Ketika Makanan Berlabel 'Tanpa Lemak,' Apa Sebenarnya Artinya?

Ketika Makanan Berlabel Tanpa Lemak, Apa Sebenarnya Artinya?
ISTOCK

Dan label makanan lainnya.

Mustahil rasanya berbelanja tanpa dibombardir janji-janji yang terdapat di produk kemasan: tanpa lemak, tanpa gula tambahan, mengandung lebih banyak nutrisi, lebih bervitamin, dan lebih segalanya. Biasanya tulisannya hanya terdiri dari tiga kata, tulisannya mencolok, agresif, warna-warni, menyilaukan mata. Ukuran hurufnya? Pastinya berlipat-lipat dibandingkan kalimat: *syarat dan ketentuan berlaku. 

Namun, apakah janji tersebut valid atau palsu? John Baglioni, MPH, RD, CDN, seorang konsultan nutrisi dari Green Life Center menuliskan apa arti sebenarnya dari klaim yang diberikan produsen makanan di kemasan produk-produk mereka. 

1. "Dengan Omega-3"

Tidak diragukan lagi bahwa omega-3 memang baik untuk kita. Manfaatnya mulai dari mengurangi resiko penyakit jantung dan vital untuk fungsi otak. Satu dekade belakangan, kepedulian masyarakat tentang lemak-lemak sehat semakin meningkat, dan perusahaan makanan memanfaatkannya dan mulai menambahkannya ke dalam berbagai makanan.

Namun, dalam banyak kasus, sumber omega-3 ini biasanya berasal dari kedelai atau minyak kanola. Minyak-minyak ini kurang sehat, dan hanya memberikan sedikit asupan lemak omega-3 yang sehat. Lebih gawat lagi, produsen makanan seringkali menambahkan gula ke dalam produk mereka—kita sama sekali tidak membutuhkan asupan gula ekstra ini. Sumber terbaik omega-3 adalah ikan berlemak (seperti salmon), kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak zaitun. 

2. "Sumber Antioksidan Baik"

Antioksidan merupakan senyawa yang melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Banyak ahli percaya bahwa kerusakan ini adalah faktor yang mengembangkan penyakit jantung, kanker, dan penyakit lainnya. Antioksidan tersedia dalam jumlah banyak di berbagai makanan, termasuk buah, sayuran, teh hijau, bahkan kopi.

Salah satu antioksidan yang paling umum dipromosikan di kemasan makanan adalah vitamin C; terdapat di minuman buah, cemilan buah (bentuk gulungan dan yang bisa dikunyah), dan sereal sarapan. Sayangnya, makanan-makanan ini biasanya mengandung gula tambahan, pengawet, dan pewarna makanan buatan. Cara termudah untuk mendapatkan asupan antioksidan yang cukup adalah dengan banyak mengonsumsi sayuran dan buah. 

3. "Rendah Lemak (Low-Fat)" atau "Tanpa Lemak (No-Fat)"

Coba perhatikan barang-barang di supermarket, pasti banyak kue dan produk susu dengan label "fat-free" atau "low-fat." Klaim ini biasanya ditemukan pada kemasan produk-produk yang secara tradisional mengandung lemak yang tinggi, tapi telah melalui proses tertentu menyebabkan jumlahnya menurun atau hilang. Makanan dengan rendah atau tanpa lemak harusnya lebih sehat, dong. Iya, 'kan? Well, sayangnya tidak selalu begitu. Ambil contoh, produk susu dengan lemak rendah. Penelitian terbaru telah menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi produk susu dengan lemak lengkap, seperti whole milk dan yogurt, kemungkinannya lebih kecil mengalami kenaikan berat badan atau terkena diabetes. Kenapa? Lemak membuat cepat kenyang, sehingga kita akan makan lebih sedikit jika makanan tersebut mengandung lemak. Selain itu, banyak makanan bebas lemak (terutama makanan penutup) mengandung gula tambahan, yang meningkatkan resiko diabetes dan membuat berat badan naik. Dan, artificial thickeners terkadang digunakan sebagai pengganti lemak di dalam beberapa makanan.

Jika kamu benar-benar perlu mengurangi lemak karena alasan medis, mungkin solusinya adalah menggantinya dengan makanan tertentu yang rendah atau bebas lemak. Jika sebuah label mengindikasikan low-fat atau fat-free, baca baik-baik daftar bahannya untuk memastikan tidak ada gula atau pengental tambahan. Minyak zaitun, kacang-kacangan, biji-bijian, alpukat, ikan berlemak, dan yogurt murni memang harus menjadi bagian dari diet setiap orang. 

4. "Lebih Banyak Vitamin," "Lebih Banyak Nutrisi," dan "Tinggi Serat" 

Arti klaim ini adalah untuk mengindikasikan bahwa makanan di dalam kemasan lebih sehat hanya karena ditambahkan dengan vitamin dan mineral, atau mungkin mengandung banyak serat. Dan mungkin saja klaim mereka tersebut benar. Misalkan, sereal sarapan. Secara alami, oatmeal memang kaya serat dan mengandung banyak vitamin serta mineral. Jadi jika terdapat label tersebut di kemasan serel, hal tersebut bisa jadi sepenuhnya benar. Akan tetapi, sebagian besar sereal yang diperkuat dengan vitamin dan mineral dan mengandung serat biasanya juga penuh dengan gula tambahan, pewarna makanan buatan, dan pengawet. Kedua label tersebut bisa saja mengindikasikan hal yang sama secara akurat, tapi hanya satu yang merupakan pilihan yang sehat. 

5. "Terbuat dari Gandum Utuh" 

Sebaiknya kita harus lebih banyak lagi mengonsumsi makanan utuh, seperti nasi cokelat, oat, quinoa, dan millet. Jika sebuah label mengindikasikan makanan dengan "gandum utuh", biasanya berarti sejumlah gandum utuh ditambahkan ke dalamnya. Contoh paling tepat adalah roti. Kebanyakan roti terbuat dari tepuh putih, yang umumnya tidak sehat. Jika sejumlah gandum utuh ditambahkan ke roti, pembuatnya bisa mengklaim bahwa produk tersebut dibuat dengan gandum utuh. Akan tetapi, jumlah yang ditambahkan biasanya tidak cukup untuk membuat produk tersebut lebih sehat.