Apa Itu Penyakit Selfitis? Bagaimana Cara Deteksinya?

Apa Itu Penyakit Selfitis? Bagaimana Cara Deteksinya?
ISTOCK

Penyakit zaman now. Para peneliti ini berargumen—sama seperti penyakit lain yang menyebabkan kematian

WOOP.ID - Berapa banyak kamu melakukan selfie atau swafoto—dagu naik, bibir monyong, dan mata 100% tertuju pada layar ponsel—hari ini atau kemarin?

Ratusan, atau bahkan ribuan? Jika berlebihan, hati-hati, jangan-jangan kamu sedang mengidap sebuah penyakit bernama selfitis

Apa Itu Penyakit Selfitis?

Foto Selfie
Foto Selfie

Ini bukan penyakit buatan atau mengada-ada Sebuah studi gabungan yang dilakukan oleh Nottingham Trent University dan Thiagarajar School of Management menyimpulkan bahwa kondisi yang menyebabkan orang-orang mengambil terlalu banyak swafoto dan memasukkannya ke internet bisa disebut sebuah penyakit.

Baca: Mau Hasilkan Foto Selfie yang Cetar? Ini Tips-tipsnya!

Memang tidak separah kolera, tapi jika kamu ingat ada banyak kejadian naas karena selfie sehingga bisa dibilang selfitis merupakan penyakit yang mematikan.

Apakah kamu tahu ada 36 orang meninggal akibat selfie tahun ini? Beberapa jatuh ke sungai dan tenggelam, sementara yang lain ditabrak kereta api.

Dan baru-baru ini seorang pria mati diinjak oleh gajah saat mencoba mengambil selfie dengan binatang tersebut. 

Pendapat Para Ahli Tentang Selfitis

WOOP.ID
WOOP.ID

Para peneliti ini berargumen—sama seperti penyakit lain yang menyebabkan kematian—bahwa seandainya mereka tidak terlalu menghabiskan waktu untuk mengambil swafoto dan hati-hati saat berada di sekitar gerombolan gajah, kemungkinan mereka masih bernafas sampai sekarang. 

Selfitis Behaviour Scale

Tips Hasilkan Foto Selfie yang Mengesankan
Foto Selfie

Nah, pertanyaannya: bagaimana mendeteksi bahwa kita—kamu dan saya— mengidap penyakit ini? Untungnya studi ini mengembangkan Selfitis Behaviour Scale untuk membantu mendiagnosa mereka yang mungkin khawatir menderita kondisi ini.

Baca: Ini 7 Rekomendasi Smartphone dengan Kamera Selfie Terbaik!

Satu-satunya yang perlu kamu lakukan adalah memberikan nilai dari satu sampai lima atas pernyataan-pernyataan di bawah ini: 

  1. Saya merasa lebih terkenal ketika memposting swafoto di media sosial. (1, 2, 3, 4, 5)
  2. Dengan mempostingnya, saya berharap teman-teman saya akan memuji saya. (1, 2, 3, 4, 5) 
  3. Ketika saya tidak mengambil swafoto, saya merasa terkucilkan dari grup teman saya. (1, 2, 3, 4, 5)
  4. Mengambil swafoto dengan pose yang berbeda meningkatkan status media sosial saya. (1, 2, 3, 4, 5) 
  5. Saya menggunakan metode foto edit untuk membuat swafoto saya lebih baik dibandingkan yang lain. (1, 2, 3, 4, 5).

Jika kamu memberikan nilai lima dari dari sebagian besar pernyataan di atas, menurut para peneliti tersebut kamu kemungkinan besar memiliki rasa percaya diri yang rendah tapi berusaha menyeimbangkannya dengan mencari perhatian gila-gilaan.

Harapannya sih, dengan memposting setiap menit dalam hidup ke media sosial, kamu akan merasa menjadi bagian dari sebuah kelompok... yang sebenarnya tidak eksis (tidak nyata). Well, duh...

Sayangnya penelitian tersebut belum menemukan obat mujarab atau perawatan agar bersih dari penyakit tersebut.

Namun, sembari menunggu ada penemuan lebih lanjut, sepertinya mulai dari sekarang kita bisa mulai mengurangi memegang erat dan memelototi ponsel—paling tidak saat berada di sungai. Bisa 'kan, ya? 

Baca: