Selain Joker, Ini 7 Film yang Membicarakan Kesehatan Mental

Selain Joker, Ini 7 Film yang Membicarakan Kesehatan Mental
Joaquain Phoenix

Isu mengenai kesehatan mental kini sering diangkat dalam sebuah film. Selain Joker, ini dia beberapa film terkait yang harus kamu lihat!

Joker sukses menjadi perbincangan karena konsepnya yang tak biasa sebagai comic-book movie, dengan mengangkat sudut pandang kehidupan seorang villain. 

Memerankan karakter Arthur Flek atau Joker, Joaquin Phoenix harus berakting sebagai pria dengan gangguan mental yang mendapat perlakuan tak adil dari penduduk kota Gotham. Yup, karakter Joker yang dikenal jahat, justru meraih banyak simpati berkat latar belakang karakternya yang penuh kesedihan.

Mengangkat isu mental illness, nyatanya Joker bukan film pertama yang membicarakan masalah tersebut. Jika kamu tertarik mendalami kesehatan mental lebih jauh, beberapa film berikut ini bisa menjadi pilihan.

Rekomendasi film tentang kesehatan mental

1. Melancholia (2011)

Disutradarai oleh Lars von Trier, Melancholia (2011) adalah film drama fiksi ilmiah yang bercerita tentang dua kakak-beradik, Justine (Kirsten Dunst) dan Claire (Charlotte Gainsbourg), sesaat sebelum planet bernama Melancholia menghantam bumi.

Terdiri dari dua bagian, film ini berfokus pada penyakit mental yang diderita kedua karakter utamanya dan respon mereka menghadapi kehancuran dunia yang sudah di depan mata.

Di bagian pertama, kita diajak untuk mengenal Justine lewat resepsi pernikahannya. Walau baru menikah, bukan berarti depresi yang dialaminya hilang begitu saja. Kesedihan dan kesendirian tetap dialami Justine meski di masa-masa bahagianya sekali pun.

Bagian kedua bercerita mengenai Claire dan gangguan kecemasannya (anxiety disorder). Seiring planet Melancholia semakin mendekat dengan bumi, Claire diserang kepanikan karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. 

Menariknya, kedua pendekatan inilah yang menjadi kunci kesuksesan Melancholia dalam menangkap dan menggambarkan keragaman jenis penyakit mental. 

2. Silver Linings Playbook (2012)

Disutradarai oleh David O. Russell, film yang diangkat dari novel berjudul serupa karangan Matthew Quick, Silver Linings Playbook (2012) sebetulnya punya alur sejenis layaknya film yang berada dalam koridor komedi romantis (romcom).

Dalam film diceritakan Pat (Bradley Cooper), seorang pria dengan gangguan bipolar baru saja kembali ke rumah orang tuanya setelah dibebaskan dari rumah sakit jiwa. Sang istri meninggalkannya, setelah Pat menghajar selingkuhan istrinya hingga babak belur. 

Pat pun berusaha merebut hati sang istri kembali dengan bantuan teman barunya Tiffany (Jennifer Lawrence), seorang janda yang menderita gangguan serupa setelah kehilangan suaminya.

Pat mungkin bukan representasi umum tentang seseorang yang hidup dengan gangguan bipolar. Namun, film ini menampilkan kehidupan seseorang yang berurusan dengan penyakit mental dan orang-orang di sekitarnya dengan cukup baik.

Menariknya, meski film ini menggaris bawahi kondisikedua tokoh utama yang dipenuhi kesedihan, menontonnya justru membuat kita terhibur.

Baca juga: Merinding! 7 Film Horor Korea Selatan Paling Menakutkan

3. Inside Out (2015)

Film animasi produksi Pixar ini berkisah tentang berbagai emosi yang mengontrol otak Riley, seorang anak kecil berusia 11 tahun yang baru saja pindah ke San Francisco.

Otak Riley digambarkan sebagai ‘kantor’ tempat lima emosi dasar manusia—Joy, Sadness, Fear, Disgust, dan Anger—bekerja.

Riley kesulitan beradaptasi dengan lingkungannya yang baru, namun Joy ingin Riley selalu bahagia dan nggak memperbolehkan Sadness untuk mengontrol otak Riley. Namun, dengan gak memperbolehkan Riley merasakan kesedihan, Joy perlahan ‘membunuh’ kepribadian Riley, dan kantor tempat para emosi bekerja pun hancur perlahan.

Inside Out (2015) memberi pengertian bahwa segala bentuk emosi penting untuk dirasakan, termasuk kesedihan dan rasa sakit. Hal tersebut menjadi krusial dalam pembentukan kepribadian dan kesehatan mental manusia, terutama remaja.

4. The Perks of Being Wallflower (2012)

Diangkat dari novel berjudul sama, The Perks of Being Wallflower (2012) bercerita mengenai kehidupan masa sekolah Charlie (Logan Lerman), pemuda canggung yang mudah cemas dan selalu terisolasi dari kegiatan sosial.

Charlie yang dihantui oleh trauma di masa lalu mulai bangkit ketika berteman dengan sekelompk senior yang karismatik, yaitu Sam (Emma Watson) dan Patrick (Ezra Miller). Namun sayang, perasaan suka cita di hatinya nggak berlangsung lama, ketika satu per satu konflik datang kembali ke hidupnya.

Seiring berjalannya film, kita belajar lebih banyak tentang perjalanan kesehatan mental Charlie, yang tinggal di rumah sakit jiwa hingga detail trauma masa kecilnya yang menyakitkan.

Film mengenai coming of age ini memberi pesan yang patut dicontoh dengan menunjukkan pasang surut pertumbuhan remaja dengan penyakit mental.

Film ini nggak membosankan untuk ditonton berulang kali, terlebih dengan iringan musik dari David Bowie yang memanjakan telinga. Super seru!

Baca juga: 10 Rekomendasi Film Barat Romantis Terbaru, Siap-siap Baper!

5. I'm Cyborg But That's OK (2006)

Usai menyelesaikan trilogi Vengeance yang penuh darah, sutradara ternama asal Korea Selatan, Park Chan-Wook merilis cerita komedi romantis mengenai kesehatan mental berjudul, I'm A Cyborg, But That's OK (2006).

Komedi romantis ini bekisah tentang Young-Goon (Im Soo-Jung), seorang wanita muda yang percaya bahwa dirinya adalah cyborg, yang menolak untuk makan makanan manusia.

Setelah mencoba memotong pergelangan tangannya dalam upaya menghubungkan kabel ke tubuhnya, sang ibu memasukannya ke sebuah institusi kesehatan. Di sana, ia kemudian bertemu dengan pasien bernama Il-Sun (Rain). Sama-sama memiliki gangguan psikologis, hubungan mereka justru berkembang menjadi hal yang tak terbayangkan.

Film ini berpesan, bahwa ternyata bukanlah para perawat dan dokter yang menyelamatkan Young-Goon dari sakitnya. Melainkan orang-orang di sekitarnya yang justru dianggap gila oleh orang lain. Yuk coba tonton!

6. Little Miss Sunshine (2006)

Film dark comedy arahan Jonathan Dayton dan Valerie Faris ini, bercerita tentang keluarga disfungsional yang melakukan perjalanan dengan Volkswagen Microbus, untuk membawa Olive (Abigail Breslin) ke sebuah kontes kecantikan di Redondo Beach, California.

Paman Olive, Frank (Steve Carell), tinggal sementara waktu bersama keluarganya setelah mencoba bunuh diri usai ditinggalkan sang kekasih.

Perjalanan Frank dengan keluarganya nggak seketika menyembuhkan depresi berat yang dideritanya. Namun, kebersamaannya dengan keluarga membuatnya sadar bahwa masih ada hidup yang harus ia jalani bersama orang-orang yang menyayanginya.

Little Miss Sunshine yang dirilis tahun 2006 ini, cocok ditonton bersama dengan keluarga untuk mengajarkan betapa pentingnya makna kebersamaan. 

7. A Beautiful Mind (2001)

Film ini diangkat dari kejadian nyata yang dialami John Forbes Nash Jr., seorang ahli matematika yang menemukan “game theory” yang saat itu dianggap bertentangan dengan prinsip ekonomi yang dipegang oleh banyak pemerintah.

A Beautiful Mind (2001) bercerita tentang seorang ahli matematika genius bernama John Forbes Nash (Russell Crowe) yang menderita Skizofrenia. Gangguan ini membuatnya sering berhalusinasi dan menciptakan tokoh-tokoh yang ternyata hanya khayalannya saja.

Ada tiga tokoh dalam kehidupan John yang ternyata adalah hasil dari halusinasinya saja. Yaitu Charles Herman yang merupakan teman sekamarnya selama di universitas, William Parcher yang dipercaya John sebagai agen pemerintah, serta Marcee yang merupakan keponakan dari Charles Herman.

Dirilis pada 2001, film ini disebut-sebut sebagai salah satu pelopor film yang berani membahas isu penyakit mental secara realistis.

Selanjutnya: Nggak kalah dengan film Korea, ternyata Jepang juga punya film yang romantis yang bagus lho. Inilah daftar film Jepang Romantis!

Loading Facebook Comment ...