Pertanyaan Serius: Apa Salah Nasi?

Pertanyaan Serius: Apa Salah Nasi?
ISTOCK

#TimPembelaNasi.

Tolong jangan ditembak, tapi dengarkan pengakuan ini: di markas besar Woop, kami adalah pecinta nasi. Semboyan hidup kami adalah "tiada kesan tanpa kehadiran nasi". Kami memakannya dengan gado-gado, soto, gorengan—dan pastinya mie instan. Beberapa orang menyebutnya "double carbs", tapi bagi kami adalah "double darbs." Tidak heran, Woop agak tersinggung dan sakit hati jika mendengar hinaan terhadap nasi, seperti: "jauh-jauh deh, dari nasi," atau "ih, nasi 'kan bikin gemuk, jangan dimakan"—seakan-akan jika berat badanmu bertambah satu kilo (atau lebih) semuanya salah nasi, tidak peduli bahkan jika hobimu adalah makan sampah (yep, gorengan dan junk food) setiap hari. Pokoknya salah nasi—jauhkan diri dari nasi semua masalah berat badanmu akan terpecahkan.

Sebagai pembela dan pencinta nasi sejati, Woop tidak terima. Akhirnya bertanya dan melibatkanLeona Victoria, MNutrDiet, seorang ahli gizi.  

Pertama-tama, sebelum menuduh "nasi itu jahat" ada baiknya mencari tahu apa yang sebenarnya dalam, misalnya sepiring nasi. 

"Kalau dalam ilmu nutrisi, biasanya kita menghitung nasi dengan unit cangkir (mangkok kecil). Satu porsi adalah satu cangkir, bukan satu piring," katanya mengklarifikasi. "Karena satu piring itu, besar porsinya tidak menentu tergantung besar piringnya, cara menumpuk nasi dan lain sebagainya," lanjutnya. 

Menurutnya, satu cangkir nasi mengandung kurang lebih 200 kalori dan 45 gram karbohidrat. "Karbohidrat adalah komponen paling penting dari nasi," katanya. 

Jadi, nasi = 200 kalori dan 45 gram karbohidrat. Iseng-iseng, coba bandingkan dengan kentang goreng ukuran medium yang biasa kita beli di McDonald’s (117 gram) = 370 kalori dan 45,7 gram karbohidrat. Tidak perlu menjadi ahli matematika untuk tahu dimana posisi nasi dibandingkan dengan kentang goreng. Namun, mengapa nasi sepertinya horor dan menjadi musuh besar terutama bagi teman yang sedang menjalankan diet tertentu (misalnya diet mayo atau diet karbo)? Apa memang langsung... simsalabim... menaikkan berat badan begitu dimakan? 

"Tidak, nasi bukanlah musuh," jawab Leona dengan tegas. Nasi itu sendiri bukanlah penyebab utama, melainkan... "orang Indonesia (orang Asia pada umumnya) sangat mengidolakan nasi sehingga mengonsumsi nasi secara tidak proporsional," jelasnya. "Seharusnya satu kali makan adalah satu cangkir nasi, tapi bisa kita lihat banyak yang mengonsumsi nasi satu piring menumpuk hanya ditemani satu telur balado dan kuah gulai, misalnya," paparnya. 

Jadi, dengan kata lain: "Sekali lagi, nasi sendiri tidaklah buruk. Nasi adalah sumber karbohidrat. Yang buruk adalah cara mengonsumsinya: berlebihan, tidak proporsional dengan protein dan serat yang seharusnya juga dikonsumsi bersamaan dengan nasi.

"Segala sesuatu bisa dikonsumsi terlalu banyak termasuk nasi bahkan air putih," tegas Leona. "Terlalu banyak mengonsumsi sumber karbohidrat (tidak hanya nasi), maka gula darah bisa melonjak. Hati-hati dengan penderita diabetes. Membatasi konsumsi satu cangkir nasi tiap kali makan (tanpa tambahan sumber karbohidrat lain) merupakan cara yang terbaik untuk mencegah pelonjakan gula darah drastis. Kelebihan karbohidrat akan disimpan dalam hati, dan sisanya disimpan sebagai lapisan lemak. Hal ini bisa menyebabkan penambahan berat badan," bebernya. 

Cara konsumsi. Prinsip yang diulang-ulang ditekankan oleh Leona. Dan jika ada yang bertanya apakah perlu makan nasi setiap hari... "Tidak perlu. Mitos yang salah bahwa kita harus makan nasi setiap hari, tiga kali sehari. Tidak betul," tegasnya. "Pilihan karbohidrat tidak melulu hanya nasi (putih saja), ada nasi merah, beras basmati, singkong, talas, ubi, jagung, produk bakery wholegrain (berbiji) yang mempunyai Glycaemic Index [rangking relatif karbohidrat di makanan berdasarkan pengaruhnya terhadap gula darah]lebih rendah dibandingkan nasi putih. Bahkan buah-buahan pun mengandung karbohidrat juga," tambahnya.