Mari Meluruskan 9 Mitos Diet dan Kesehatan Ini

Mari Meluruskan 9 Mitos Diet dan Kesehatan Ini
ISTOCK

Apakah botol-botol jus detoks yang memenuhi kulkasmu benar-benar "membersihkan"?

Jus pembersih tubuh. Karbohidrat itu musuh terbesar perempuan. Minum harus delapan gelas sehari. Ada begitu banyak mitos-mitos yang berhubungan dengan makanan, dan beredar entah sejak kapan. 

Memang mudah sekali untuk mengikuti 'katanya, katanya,' misalnya bahwa satu botol jus detoks bisa membuat seluruh tubuhmu bersih, bahkan mengurangi berat badan. Apalagi jika ada teman atau orang yang baru satu kali kita temui di gim mengaku bahwa dengan menghitung kalori, berat badannya langsung mendadak berkurang! Untuk mencari kebenarannya, Woop bertanya kepada Leona Victoria, MNutrDiet, seorang ahli nutrisi. Meluruskan mana yang fakta dan mana yang mitos, hanya isapan jempol si anak ingusan—sekali untuk selamanya. 

#1. MITOS: Pemanis buatan lebih baik daripada pemanis lainnya

Menurut Leona, sebelum melabelkan sesuatu sebagai pemanis buatan, ada baiknya kita ketahui dulu jenis pemanisnya, yakni jenis didapat dari alam/alami dan dari buatan manusia (sintetis). "Pernyataan 'pemanis buatan' sering disalahartikan sebagai semua pemanis lain selain gula pasir/madu. Pemahaman ini salah," katanya dengan tegas.

Ada beberapa jenis pemanis alami yang bukan berupa gula pasir maupun madu, yaitu sorbitol (atau dipasarkan oleh suatu brand dengan sebutan ("gula jagung"), sucralose (brand seperti Splenda), stevia (dari tumbuhan stevia), dan Erythritol (hasil fermentasi glukosa oleh ragi). Sementara pemanis sintetis yang didapat dari proses tidak alamiah, misalnya aspartam dan sakarin. 

Jika kamu penasaran kenapa ada makanan atau minuman yang menggunakan pengganti gula (baik yang natural maupun sintetis), Leona menjelaskan bahwa tujuannya di antara lain: mengurangi kalori sehingga mengurangi kelebihan konsumsi kalori, obesitas; mengurangi asupan berlebih karbohidrat, terutama bagi penderita diabetes dan ginjal; dan mengurangi asupan gula yang dapat menyebabkan gigi berlubang. 

"Namun karena pengganti gula biasanya tidak mengandung kalori dan tidak menstimulasi 'food reward pathway' di otak, pemakai biasanya kurang merasa puas setelah mengonsumsi minuman/makanan yang menggunakan pengganti gula. Hal ini bisa menyebabkan orang tersebut mengonsumsi makanan lainnya yang tinggi lemak dan gula sebagai pelampiasan. Jadi penggunaan pengganti gula pun bisa memicu kegemukan, jika pengguna tidak secara sadar mengurangi konsumsi makanan yang highly processed yang biasanya high sugar, high fat, high salt," jelas Leona. 

#2. MITOS : Karbohidrat itu sangat jahat! Harus dihindari dalam bentuk apapun

"Salah," Leona berkata dengan tegas. Menurutnya—dengarkan baik-baik: setiap hari tubuh manusia membutuhkan karbohidrat untuk melakukan fungsinya, terutama untuk otak. Karbohidrat itu tidak melulu gula dan nasi, tapi juga terdapat dalam buah-buahan dan sayuran. "Bukan karbohidratnya yang jahat tapi jenis karbohidrat dan porsi makannya yang harus diatur," Leona mengingatkan. 

#3. MITOS: Susu almond lebih baik daripada susu biasa

Ini merupakan salah satu tren makanan beberapa tahun belakangan. Leona menjelaskan bahwa almond milk merupakan susu yang dihasilkan dari penggerusan kacang almond, sehingga cocok untuk vegetarian dan vegan diet. Dibandingkan susu hewani, susu almond mempunyai kandungan kalori dan lemak lebih rendah juga tidak mengandung kolesterol. "Di sisi lain, susu almond homemade mengandung kalsium dan protein yang rendah. Oleh karena itu, susu almond tidak cocok untuk diberikan sebagai sumber susu utama untuk anak di bawah 2 tahun," tegas Leona. 

#4. MITOS: Makan setelah jam 6 sore bikin gemuk

"Salah," kata Leona dengan penuh penekanan. "Tergantung dari jam berapa kita tidur, ada baiknya mengonsumsi makanan berat terakhir dua atau tiga jam sebelum tidur untuk memberikan waktu yang cukup untuk mencerna makanan di lambung. Jadi patokan jam 6 tidak tepat karena bisa saja tidur di jam 11 atau 12. Untuk penderita diabetes tipe 2 justru harus mengonsumsi makanan ringan (seperti segelas susu, 1-2 lembar roti) sebelum tidur untuk menghindari lonjakan gula darah saat bangun pagi."

#5. MITOS: Makan lemak akan membuat berat badan bertambah alias gemuk

"Keliru," Leona meluruskan. Menurutnya, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Lemak adalah makronutrien yang mengandung kalori tertinggi per 1 gram jika dibandingkan dengan karbohidrat, protein maupun alkohol. Satu gram lemak/minyak mengandung 9 kalori, sementara alkohol 7 kalori, karbohidrat dan protein 4 kalori. Jadi mengonsumsi lemak (murni) dengan berat yang sama dengan karbohidrat (murni) akan mengonsumsi dua kali lipat kalori lebih banyak.

"Namun di sisi lain, kita perlu mengonsumsi lemak setiap hari terutama jenis essential fatty acids jenis omega 3. Jadi konsumsilah jenis lemak yang berguna bagi tubuh dalam porsi secukupnya."

#6. MITOS: Sayuran beku tidak sesehat sayuran segar

Jujur saja, banyak dari kita yang memiliki pandangan ini bahwa jangan pernah beli sayuran beku, karena sudah tidak sehat. "Salah," kata Leona. Dia menjelaskan bahwa kandungan nutrisi makanan yang beku bisa menyamai atau bahkan superior dibandingkan bahan baku segar yang didistribusikan dan disimpan secara asal-asalan. Lebih lanjut, Leona memaparkan bahwa proses pembekuan sayuran biasanya dalam waktu 24 jam setelah dipanen, dicuci bersih lalu disterilkan dengan cara direbus selama beberapa detik dan dibekukan dalam waktu 2 jam (rapid freezing). Dengan demikian kandungan nutrisinya terjaga dan tersimpan. "Sementara bahan makanan yang fresh, ada kemungkinan handling-nya tidak benar. Contohnya seperti sayuran terpapar sinar matahari selama berjam-jam selama perjalanan sehingga kepanasan dan proses metabolisme di dalam sayuran tersebut terus berlangsung. Jadi sayuran beku merupakan alternatif yang baik untuk memasukkan sayuran ke makanan kita."

#7. MITOS: Juice cleanse bisa mendetoks tubuh

Siapa yang 'termakan' dengan kampanye ini bahwa botol-botol jus dengan tulisan 'detox'  berwarna-warni akan membuat tubuhmu langsung bersih dari segala racun? Tenang saja, kamu tidak sendirian. Paling tidak bisa dilihat dari peningkatan produksi dan keuntungan yang terjadi di industri jus pembersih ini. Namun sebenarnya benarkan isinya berkhasiat seperti yang diiklankan? "Ini mitos yang salah," kata Leona. Menurutnya, kita harus ingat bahwa proses detoks tubuh setiap hari dilakukan oleh organ hati dan ginjal. Hati dan ginjal memfilter zat-zat berbahaya lalu mengeluarkannya dari dalam tubuh. Kadar keasaman darah pun selalu terjaga antara 7,35 -7,45. Jadi, "'detoks' apapun tidak akan mengubah tingkat keasaman darah," jelasnya. Lanjutnya, apa yang terjadi saat seseorang memutuskan untuk 'berdetox', orang tersebut akan, "mengurangi asupan makanan yang digoreng dan olahan, minum lebih banyak air, mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur—karena biasanya cuma boleh ini. Sehingga secara tidak disadari orang tersebut sedang melakukan hal-hal yang memang direkomendasikan untuk gaya hidup sehat." Jelas 'kan ya?