Bagaimana Ini: Kamu Tahu Pasanganmu Brengsek Tapi Terlalu Cinta untuk Ditinggalkan

Bagaimana Ini: Kamu Tahu Pasanganmu Brengsek Tapi Terlalu Cinta untuk Ditinggalkan
ISTOCK

Bagaimana jika dia menolak untuk ditolong?

Ternyata tidak ada istilah 'brengsek' dalam ilmu psikologi. Br*ngs*k. 

“Saya akan memakai konteks kekerasan dalam pacaran ya, agar lebih jelas ditelaah secara teori. Brengsek adalah term yang tidak ada definisi operasionalnya di psikologi,” kata Sri Juwita Kusumawardhani., M. Psi., Psikolog., seorang psikolog klinis dewasa, dari LPTUI dan TigaGenerasi yang juga Founder dari Cinta Setara.

Wita melanjutkan, “dalam hubungan berkekerasan (kekerasan dalam pacaran) terdapat siklus kekerasan."  Selayaknya siklus, yang artinya ada 'musim' dan masanya, siklus kekerasan yang terjadi di dalam sebuah hubungan terkadang juga memilikii periode timbul tenggelam. "Hal tersebut yang membuat seseorang merasa punya harapan bahwa pacarnya akan berubah," jelas Wita. Misalnya, ketika pada proses pengejaran kembali dan bulan madu, pelaku kekerasan menunjukkan sikap yang manis dan usaha untuk meluluhkan hati dari pasangannya. "Usaha tersebut membuat pasangan merasa bahwa kejadian menyakitkan kemarin hanyalah kekhilafan saja dari pelaku, dan pelaku dapat berubah. Padahal ini adalah sebuah siklus yang mana akan terus berputar, selama pelaku tidak memperoleh penanganan psikologis," tuturnya.

Seserius itu. 

“Iya, selain adanya harapan bahwa pasangan dapat berubah, ada juga alasan-alasan lain yang membuat seseorang sulit untuk meninggalkan hubungan yang tidak sehat dan tidak membahagiakan, yakni: perasaan takut (karena ada ancaman dari pelaku), perasaan bersalah dan malu (jika sudah melakukan hubungan seksual dengan pelaku), kehamilan, dan/ atau tergantung secara finansial dengan pelaku,” jelasnya lagi.

Ah, perasaan itu memang rumit. Sulit dimengerti. Terkadang, kita sampai tidak tahu harus berbuat apa, meskipun yang pasangan lakukan sudah sangat menyakitkan. Saat ditanyakan alasannya, formula defensif kita adalah: 'dia pasti berubah!' Sebenarnya, adakah kemungkinan berubah—adakah caranya?

“Dalam konteks kekerasan ini, pelaku membutuhkan penanganan psikologis yang intensif dari tenaga profesional,” jawab Wita.

Kita sudah tahu tentang kebiasaan negatifnya,  dan tetap saja kaki dan hati berat meninggalkannya. Apa yang harus dilakukan: a) tetap bertahan, karena dia pasti akan berubah atau b) sudahi saja! 

“Bertahan dalam hubungan yang berkekerasan akan berdampak besar terhadap kondisi psikologis atau fisik/ nyawa jika memang sudah ada kekerasan fisik,” ungkapnya. “Individu akan merasa memiliki persepsi bahwa perilaku pelaku tersebut adalah disebabkan kekurangan/kesalahan dari dirinya sehingga merasa tidak berharga. Saat individu merasa tidak berharga, mereka memilih untuk bertahan dalam hubungan yang tidak sehat tersebut karena merasa bahwa tidak akan ada lagi laki-laki baik yang mau, menerima mereka selain pasangan saat ini,” sambungnya.

Menurutnya, hal ini akan berdampak jangka panjang, apalagi jika akhirnya memutuskan untuk tetap berhubungan (menika, pacaran) dengan pelaku. Dapat diartikan bahwa mereka siap membangun keluarga dari hubungan yang tidak berkualitas dan berdampak terhadap pengasuhan anak. "Karena ini juga bisa membahayakan kondisi fisik dan psikologis anak," Wita mengingatkan.