Jika Tiba-tiba Ingin Meninggalkan Sofa dan Kembali OlahragaLakukan dengan Cara Ini

Jika Tiba-tiba Ingin Meninggalkan Sofa dan Kembali OlahragaLakukan dengan Cara Ini
ISTOCK

Tenang, kamu bukan satu-satunya yang terlalu cinta dengan sofa.

Setelah "berpuasa" lebih dari ... (silahkan isi sendiri, minggu, bulan, tahun), akhirnya berhasil menaklukkan rasa malas dan anti-bergerak, dan berolahraga. Yeaaay... selamat, ya! Namun, sebelum memulai mengangkat beban, berlari, berkeringat, terengah-engah, kehabisan nafas dan pegal linu lagi, apakah kita boleh menghantam semuanya, melakukan ritual seperti dahulu—atau harus tunggu dulu? 

"Sebenarnya tidak menjadi masalah yang berarti ketika kita melanjutkan olahraga setelah sekian lama tidak melakukannya," ujar Suranta Pramata Ginting, M.KesFitness Program Director APKI. "Hanya saja," anjurnya, "yang penting diingat yaitu intensitas latihan yaitu tingkatan berat atau ringannya suatu latihan, karena tubuh seperti otot, tendon dan ligamen juga akan butuh namanya adaptasi terhadap beban latihan. Apabila kita memaksakan rutinitas latihan seperti sebelumnya bisa terjadi pusing dan mual karena sistem dari metabolisme tubuh terganggu."

Butuh contoh? MIsalnya, saat baru memulai lagi lakukan program latihan yang sederhana seperti jalan sekitar 30 menit saja. "Kemudian seminggu setelahnya lanjutkan dengan jogging, dst. Latihan bisa dilakukan tiga kali dalam seminggu untuk satu bulan pertama. Intinya adalah terlebih dahulu mengumpulkan yang namanya 'niat latihan,'"Suranta menegaskan. 

Setelah "berpuasa" lebih dari dua minggu atau tiga bulan—apakah perbedaan ini signifikan?

"Ya pasti ada perbedaan yang signifikan," jawabnya, "jika dibandingkan orang yang berhenti latihan hitungan minggu dengan bulanan. Sebagai contoh, kita lihat dari sistem kardiorespirasi. Orang tersebut akan sedikit mengalami gangguan seperti detakan jantung akan berdetak lebih kencang serta frekuensi pernafasan lebih cepat."

Bilang saja tiga bulan lalu kita adalah seorang pengunjung setia gim. Namun, tiba-tiba tidak nafsu (salahkan rasa malas)—akhir pekan hanya diisi dengan nongkrong, berkumpul, nongkrong, dan posisi horizontal seharian di atas kasur atau sofa. Apa yang terjadi pada tubuh ketika kita menjadi 'anggota gim hanya sebatas kartu saja'? 

"Pastinya berdampak buruk secara perlahan pada tubuh," jelas Suranta dengan tegas. "Seperti terjadinya penurunan komponen kebugaran antara lain kekuatan, daya tahan, kecepatan, dll. Hal yang bisa terjadi juga jika nonaktif olahraga, berat badan akan meningkat lebih cepat which is massa lemak bertambah sedangkan massa otot menurun. Di samping itu akan mengganggu kerja hormon secara tidak langsung, seperti akan lebih mudah stres dan emosi akibat hormon kortisol cepat meningkat."

Ouch—berat badan: titik lemah dan sensitif beberapa orang. Namun, jika jujur memang sulit sekali mengumpulkan kemauan dan nafsu untuk berolahraga. Godaan untuk tinggal di kasur... lebih kecil besar dan lebih lemah kuat. Mengangkat bokong dari sofa, menyiapkan perkakas, memakai sepatu, perjalanan ke gim—sangat tidak menggoda. Apa yang bisa dilakukan?

Roger Lawson, seorang ahli fitnes, mengatakan kepada Lifehacker bahwa diri kita sendiri sebenarnya adalah tantangan paling besar saat ingin berolahraga lagi. "Kita seringkali terlalu keras pada diri sendiri dan berharap terlalu banyak dari sendiri; kita berpikir bahwa olahraga harus dilakukan lebih keras daripada sebelumnya dan ketika ekspektasi tersebut tidak tercapai, semuanya menjadi berantakan." Jadi, bukan salah rasa bersalah atau sofa yang terlalu empuk, ya. 

Kuncinya: perlakukan diri dengan baik—gagal dan jatuh bangun itu merupakan sesuatu yang normal dan akan terjadi—tidak manusia yang sempurna. Jangan terlalu dipaksakan. Bisa dihitung dengan jari lho, orang yang meloncat dari tempat tidur di pagi hari dan semangat 45 ke gim. Mulai rutinitas olahraga dengan pelan tapi pasti, dan konsisten.