Melati dan Isabel Wijsen, Aktivis Milenial Anti Plastik yang Mendunia

Melati dan Isabel Wijsen, Aktivis Milenial yang Anti Plastik
Melati dan Isabel Wijsen (cnn.com)

Menginspirasi banyak orang, Melati dan Isabel Wijsen mampu menyuarakan gerakan anti plastik hingga mendunia. Simak profil singkatnya!

Jika kamu merupakan pegiat lingkungan, tentunya sudah mengenal nama perempuan muda berikut ini. Yup, Melati dan Isabel Wijsen adalah aktivis pencinta lingkungan yang kerap menyuarakan larangan penggunaan plastik. 

Sukses meraih penghargaan Internasional, mereka berdua ternyata adalah perempuan asal Indonesia, lho! Tanpa berlama-lama, yuk simak kerja keras mereka mewujudkan dunia tanpa plastik.

Profil Singkat Melati dan Isabel Wijsen

Berawal dari Bye-bye Plastic Bags

Menurut data dari Science Journal (2015), Indonesia disebut sebagai pencemar plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Tak tanggung-tanggung, limbah yang berasal dari Indonesia menyumbang 10 persen pencemaran plastik di laut.

Melihat hal itu, pemerintah Indonesia telah berjanji untuk menginvestasikan dana sebesar $1 miliar (Rp13.6 triliun) untuk mengurangi sebesar 70 persen limbah laut pada tahun 2025. Tujuan ambisius tersebut dilakukan karena wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan, termasuk pulau Bali yang menampung populasi lebih dari empat juta jiwa.

Kondisi darurat sampah itu terbilang mengkhawatirkan, karena pantai-pantai di Bali akan mengalami 'musim sampah' tahunan saat musim hujan tiba. Menyadari hal itu, dua kakak beradik Melati dan Isabel Wijsen turun tangan mencoba mengatasi masalah tersebut.

Mereka menginisiasi gerakan bernama Bye-bye Plastic Bags, yang bertujuan untuk menghentikan penggunaan plastik di pulau Bali sejak tahun 2013.

Baca juga: Biografi Merry Riana, Mimpi Sejuta Dollar yang Tercapai

Bicara di Forum Internasional

Lewat gerakan Bye-bye Plastic Bags yang mendunia, Melati dan Isabel Wijsen pun kerap diundang di berbagai forum untuk menyampaikan gagasan-gagasan mereka.

Kala berbicara di forum TED, mereka mengungkapkan bahwa hanya 5 persen kantong plastik dapat didaur ulang di Bali. "Di samping banyak kesuksesan dan kesuksesan," kata Melati, "pasti ada tantangan. Terutama berurusan dengan pemerintah dan membujuk mereka untuk bergerak ke arah yang benar."

Dalam upaya untuk menggaet pemerintah daerah, mereka memulai petisi. Keduanya memperoleh izin untuk mulai mengumpulkan tanda tangan di belakang bea cukai dan imigrasi di bandara Bali, dan akhirnya mendapatkan lebih dari 100.000 tanda tangan.