Kesalahan #1 yang Wajib Dihindari Saat Menggunakan Foam Roller

Kesalahan #1 yang Wajib Dihindari Saat Menggunakan Foam Roller
ISTOCK

Foam rolling 101.

Kamu yang sering menginjakkan kaki ke gim mungkin sering melihat benda ini: foam roller. Bentuknya silinder panjang, warna-warni dengan motif yang bervariasi. Saat seorang teman memakainya, dia meletakkannya di bawah pinggang. Ketika ditanya apa gunanya, dia menjawab, "untuk menghilangkan rasa pegal," sambil menggerakkan benda yang menyerupai sosis raksasa itu. Sejujurnya, Woop penasaran, ingin ikut mencoba, tapi ragu. 

"Foam roller merupakan salah satu tools yang berfungsi membantu recovery otot yang dikenal dengan istilah self myofascial release, dimana akan membantu mengurangi ketegangan otot (muscle tightness) serta titik nyeri di otot (trigger point) sehingga otot akan kembali fleksibel," terang Asep Azis, SSt. Ft, seorang sport physioterapist dan pendiri Physiopreneur Physiotherapy lewat email. "Dengan menggunakan foam roller maka diharapkan adanya penekanan pada titik yang mengalami kekakuan otot sehingga akan memberikan efek memanjangkan otot," lanjutnya. 

Begini cara kerja foam roller: dengan adanya vibrasi foam roller akan memberikan sinyal kepada otot untuk berkontraksi, aliran darah ke otot pun meningkat ke otot sehingga mengakibatkan otot menjadi lebih cepat hangat dan siap untuk beraktivitas serta berolahraga. "Jadi body vibration sama dengan active warm-up; setara dengan jogging ringan," katanya. Bahkan, "beberapa penelitian memperlihatkan adanya peningkatan fleksibilitas dengan menggunakan foam roller vibrasi."

Ah, mendengarnya saja otot-otot terasa lebih baik. Namun, eits, tunggu dulu, jangan terlalu buru-buru membelinya. Asep menyarankan untuk berkonsultasi dengan fisioterapis atau dokter olahraga sebelum penggunaannya. Apalagi jika kamu adalah penggemar olahraga seperti lari yang akan dominan menggunakan otot hip fleksor, otot paha depan, otot hamstring (paha belakang) dan juga calf muscle (otot betis), agar "penggunaan foam roller akan lebih efektif."

Dan saat kamu menggunakannya dengan teknik yang benar, rasanya harusnya menyenangkan—bukan malah kesakitan. Buat pemula, direkomendasikan untuk memulainya dengan roller dengan densitas medium, lebih lembut, sehingga tidak terlalu intens atau keras di otot.

Peringatan keras: hentikan penggunaan foam roller saat cedera otot masih baru, alias akut. "Penggunaan massage dalam bentuk apa pun merupakan salah satu kontraindikasi, akan meningkatkan sirkulasi darah sehingga bisa mengakibatkan pembengkakan dan jaringan menjadi lebih rusak," terang Asep. 

Selain peringatan tersebut, Asep juga menyarankan agar menghindari beberapa kesalahan yang sering dilakukan saat menggunakan foam roller. Di antaranya:

1. Mengaplikasikan foam roller langsung di lokasi otot yang sedang cedera. Jangan lakukan ini karena akan mengakibatkan peradangan (inflamasi) semakin meningkat pada otot.

2. Menggunakan foam roller tepat di sumber penyebab rasa sakitnya. Hiindari. Misalnya, kamu mengalami nyeri otot paha samping (Iliotibial band syndrome), "sebaiknya tidak dilakukan foam rollers di area ITB-nya, tetapi di otot hip fleksor serta quadriceps bagian samping luar yang merupakan penyebab dari cedera ini."

3. Melakukan foam rolling secara tergesa-gesa/ terlalu cepat, karena "akan mengakibatkan fascia (pembungkus otot) tidak akan maksimal untuk memanjang dan otot tidak mendapatkan manfaat yang maksimal." 

HALAMAN
12