Apa Akibatnya Jika Orangtua Memberikan Si Kecil Label 'Anak Nakal'

Apa Akibatnya Jika Orangtua Memberikan Si Kecil Label Anak Nakal
ISTOCK

Apa itu nakal?

“Namanya juga anak-anak, nakal ya wajar.” Cukup sering pernyataan serupa keluar dari mulut orangtua. Seperti kata pepatah "lidah tidak bertulang," sehingga saking seringnya dan mudahnya diucapkan, pengertian dan dampaknya sama sekali tidak terpikirkan. 

Marcelina Melisa Dewi, S. Psi, M. Psi, Psikolog., seorang psikolog klinis anak dari Mutiara Edu Sensori dan Brawijaya Clinic mengatakan: “Saat anak tidak patuh pada orangtua, kita langsung menilai anak sebagai anak nakal. Dengan memberikan label tersebut, anak akan mempersepsikan dirinya sebagai anak yang tidak patuh. Semakin lama label yang diberikan kepada anak akan semakin melekat padanya, sehingga akan menyulitkan saat anak ingin berperilaku baik dan sesuai dengan tuntutan norma.”

Orangtua langsung menilai anak sebagai anak nakal. Namun apa sebenarnya definisi yang tepat untuk kata “nakal” itu? “Dalam ilmu psikologi klinis, terdapat gangguan yang disebut ‘oppositional defiant disorder’ atau pola perilaku anak yang suka melawan figur otoritas,” ujar Lina. Apa saja gejalanya? “Anak dengan gangguan ini menampilkan perilaku yang tidak patuh dan suka menentang orangtua, guru, dan orang dewasa yang ada di sekitarnya. Tidak mematuhi aturan, menampilkan tingkah laku yang tidak menyenangkan bagi orang lain, dan cenderung menyalahkan orang lain atas kesalahannya,” jelasnya.

Lisa menerangkan kenakalan anak tidak muncul begitu saja, ada beberapa penyebab yang sebaiknya diperhatikan oleh orangtua. Antara lain: 

  • Anak terbiasa selalu mendapatkan apa yang diinginkan sejak kecil. Saat mereka beranjak dewasa/besar, anak akan kaget saat harus menaati aturan dan norma yang ada.
  • Mendapatkan contoh perilaku yang kurang baik dari lingkungan sekitarnya

  • Memiliki temperamen yang keras, sehingga butuh diberikan pemahaman lebih dibandingkan anak seusianya.

Akan tetapi, menurut Lina, sebaiknya kata “nakal” tidak dikeluarkan orangtua kepada anak. Jika kenakalan yang diperbuat masih dalam batas kewajaran, dan memang anak masih di usia pra-sekolah dan ingin mengeksplori hal-hal yang ada di sekelilingnya. Salah satu contoh tingkah laku yang masih "wajar" adalah apabila anak tersebut tidak patuh saat diberikan penjelasan logis mengenai sesuatu. Misalnya, tentang kenapa dia tidak diperbolehkan makan cokelat dan permen terlalu banyak setiap hari. Namun, karena rasa ingin tahu yang tinggi, terkadang membuat mereka sulit mendengarkan alasan logis di balik larangan tersebut. 

Di sisi lain, Lina mengatakan bahwa orangtua patut waspada ketika anak menunjukkan sikap-sikap yang sepertinya bisa masuk dalam kategori bertingkah laku "tidak wajar." Anak membantah dan tetap bersikeras, tidak mendengarkan orangtua, dan ingin melakukan keinginannya tanpa peduli situasi dan kondisi. Ambil contoh, anak yang seringkali mengamuk saat menginginkan mainan mobil-mobilan, padahal beberapa hari yang baru saja diberikan mainan sejenis itu. 

"Perilaku anak yang mulai membahayakan adalah saat tingka lakunya sudah menganggu fungsi adaptif, baik di rumah, sekolah, maupun di lingkungan lainnya. Misalnya, dia menjahili adiknya terus menerus hingga muncul peristiwa untuk adik, dan mereka berdua berkelahi terus. Atau di sekolah, dia memukul temannya dengan sengaja," kata Lina. 

Akan tetapi, tetap saja memberikan label "anak" kepada anak yang tingkah lakunya "tidak wajar" bukan solusi. Orangtua sebaiknya bersikap lebih hati-hati dalam memberikan label “nakal” kepada anak, karena anak berlabel tersebut dapat semakin mempertahankan perilakunya, dan justru merasa rendah diri dan mempersepsikan dirinya secara negatif. "Sebaliknya, anak yang diberikan pemahaman dan contoh nyata mengenai perilaku yang diharapkan, dapat belajar hal yang positif secara terus-menerus sehingga akan menampilkan perilaku yang baik."

Untuk orangtua, Lina memberikan beberapa cara yang dapat dilakukan oleh saat menghadapi anak yang sulit mematuhi aturan di lingkungannya atau penjelasan logis untuk segala hal. 

  1. Menunjukkan/memberitahukan kepada tingkah lakunya yang mana yang kurang tepat.

  2. Menunjukkan bagaimana seharusnya anak berperilaku, atau apa yang seharusnya dilakukan oleh anak.

  3. Menjadi contoh bagi anak untuk menampilkan perilaku yang sesuai. Anak akan menjadikan orangtuanya sebagai role model. Saat mereka melihat bahwa perilaku orangtua konsisten dengan tuntutan dan aturan, maka anak akan mencontoh perilaku yang baik.

  4. Menerapkan disiplin positif, dengan memberikan pemahaman konsekuensi dari tindakan yang akan dilakukannya.