Apakah Perut Benar-Benar Bisa Dikecilkan, Dikurangi, dan Diratakan?

Apakah Perut Benar-Benar Bisa Dikecilkan, Dikurangi, dan Diratakan?
ISTOCK

Atau itu hanya fatamorgana? 

Seorang teman berkata, "Jangan makan di lesehan gitu, ya?" Alasannya? "Perut sudah tidak memungkinkan lagi untuk makan dengan kaki bersila dan menunduk. Jangkauan tangan dihalangi oleh ukuran perut," jawabnya dengan ekspresi miris. Boleh tertawa? "Boleh banget," katanya dengan tampang pasrah. Untuk catatan, teman tersebut tidak dalam kondisi berbadan dua. 

Perut, oh perut, posisinya yang berada tepat di tengah-tengah tubuh memang "strategis": menjadi pusat perhatian dan jika ukurannya tidak berbanding lurus dengan ukuran anggota tubuh lain (baca: agak sedikit membuncit) menjadi penghalang kegesitan. Seorang teman memaparkan bahwa alasannya tidak menyukai perutnya yang agak bergelombang itu adalah "nggak enak dilihat. Apalagi pakai baju, kelihatan jelek banget. Belum lagi harus beli baju dan celana baru, soalnya yang lama sudah tidak bisa mengakomodasi area perut." 

WOOP bisa sangat bersimpati (karena sejujurnya punya masalah yang sama). Oleh karena itu, dalam rangka mencari pencerahan, WOOP bertanya kepada seorang pelatih personal profesional. Namun, sebelum membahasnya panjang lebar, mari "meratakan" satu hal: Apakah perut yang agak membuncit bisa dikecilkan, dikurangi, dan akhirnya jadi rata? Atau itu hanya propaganda kapitalis? "Bisa," kata Aris Suparta, yang juga pendiri helpfit.id, dengan tegas. 

L-E-G-A. Akan tetapi, sebenarnya apa sih, penyebab perut kita sangat liar dan "elastis"? Sebulan lalu masih rata, eh... tanpa meminta ijin membangun, sekarang kok sudah terpasang lima polisi tidur di permukaannya? "Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut, usia, alkohol, tapi yang paling besar adalah gaya hidup yang tidak sehat." Definisi pola hidup yang tidak sehat menurut Aris bisa  dilihat dari pola makan dan istirahatnya, misalnya sering makan fast food, gorengan, minuman bersoda, dan pola istirahat yang tidak teratur seperti bergadang. "Kenapa bergadang tidak baik, karena kita sedang memaksa organ-organ untuk bekerja berlebih sedangkan organ tubuh juga perlu istirahat."

Setelah mendengarkan sambil mengangguk-angguk (dan tanpa sadar mengelus-elus perut, berharap dari menyimaknya saja bisa membuat lingkar lemak berkurang 1 mm), pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara mengecilkannya. Adakah cara paling praktis, misalnya secepat hasil kerja ala Ibu Peri? "Cara paling praktis dan mudah sebenarnya tidak ada, karena semuanya tidak instan," kata Aris dengan tegas. (Ugh, baiklah.) "Jadi yang diperlukan adalah memperbaiki gaya hidup dengan makan gizi yang seimbang dalam jumlah protein, karbohidrat dan serat. Harus seimbang, karena jika kita melakukan diet yang terlalu keras, berat badan memang pasti akan turun sangat cepat, tapi itu juga tidak baik buat tubuh," jelasnya. "Jika pola makan bisa dijalani dengan benar, plus ditambah dengan sedikit olah raga, seperti berjalan pagi. Atau bisa melakukan olahraga yang memakai berat badan sendiri seperti squat, pushup, sit-up, perut akan rata. 

"Yang pasti, antara latihan dan diet harus sejalan. Dengan pola makan yang tepat maka jumlah 20x sit-ups sebanyak 3 set, sudah cukup membantu perut menjadi rata. Akan tetapi, jika kita sudah melakukan exersice yang bagus, tapi tidak diikuti dengan pola makan yang benar sudah pasti hasil yang diinginkan tidak tercapai." 

Hasilnya, hasilnya kapan bisa terlihat? "Untuk hasil tergantung dari komitmen kita. Selama kita bisa berkomitmen seperti yang di atas tadi, mungkin 2-3 bulan sudah bisa kelihatan hasilnya (perut rata)," papar Aris. Well, komitmen, sebuah kata yang indah dan enak diucapkan, tapi "kebetulan" kita sepertinya, kayaknya, memiliki commitment phobia, termasuk dalam hal ini. 

Berbicara tentang sit-up, apakah itu merupakan satu-satunya cara yang efektif untuk meratakan perut? "Bisa dibilang efektif dan juga bisa dibilang tidak, semua balik lagi ke gaya hidup dan goal yang di inginkan," ujar Aris. Beberapa teman mengatakan bahwa mereka sudah sit-up berkali-kali dan (katanya) setiap hari, tapi kok tidak perubahan, ya? Jangan-jangan ada yang salah. "Sebenarnya bukan tidak ada perubahan. Semua usaha yang dilakukan tiap pagi pasti ada hasilnya. Faktanya adalah apakah kita sudah memperbaiki pola makan kita?" 

Menurut Aris, pembicaraan tentang diet dan pola makan sangatlah susah, tidak bisa digeneralisasikan, karena setiap individu mempunyai kebutuhan diet yang berbeda-beda. "Yang paling penting adalah kebutuhan gizi yang seimbang dari jumlah protein, karbohidrat dan serat. Yang harus dijauhi adalah gorengan dan roti-rotian," katanya. 

Ok, pola makan plus komitimen. Plus, kurangi ubi goreng, bakwan goreng, dan roti goreng.