Audrey, Andra, Harumi: 'Yah Namanya Juga Manusia, Pasti Berjerawat'

Interview Audrey, Andra, Harumi: Perjuangan Melawan Jerawat
WOOP.ID/YOGO TRIYOGO

Interview 3 perempuan yang berbagi pengalaman dan jatuh bangun menerima jerawat dan cara mengatasinya

Mereka yang tidak pernah jerawatan mungkin tidak tahu, tapi sekarang akan tahu: jerawat itu mempengaruhimu lahir dan batin. Ini bukan perasaan dan sentimental perempuan saja lho—percayalah. Sebuah penelitian terbaru menyimpulkan bahwa jerawat bisa menyebabkan stres, yep stres. Jerawat itu serius, super serius. Tidak peduli itu besar atau kecil, kering atau basah, bernanah atau berdarah, satu bulan atau satu tahun—dampaknya signifikan. Oleh karena itu, Woop berbicara dengan tiga perempuan yang memiliki pengalaman dengan jerawat—dan sampai sekarang masih merasakannya. 

HARUMI SUDRAJAT

View this post on Instagram

A post shared by HARUMI (@harumips) on

"Segala cara sudah aku coba, gonta-ganti dokter, segala laser, dikletekin, minum obat, antibiotik dosis tinggi—sampai minum darah ular," tutur Harumi tentang metode penyembuhan kondisi jerawat yang sudah dialami sejak berumur 17 tahun. Namun perubahannya bisa dibilang nihil. Kondisi terparahnya adalah ketika hampir tidak sudut kosong di area wajah, "semuka jerawatnya," katanya sambil melingkari wajahnya dengan tangan kanan.

Menurut Harumi, baginya jerawat tidak terlalu mempengaruhi kepercayaan diri, tapi lebih "kepada jerawat ini menghambat gue dan kasarnya, passion yang paling gue cintai yakni makeup—dia [jerawat] menghambat banget!” tekannya. Pasalnya, dengan adanya jerawat dirinya tidak terlalu bisa bereksperimen dengan bebas, "kan dikit-dikit harus hapus, kasihan kulitnya, takut nggak nafas," paparnya. Padahal, di sisi lain, jerawat ini juga berperan sebagai penolongnya karena "bisa menutupi jerawat." Dan jika ada orang yang enggan keluar rumah karena minder dengan jerawatnya, "kalau aku lebih nggak mau keluar rumah karena aku nggak mau pake makeup. Kasihan kulitnya," tegasnya. "Jadi di situ sulitnya, sedangkan aku cinta banget sama makeup." 

Akhirnya karena merasa seperti berada di lingkaran setan, tidak sembuh-sembuh padahal sudah mencoba berbagai cara, Harumi melakukan riset (sesuatu yang menjadi bagian alami dari pekerjaannya sebagai beauty blogger) sendiri—baca artikel bertanggung jawab dan berkualitas, review, blogger, YouTube, berteman akrab dengan Google. Kesimpulannya, "akhirnya aku memutuskan untuk mengambil langkah untuk mengatasi masalahku dari SMA ini dengan mengubah gaya hidupku menjadi lebih sehat," tuturnya. 

Harumi mengubah gaya hidupnya secara total selama tiga bulan. Berhenti makan gula, memilih karbohidrat yang lebih bagus, dan ternyata, ini sangat mempengaruhi hormon aku yang bisa menyebabkan jerawat. Alhamdulillah selama tiga bulan itu aku sehat, minimalis banget," paparnya. Jika dihitung-hitung, Harumi sudah mengadopsi gaya hidup ini selama hampir satu tahun belakangan. Sampai sekarang, "aku nggak makan lagi processed food, misalkan kayak junk food atau fast food. Kalau pengen yang manis-manis, aku makan buah. Real food," tegasnya. 

Apakah Harumi menderita saat melakukan transformasi itu? "Nggak sih," jawabnya tegas. "Aku happy menjalaninya karena aku lihat ada result. Ada perubahan. Kayak misalnya aku mulai makan makanan yang tingkat gulanya tinggi, tapi nutrisinya sangat amat tinggi, kayak misalnya alpukat, kunyit. Aku bisa bilang itu kayak superfood buat aku. Dimana itu amat sangat mengubah kondisi kulit aku dari dalam," ujarnya. "Aku bisa bilang this is the happiest I've been with my skin for a very very long time," ujarnya dengan mata berbinar. 

"Dan jika pun ada jerawat muncul satu dua, aku udah tahu bahwa itu artinya aku mau dapet. Lagian, selama masih manusia pasti pernah jerawatan. Itu merupakan sesuatu yang common banget," ujarnya.

Puluhan tahun berjerawat, akhirnya menemukan solusinya. Apakah Harumi pernah berpikir seandainya bisa mengetahui hal tersebut dari awal?

"Pastinyalah," jawabnya lugas. "Namun ini membuat pengalaman ini valuable buat aku dan semakin menghargai apa yang sudah kucapai. Yang pasti, kalau kamu sudah jerawatan 10 tahun, nggak mungkin bisa sembuh dalam waktu sebulan dua bulan, minimal tiga bulan. Mungkin untuk yang levelnya masih level satu, bisa satu bulan, tapi jika sudah bertahun-tahun pasti lama. Jadi memang harus sabar, berkomitmen dan pasti ada hasilnya. Pasti akan berlalu—jerawatan ini hanyalah fase dalam hidup. Pasti ada akhirnya," tegasnya.

AUDREY TAPIHERU

View this post on Instagram

It’s been awhile since my last post. Guess i’m comin back for something exciting 💛

A post shared by Audrey Tapiheru (@tapiheruaudrey) on

Bayangkan jika wajah yang selama belasan tahun kamu banggakan... tiba-tiba berjerawat? Bukan cuma satu, tapi banyak. Bukan yang kecil-kecil dan imut, tapi yang bentuknya besar, agresif, dan sangat merah. Lupakan pantat bayi, ini adalah permukaan di Jalan Pantura. Susah—dan sebenarnya tidak mau membayangkan karena siapa sih, yang jerawatan! "Tidak ada orang di dunia ini yang ingin jerawatan," tegas Audrey Tapiheru. Namun, kondisi kulit tersebut terjadi pada dirinya—yang awalnya mulus, menjadi jerawatan.

Titik baliknya menurut Audrey adalah saat berusia 17 tahun, ketika dirinya dan grup vokalnya, Gamaliel Audrey Cantika (GAC), mulai rajin manggung di teleivisi. "Yah, mulai di-makeup, secara nggak ngerti makeup dong, jadi di-makeup aja," kenangnya. "Itu tiba-tiba entah emang brush-nya yang kotor atau yang nggak cocok, tiba-tiba muncullah itu semua jerawat di pipi dan aku langsung," katanya ekspresi terkejut, mata membesar, "ini musti gimana!" tuturnya dengan nada panik. Wajahnya yang pra-17 tahun "sehalus pantat bayi," menjadi "parah, parah banget, sih. [Jerawatnya] gede-gede banget. Bener-bener parah," tukasnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, hampir kehabisan kata-kata.

Terdengar sepele, tapi Audrey mengakui jerawat "bikin stres, sih." Komentar-komentar mulai bermunculan dari berbagai pihak—mulai dari labelnya bernaung, teman, sampai orangtua. Pertanyaannya, celetukannya kurang lebih sama: 'kok bisa jerawatan', 'kok jerawatnya gede banget', dan kok, kok, kok lainnya. "Awalnya, aku menjawab, 'iya nih, nggak tahu,'"—dengan manis, "tapi lama-lama, “yah, emang gue minta?'" dengan lebih ketus dan kesal. Untuk orang yang belum atau tidak pernah mengalami kondisi kulit ini pertanyaan-pertanyaan 'penuh perhatian' seperti itu terkesan dan terdengar tidak ada bahaya. Namun untuk berada dalam situasi tersebut, "Wuaaah," responnya dengan nada super serius.

"Terutama cewek sih, kayaknya, ya. Itu parah sih, entah kenapa kayaknya kalau orang melihat cewek berjerawat tuh, pasti akan berpikirannya, ‘ih dia nggak bersih, ya?’ Padahal, lo nggak tahu gue cuci muka udah kayak apaan?" tuturnya dengan nada meratap sambil memperagakan aksi membersihkan wajah dengan semangat. meratap. "Itu satu, masalah kebersihan, pasti orang ngeliatnya gimana gitu. Terus, juga ngaruh ke kecantikan. Mau mukanya secantik apa, kalau mukanya jerawatan, pasti banyak orang kayak agak...," sambil melirik dengan sinis. "Itu benar-benar mempengaruhi kepercayaan diri. Apalagi aku penyanyi gitu ya, kayak sering banget gitu ketemu orang yang menyampaikan rasa 'kekhawatiran mereka kok-jerawatan-sih-dengan histeris'. Aku cuma [bilang], ‘nggak tahu,'" tuturnya dengan singkat sambil mengangkat bahu. "Tanya deh, sama itu jerawat kenapa pada nempel di muka gue." 

Apakah Audrey kesal dengan komentar 'kok, kok, kok' itu? "Kesel pasti iya, tapi lebih ke sedih kali, ya," ujarnya dengan nada merenung. Berangkat dari perasaan sedikit kesal dan lebih banyak sedih, suatu saat akhirnya Audrey memutuskan untuk membuat Instastory dan di video singkat tersebut, "aku bilang: nggak mungkin ada orang yang mau jerawatan basically. Jadi kalaupun punya teman yang jerawatan, kalau emang kalian care, eh.. mendingan nggak usah dibahas. Kayak nggak usah ‘kok lo jerawatan, sih’. Nggak usah, biarin aja. Nggak usah dibahas. Kecuali kalau lo ada masukan, untuk nyembuhin jerawat kita. Jangan yang justru malah menjatuhkan kita. Karena nggak perlu lo jatuhin kita, karena kita udah jatuh kok. Kasarnya gitu. Setiap pagi kita melihat muka kita di kaca, pasti kita udah yang kayak...," ujarnya dengan ekspresi sedih dan putus asa.

Meraih ponselnya, Audrey memperlihatkan "kondisi terparah yang pernah aku alami." Jerawatnya besar, berisi, merah dan menghiasi sudut wajahnya. "Aku pernah nangis gitu pas mau tidur dan berdoa, ‘ya Tuhan Ody, kok capek banget ya, harus tiap hari dandan untuk nutupin jerawat. Udah ngobatin tapi obatnya nggak ampuh-ampuh. Kayak salah lagi, salah lagi, udah ngeluarin duit, salah mulu'. Sampai melankolis itu, sih," tegasnya. Dan sensitif. Seringkali ketika sedang mencuci wajah dan ibunya ada di belakangnya, "aku langsung bilang 'mama, ngapain?' Soalnya pikiranku udah negatif, curiga, bakal dikomentarin yang aneh-aneh. Padahal mamaku nggak ngapa-ngapain," ujarnya sambil memutar bola mata. "Jadi, jika ada yang bilang, 'masak sih, jerawat sampai bikin lo bisa nangis?’ BISA. BISA BANGET," tegasnya. 

Kemungkinan kamu penasaran: apakah Audrey pernah ke dokter untuk mengobatinya? "Pernah, ke sebuah klinik kecantikan," ujarnya sambil menyebutkan sebuah nama klinik kecantikan bertaraf nasional. Hasilnya, wajahnya memang mulus, tapi "wajahku jadi putih dan tidak sama dengan leher. Jadi seperti kayak pakai topeng. Dan aku memang nggak mau putih," tegasnya, bangga dengan warna kulit aslinya. Namun, karena ingin bebas dari jerawat-jerawat itu Audrey berusaha bertahan selama dua sampai tiga tahun sampai mulus. Lalu, "aku berpikir 'bisa nggak ya, lepas dari ini? Karena [aku] pengen jadi kayak orang normal yang bisa cuci muka pake facial wash biasa aja," ujarnya dengan nada penuh mimpi. Audrey memutuskan stop, tapi seperti yang seringkali dialami orang lain, "mukaku langsung break out parah!" katanya dengan nada terkejut. "Dan juga berubah kering, 'hah muka gue yang seberminyak ini bisa kering?'"—akhirnya memutuskan balik lagi ke klinik tesebut. Namun, cuma bertahan beberapa bulan, lalu pelan-pelan memutuskan untuk lepas dan karena salah seorang temannya menganjurkan sebuah merek yang bisa kamu temuin di Alfamart, "dari situ sampai sekarang aku pakai produk itu," bocornya. "Produknya murah, tapi entah kenapa mukaku memang cocoknya sama yang murah, pakai yang mahal kok kayaknya nggak ada ngaruhnya, ya?" Audrey terkekeh sambil menyebutkan sebuah merek yang biasanya berharga nyaris jutaan. 

"Emang masalah cocok-cocok 'kan sih, kita nggak tahu, ya. Makanya, aku tadi suka ngikutin orang, dia pakai skincare apa, tapi belum tentu work di kulit kita kan. Emang musti nyobain, dan mesti baca banget sebanyak mungkin. Makanya aku juga jarang kasih rekomendasi produk, takutnya nggak valid untuk semua orang" ujarnya penuh tekanan dan motivasi. Baca review, cek apakah produk tersebut diuji cobakan oleh orang lain. "Makanya aku sebenarnya senang banget dengan beauty blogger, lumayan membantu. Walaupun aku jarang, tapi untuk case tertentu perlu sih, bacain punya mereka," aku Audrey walau mengaku membutuhkan waktu beberapa hari untuk akhirnya mencoba sebuah produk tertentu. 

"Eh, aku juga pernah suntik jerawat," tambahnya. "Itu karena bener-bener banyak dan besar-besar, kayak ‘gue nggak ngerti lagi harus gimana. Besok gue mau nyanyi!'" tuturnya histeris dan panik. Audrey menjalani ini sejak Agustus 2016, "bisa kayak sebulan dua kali suntik—tergantung kondisi muka aku," tuturnya. Dan terakhir kali suntik itu? Melihat ponselnya, mengutak-atik Whatsapp, lalu, "terakhir 23 Oktober 2017! " serunya sambil memperlihatkan layar ponselnya dengan nada bahagia dan bangga yang tidak bisa disembunyikan. Dengan mata berbinar, "berarti udah lama 'kan? Ih, proud," ucapnya terharu sambil menyentuh dada. "Senang juga gue." 

Ada masa-masa anti kaca? Tertawa, "masa-masa nggak mau lihat kaca nggak ada, tapi nggak mau ketemu orang-orang tertentu, ada," katanya denga tegas. Orang-orang yang aku tahu bakal komentarin tentang jerawat aku."

Ini baik-baik aja, ada jerawat sih (sambil menunjuk wajahnya) karena aku baru selesai dapet. Dan jerawat ini adalah salah satu pertanda kalau aku mau dapat.