Vagina Sakit Saat Berhubungan Seks, Wanita Ini Derita Penyakit Langka

Sakit Saat Berhubungan Seks, Wanita Derita Penyakit Langka
Stephanie Muller (metro.co.uk)

Seorang wanita tidak bisa berhubungan seksual akibat kondisi langka yang terjadi pada vaginanya. Simak kisah lengkapnya.

Stephanie Muller yang tumbuh dalam lingkungan keluarga Kristen taat, memutuskan menunggu sampai menikah untuk berhubungan seks dan melepas keperawanannya. Berkat keyakinan agamanya dan sang suami, Andrew (31), mereka menunggu sampai bulan madu untuk berhubungan seks pertama kalinya.

Tetapi ketika mereka mencoba berhubungan seksual, penetrasi sulit dilakukan dan Stephanie berakhir dengan infeksi yang parah. Saat itu, obat yang diberikan padanya tidak berhasil dan infeksinya berlangsung lebih dari tiga bulan. Ketika dia menjalani pemeriksaan panggul, rasa sakitnya semakin tak tertahan hingga membuatnya gemetar, menjerit, dan bahkan menangis.

Stephanie Muller (metro.co.uk)
Stephanie Muller (metro.co.uk)

Pada Januari 2018, Stephanie akhirnya menemui ginekolog untuk mengonsultasikan masalah tersebut. Setelah melalui pemeriksaan, diketahui bahwa dirinya memiliki gejala langka yang disebut vaginismus, kondisi di mana vagina tiba-tiba mengencang.

Baca juga: Takut Terlihat Jelek, Influencer Rela Berdandan Meski Sakit

Ia pun mengatakan diagnosisnya memakan waktu lama, karena dia baru menyadari masalahnya setelah menikah. Dia menjelaskan, "Menyimpan seks untuk malam pernikahan adalah pilihan pribadiku. Aku melakukannya karena tidak ingin berhubungan seks dengan siapa pun kecuali suamiku."

Selama bertahun-tahun, dia merasa malu tidak dapat berhubungan seks dengan suaminya. Ia juga merasakan bahwa kurangnya keintiman dalam hubungan rumah tangganya, membuat mereka merasa seperti teman biasa.

Stephanie dan Andrew (metro.co.uk)
Stephanie dan Andrew (metro.co.uk)

Di tahun 2019, Stephanie merasa dia perlu melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah ini, dan mulai mencoba hal-hal lain yang bisa dia lakukan. Ia akhirnya dirawat di Pusat Terapi Wanita di Plainview, New York, dan dia mengatakan hal itu telah membantu kondisinya.

"Suamiku selalu mendukungku selama proses penyembuhan. Setiap kali aku merasa pesimis dan mengalami breakdown, dia akan selalu mengatakan bahwa hal itu tidak benar sambil menyemangatiku," ungkapnya dilansir dari Metro Online.

Ia lalu melanjutkan, "Dia akan terus-menerus mengingatkanku, bahwa dia tidak pergi ke mana pun, bahkan jika penyakitku tidak pernah sembuh."

Setelah menjalani perawatan, Stephanie merasa lebih bersedia membuka diri tentang kondisinya. Sekarang, dia justru ingin meningkatkan kesadaran tentang bagaimana hal itu dapat berdampak pada wanita.

Selanjutnya: Bukan hanya untuk lelaki, seorang perempuan asal Inggris mampu memecahkan rekor angkat beban. Simak kisah lengkapnya!

Loading Facebook Comment ...