Tuesday, 30 October 2018

Sekilas Hal Ini Terkesan Egois—Tapi Sebenarnya, Tidak

img detail
ISTOCK

Tidak perlu merasa bersalah. 

Menggigiti Toblerone menyenangkan, tapi jika digigiti rasa bersalah karena misalnya kamu, hm... ingin mengatakan "tidak" pada ajakan teman dan memilih untuk tidur-tiduran di rumah—satu kardus Toblerone pun mungkin akan sulit meredakannya. Apakah aku egois? Itu tanya hati dan otakmu dengan panik dan keringat dingin, hingga sulit tidur. Nuh-uh, kamu tidak egois—dan bukan hanya kata Woop, tapi sains menyimpulkannya. 

1. MENUNDA MEMBALAS EMAIL 

Meski tanda "unread", dan setiap kali melihat warna masih hitam legam pada tulisan subjek dan pengirim email membuat kerongkonganmu kering dan hati kosong, membiarkannya tidak terjamah dalam waktu tertentu tidak ada salahnya. Sebuah penelitian dari University of British Columbia menemukan bahwa saat kamu mengabaikan email dengan sengaja (jika kondisinya memungkinkan) memberikan manfaat psikologis yang besar seperti mengurangi tensi dan stres sehari-hari. 

2. MENGATAKAN "TIDAK" ATAU BAHKAN MEMBATALKAN JANJI 

Hanya orang yang sudah ahli (berkat praktik bertahun-tahun) yang bisa mengatakan "tidak"—atau membatalkan janji—dengan lancar. Kebanyakan kita masih jungkir balik dan hati salto dulu untuk mengucapkan satu kata itu. Seharusnya sih, tidak perlu. Penelitian mengatakan bahwa mencetuskan "tidak" kepada hal-hal yang bisa mendistraksi atau kegiatan sepulang kantor bisa membantumu mencapai tujuan hidup lebih cepat dan juga membuatmu memiliki waktu untuk memulihkan diri. Untuk itu, kamu memang perlu tahu strateginya. Studi ini menyarankan: alih-alih mengatakan "aku tidak bisa", katakan "aku tidak." Misalnya, "saya tidak nongkrong pada hari kerja," bukan, "saya tidak bisa nongkrong." Kalimat pertama mengindikasikan bahwa kamu memegang kendali penuh atas hidupmu, sementara kalimat kedua menandakan kamu akan melakukan sesuatu karena terpaksa. 

3. MELEWATKAN PERMINTAAN MAAF 

Faktanya, seandainya kamu belum tahu: para perempuan lebih sering meminta maaf dibandingkan laki-laki, sering kali dikarenakan perempuan menganggap ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuat orang lain sakit hati. Peneliti lain menjelaskan bahwa permintaan maaf bisa menjadi "satu cara untuk berkomunikasi, cara mengisi keheningan dan menjaga perdamaian ketika berinteraksi dengan orang lain." Intinya, terkadang perempuan meminta maaf hanya karena basa-basi, bukan dari hati. Jadi, bukan bermaksud menjadi b**ch, tapi kamu memang tidak perlu meminta maaf, kecuali memang sudah melakukan sebuah kesalahan. 

Selanjutnya: Kamu juga tidak perlu merasa bersalah saat tidur lagi dengan mantan—well, paling tidak menurut penelitian ini

 

 


MORE ARTICLES


POPULAR ARTICLES
MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR