Thursday, 01 November 2018

Yep, Olahraga Itu Penting Tapi Saya Malas dan Bosan—Bagaimana, ya?

img detail
ISTOCK

Karena terkadang kita menjadi mahluk paling malas sedunia.

Simpan ini sampai tiba saat membuat revolusi tahun baru—atau, lebih baik lagi, coba dari sekarang. Uh-uh, kita sedang membicarakan kepelikan tingkat dewa: bagaimana cara suka dan rajin berolahraga. 

“Olahraga sangat penting!” kata Andri Suyoko, S.Pd., M.Kes., seorang profesional personal dan group trainer, Certified Fitness Trainer APKI, guru dan dosen tamu di beberapa universitas swasta di Surabaya kepada Woop. “Karena dengan berolahraga dengan benar dan konsisten, di samping dapat meningkatkan tingkat kebugaran yang membuat kita lebih produktif dalam bekerja, olahraga dapat juga memperbaiki komposisi tubuh kita dan mencegah dari penyakit degeneratif, seperti diabetes militus tipe 2, OA (Osteoarthritis), Osteoporosis dan penyakit jantung koroner,” lanjutnya.

Beberapa dari kita mungkin sudah tahu fakta itu—dan sisanya butuh diingatkan. You're welcome

Masalahnya adalah mengapa banyak orang (termasuk kamu dan saya) sulit mendorong diri untuk olahraga? Spektrum yang lebih ekstrim: tidak menyukainya, karena membutuhkan banyak usaha. Argh! 

“Banyak faktor yang dapat mempengaruhinya,” ujarnya. Coba cek, apakah alasan di bawah ini sesuai dengan kondisimu: 

  1. Manfaat olahraga masih belum terpatri di hati dan pikiran. Coba, usahakan lebih sering membaca artikel ilmiah tentang manfaat olahraga, karena secara tidak langsung kita akan mulai terpikat untuk melakukannya. Misalnya, ini dan ini

  2. Memilih metode olahraga yang kurang tepat sehingga badan rasanya mau rontok, tapi hasilnya nol. Alhasil, kapok. "Jika kita paham dengan metode latihan yang baik, benar dan terprogram, kita pasti bisa mencapai hasil yang diinginkan dengan realistis sesuai kebutuhannya."

  3. Padatnya aktivitas pekerjaan yang menguras tenaga dan waktu untuk olahraga. (Siapa yang sempat olahraga jika pekerjaan di rumah dan kantor bagaikan upaya memadamkan api di hutan di musim kemarau?). Oleh karenanya, Andri menyarankan untuk memulai olahraga dengan intensitas ringan, seperti jogging pelan selama 10 sampai 15 menit. "Dengan konsisten dan perlahan ditingkatkan akan meningkatkan kebugaran sehingga kita tidak merasa kekurangan tenaga untuk berolahraga, bahkan akan meningkatkan produktivitas kita dalam bekerja."

  4. Tidak ada partner atau support system untuk berolahraga. Cari teman, tanya teman kantor, teman nongkrong yang juga sedang ingin mencoba hidup lebih sehat dan bertekad berolahraga. "Dengan mencari teman yang sama-sama punya hobi olahraga akan membuat kita lebih semangat berolahraga." 

Di atas kertas memang lebih gampang, kenyataannya... hanya kamu yang tahu. 

“Pertama, kita harus memahami dulu manfaat olahraga dan risiko jika tidak berolahraga. Sebagai contoh, jika kita sakit seperti diabetes militus tipe 2, osteoporis dan penyakit jantung koroner pasti kita akan lebih menderita karena pengeluaran membengkak untuk berobat, belum lagi tidak boleh makan makanan tertentu dan tergantung pada obat untuk kelangsungan hidupnya. Ini tentunya akan menjadi beban bagi keluarga dan orang sekitar kita," Andri mengingatkan. "Jadi, tanamkan mindset bahwa olahraga adalah investasi jangka panjang yang sangat murah dan mudah dilakukan, sehingga kita akan terhindar dari risiko yang kemungkinan akan terjadi jika kita tidak rutin berolahraga,” ungkapnya.

Bukan hanya malas, sialnya kita (namanya manusia) juga sering cepat bosan. Baru satu kali dilakukan, lalu dua, eh... malas dan bosan. Konsistensi itu seperti sebuah goals yang hanya terlihat mudah dituliskan di Instagram lengkap dengan tanda #. 

Menurut Andri, untuk itu kita harus tahu apa yang membuat jemu berolahraga. Apakah karena (pilih satu atau lebih jawaban yang benar): 

A) Metode latihan yang menoton?

Jika ini jawabanmu: cobalah metode latihan baru sehingga membuatmu semangat berolahraga. Contoh: biasanya hanya jogging di treadmill, coba lakukan interval jogging di outdoor (taman, dsb) dan kombinasikan dengan body weight training (push up, squat). Atau, latihan beban dengan menggunakan barbel dan mesin di gym. Atau, beralih menggunakan suspension training, sandbag, medicine ball dan lainnya.

B) Olahraga solo (tanpa teman)? 

Jika ini jawabanmu: cobalah untuk mencari teman (misalnya pacar, teman, anak) yang bisa dijadikan sparring partner sehingga akan saling menyemangati. Atau, bergabung dengan komunitas olahraga merupakan opsi lain. 

C) Kamu tidak memiliki target? 

Jika ini jawabanmu: Buatlah jurnal latihan sederhana dengan target yang ingin dicapai. "Dengan adanya jurnal latihan maka akan teridentifikasi progress latihan yang ingin dicapai (dalam kurun tertentu), sehingga kita pun terpacu," Andri menganjurkan. Contoh target: pada minggu pertama jogging sejauh 5km, pada minggu kedua mencapai 5,5km dan begitu seterusnya.

D) Kamu tidak memberikan penghargaan atas pencapaianmu?

Jika ini jawabanmu: Berikan rewards atau penghargaan terhadap pencapaian yang kita dapat. Seperti ini: setelah mencapai target jogging 5km dalam waktu yang lebih cepat dari sebelumnya, kamu akan makan makanan yang disukai (kita tidak membicarakan membelikan diri sendiri satu boks besar pizza atau makan dua bungkus mi instan), atau membeli sepatu olahraga baru sehingga lebih memotivasi diri untuk semakin rajin. 

Apa? Jawabanmu keempat-empatnya? Well, mulailah dari yang pertama—dan Woop akan memberikan support berupa doa. 

Selanjutnya: Oh, oh, mungkinkah kamu malas berolahraga karena keringat yang akan bercucuran di wajah dan berpikir bisa menimbulkan jerawat? Penjelasan dermatolog ini mungkin bisa memberikan pencerahan. 

 


MORE ARTICLES


POPULAR ARTICLES
MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR