhir. Pertimbangkan apa yang kita harapkan dapat terjadi bukan sementara saja tetapi secara jangka panjang.

  • Memastikan orang-orang yang mencintai kita ada di sekitar kita

Dukungan dari orang sekitar kita penting bagi kita untuk menghadapi situasi ini. Ketika kita merasa emosional, kita sulit untuk membuat keputusan sehingga peran orang terdekat akan membantu kita melihat masalah dari sudut pandang berbeda. Walau demikian, keputusan tetap menjadi tanggung jawab kita sehingga kita pun perlu membuat batasan antara opini kita dan orang lain. Tentu saja kita pula yang bertanggung jawab atas keputusan yang kita ambil sendiri.

  • Mempertimbangkan apakah hubungan ini baik atau buruk bagi kita

Kita mungkin sulit mendeteksi jika hubungan yang terjadi tergolong sehat atau tidak sehat. Bagaimanapun cinta tak selamanya cukup untuk membangun suatu hubungan. Hal ini juga terkait dengan harapan kita terhadap hubungan ini secara jangka panjang.

Ah, terima kasih! Meskipun tak semua hubungan dapat berakhir bahagia. Kamu harus tetap bertahan dan menjalankan hidup dengan baik dan bahagia. Namun, Jika memang kamu masih bingung untuk mengambil keputusan yang tepat, “kamu bisa berkonsultasi ke tenaga psikolog. Konsultasi memungkinkan kamu melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Ketika kamu sudah berusaha bertahan sekuat tenaga dan merasa tidak ada pilihan lain,” jelasnya. 

Adapun hal yang harus dipertimbangkan oleh kamu sebelum mengatakan 'cukup' dan ingin menyerah dengan hubungan ini:

  • Mengetahui alasan mengapa kita ingin menyerah

Apapun yang terjadi, memahami masalah yang dihadapi dapat membantu kita membuat keputusan yang lebih baik bagi diri kita. Setidaknya ini membantu kita mendapatkan pemahaman tentang diri kita sendiri. Tanyakanlah beberapa pertanyaan berikut pada diri kita: jika ada yang dapat diubah apa yang dapat kita lakukan? Sejauh mana kita berperan dalam hilangnya harapan kita akan hubungan ini?

  • Memberi tahu pasangan mengapa kita tak ingin mempertahankan hubungan

Terkadang kita berpikir bagaimana mungkin pasangan tidak memahami apa yang kita rasakan?  Kenyataannya, pasangan tidak selalu dapat melihat dari sudut pandang yang sama dengan kita, terlebih jika kita tidak pernah membicarakan hal tersebut secara jelas. Komunikasi selalu menjadi kunci dan terkadang melalui komunikasilah pasangan jadi memahami beban permasalahan yang dihadapi dalam hubungan. Komunikasi dengan pasangan tentang mengapa Anda berpikir hubungan ini tak berjalan disarankan selama interaksi dan diskusi ini tidak membuat Anda berada dalam situasi yang berbahaya (memicu kekerasan).

Irene berpendapat bahwa setiap hubungan yang terjadi melibatkan respek. “Respek tercermin dari bagaimana cara kita/pasangan memperlakukan pasangan kita sehari-hari. Respek berarti bebas menjadi diri sendiri dan dicintai apa adanya, bukan karena kondisi tertentu. Kebanyakan orang memulai hubungan dengan cinta yang diyakini dapat membuat mereka bertahan dalam keadaan sesulit apapun. Namun sayangnya, usaha kita tak selalu cukup tatkala kita menghadapi situasi yang melibatkan kekerasan, sakit hati, perselingkuhan, pertentangan nilai. Inilah yang membuat cinta saja tak cukup untuk membuat hubungan bertahan. Respek terhadap diri sendiri dan pasangan dibutuhkan untuk mempertahankan hubungan yang sehat,” pungkasnya. 

Selanjutnya: saat banyak yang bertanya "kenapa kamu belum memiliki anak?", kamu bisa menjawabnya dengan tenang.


MORE ARTICLES


MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR