Apa yang Terjadi Saat Anak Berbagi Tempat Tidur dengan Orangtua?

Apa yang Terjadi Saat Anak Berbagi Tempat Tidur dengan Orangtua?
ISTOCK

Ada banyak alasan anak berbagi tempat tidur dengan orangtua mereka. Namun, apa dampaknya bagi anak dan orangtua?

Memang, kita sering menemukan kondisi saat anak usia 5-12 tahun masih tidur bersama orangtua, dengan berbagai alasan. Apapun itu, butuh kesiapan dari kedua belah pihak baik anak dan orangtua jika ingin membiasakan anak untuk tidur di kamar sendiri. Ada proses yang membutuhkan kreativitas dan kesabaran orangtua.

Lakukan dalam bentuk tahapan-tahapan. Contohnya, anak dipersiapkan untuk tidur dengan menggosok gigi terlebih dahulu serta cuci kaki dan tangan serta memakai baju tidur. Saat akan tidur, anak bisa ditemani terlebih dahulu, didongengkan cerita, lalu setelah anak tertidur, orangtua bisa kembali ke kamar. Kondisikan supaya anak merasa memiliki kamar tidurnya sendiri -jadi mulai libatkanlah anak dalam setiap proses dekorasi dan pemilihan barang untuk kamarnya. Lighting juga sangat membantu, berikan lampu penerangan yang temaram di kamar anak agar teduh sehingga anak merasa rileks. Alunan musik yang lembut seperti musik instrumental juga dapat membuat anak mudah mengantuk dan akhirnya tertidur. Usahakan untuk tidak menyertakan gadget, seperti TV dan tablet atau smartphone di dalam kamar anak, karena adanya screen time dapat membuat anak aktif dan tergoda untuk menonton TV atau bermain games sehingga mengganggu waktu tidur yang sudah direncanakan. Ciptakan ritual-ritual seperti ini untuk membentuk kebiasaan anak tidur di kamarnya sendiri.

Untuk keluarga yang memang memiliki keterbatasan tempat sehingga tidak dapat menyediakan kamar terpisah untuk anak, orangtua perlu mulai memperkenalkan pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi sejak dini; mengajarkan anak-anak untuk saling menghargai tubuhnya masing-masing, serta tetap berikan batasan privasi mana yang boleh dilakukan bersama, mana yang tidak. Misalnya kakak dan adik yang berbeda jenis kelamin tidak boleh tidur sambil berpelukan, melainkan dibatasi oleh guling atau bantal.

Orangtua pun perlu sangat hati-hati saat akan melakukan hubungan intim. Carilah waktu yang tepat dan lakukan dengan tenang. Bila anak tiba-tiba terbangun dan melihat hubungan intim tersebut, segera beri penjelasan bahwa ini adalah wujud kasih sayang ayah kepada ibu dan begitu sebaliknya. Namun hubungan intim ini hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang telah menikah. Pasalnya melalui hubungan intim inilah, ibu dapat hamil hingga akhirnya melahirkan bayi. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan darimana asalnya bayi, dan seterusnya. Orangtua juga dapat menggunakan buku-buku cerita tentang reproduksi sebagai alat bantu agar anak lebih memahami proses reproduksi sehingga anak memiliki konsep tentang seksualitas yang lebih positif.