'Mendadak Pengen Makan yang Manis-Manis, Nih'Haruskah Nafsu Sesaat Ini Diikuti?

Mendadak Pengen Makan yang Manis-Manis, NihHaruskah Nafsu Sesaat Ini Diikuti?
ISTOCK

Padahal: lima menit di bibir, lima bulan di pinggul.

Tidak ada hujan, tidak ada petir, tanpa notifikasi terlebih dahulu, kamu mendadak dan menggebu-gebu ingin makan yang manis-manis (martabak, misalnya)—atau oh, yang asin dan pedas (mi instan pakai bubuk cabe level 30). Terakhir kali mengecek, kamu sedang tidak berbadan dua. Sebenarnya apa yang terjadi dalam tubuh, dan haruskah craving, kenikmatan lima menit di bibir dan lima bulan di pinggul ini dituruti? 

“Pertama, kita harus tahu dulu tentang craving,” kata dr. Arti Indira, MGizi., Sp.GK., seorang dokter gizi dari Beyoutiful Clinic, Jakarta. “(Food) craving adalah keinginan yang kuat, kadang abnormal akan sesuatu (makanan). Beberapa pendapat menyatakan craving disebabkan oleh defisiensi suatu zat gizi dan merupakan cara tubuh untuk memperbaikinya. Namun, pendapat lain menyatakan bahwa craving merupakan apa yang ada di pikiran, bukan apa yang tubuh sebenarnya butuhkan,” paparnya.

Lebih lanjut, Dokter Arti menjelas bahwa ada tujuh penyebab yang bisa membuat kita merasakan craving. Antara lain:

  1. Pikiran Tertekan: makanan yang “dilarang” atau sedang dipantang akan menyebabkan keinginan makan makanan tersebut lebih tinggi sehingga menyebabkan craving.

  2. Konteks Asosiasi: otak sering kali mengasosiasikan kegiatan makanan dengan konteks tertentu, "seperti makan popcorn sewaktu menonton bioskop. Sehingga dapat menyebabkan craving setiap kali menghadapi konteks yang sama."

  3. Mood Spesifik: Craving acap kali dipicu oleh suasana hati yang sangat spesifik. Misalnya, mencari “comfort food” jika mood sedang tidak baik.

  4. Level Stres Tinggi

  5. Kurang Tidur

  6. Hidrasi Kurang

  7. Kurang Proteinatau Serat: Protein dan serat dapat membantu rasa kenyang. Apabila asupan protein dan serta rendah dapat menyebabkan lapar dan craving.

Tidak seperti promo kendaraan online, craving tidak mengenal waktu, kapan pun bisa. Bahkan, persis setelah sarapan, makan siang, malam. Kalau sudah begitu, haruskah kita mendengarkan dan menurutinya?

Nggak harus selalu dituruti,” jawabnya. “Pertama, kita harus cari tahu dulu penyebab craving-nya itu apa. Apakah itu dehidrasi, psikologis (bosan/stres), dan lain sebagainya."

Jika metode itu tidak mempan, dan kamu berpikir bahwa satu-satunya cara meredakannya adalah makan, maka: "Kalau masih merasakan craving, boleh saja makan makanan yang diinginkan, tapi dalam porsi kecil," Dokter Arti mengingatkan.

Dan jika hal ini terus terjadi, "kalau constantly craving mungkin arahnya ke food addiction," ujarnya. Oleh karena itu, Dokter Arti menekankan pentingnya mengidentifikasi pemicunya. "Misalnya, jika cenderung craving untuk menghilangkan mood negative, maka cobalah untuk mengalihkan craving dengan kegiatan yang meningkatkan mood."

Seandainya, dengan hati teguh kamu menepiskan craving, adakah efek sampingnya? 

“Tentunya ada,” jawab Dokter Arti. “Karena penyebab craving lebih banyak dari faktor eksternal yaitu pikiran, terlalu sering mengabaikan craving dapat menyebabkan kondisi psikologis yang lebih parah. Salah satunya adalah depresi dapat menyebabkan craving. Oleh karena itu jika terlalu mengabaikan craving dapat memperparah depresi,” ujarnya.

Namun, yang masih jadi pertanyaan: saat craving, adakah pesan yang ingin disampaikan oleh tubuh?

Craving biasanya sangat spesifik dan tidak terpuaskan bila tidak memakan makanan yang diinginkan," jelas Dokter Arti. "Kebanyakan orang cenderung craving makanan tinggi karbo dan tinggi lemak daripada makanan yang bergizi. Sering kali, makanan yang menyebabkan craving bukan merupakan sumber gizi yang terbaik. Contohnya, kamu sedang craving keju yang biasanya sering dihubungkan dengan tidak cukupnya asupan kalsium. Padahal sumber bahan makanan lain seperti tahu lebih dapat mengoreksi defisiensi kalsium karena kalsium pada tofu lebih tinggi daripada keju. Contoh lainnya, pada craving cokelat yang diperkirakan karena defisiensi magnesium, akan lebih baik jika mengonsumsi kacang-kacangan yang mengandung magnesium lebih tinggi,” paparnya.

Dengan kata lain, tubuh tahu apa yang sedang kamu butuhkan—bukan apa yang kamu mau (baca: cokelat). 

Craving sering dipercaya sebagai cara tubuh untuk menjaga keseimbangan nutrisi. Defisiensi zat gizi merupakan salah satu penyebab craving, tapi hanya pada kasus minoritas," Dokter Arti mengingatkan. "Penyebab craving lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal yang tidak berhubungan dengan kebutuhan tubuh untuk zat gizi spesifik,” lanjutnya.