Bagaimana Mengetahui Bahwa Temanmu Memang Butuh Nasihat

Bagaimana Mengetahui Bahwa Temanmu Memang Butuh Nasihat
ISTOCK

New flash: terkadang mereka hanya butuh didengarkan.

Temanmu sedang menceritakan situasi terbaru dari polemik cintanya yang sudah berlangsung lebih dari satu bulan. Apakah itu signal valid dia butuh nasihatmu yang bilang saja, hmm... nihil pengalamannya dalam hal itu? Bisa jadi, dia hanya ingin bercerita 'kan?

“Tentunya, nasihat dibutuhkan oleh seseorang. Apalagi jika seseorang sedang berada dalam kondisi emosi yang tidak stabil. Karena dalam kondisi ini biasanya seseorang mengalami kesulitan untuk berpikir secara lebih jernih, sehingga dibutuhkan bantuan orang lain untuk membuka pandangan dan pikirannya,” ujar Rena Masri, M. Psi, Psikolog., seorang psikolog klinis dewasa dari Q Consulting dan juga pendiri Cinta Setara

Ah malas ah, takut salah! Eits, pertimbangkan bahwa betapa ada banyak manfaat yang bisa didapatnya saat diberikan perspektif dan saran: 

  1. Membantu dia memutuskan mana yang terbaik untuk hidupnya. 

  2. Mengingatkan dia agar tetap melakukan hal-hal yang positif dan tidak melanggar norma.

  3. Membuat lingkungannya lebih nyaman dan aman.

Okelah. Namun, sejujurnya agak bingung kapan mengutarakan saran tersebut! 

“Waktu yang tepat untuk memberikan masukan atau nasihat adalah saat teman kita sudah tenang dan dalam situasi yang nyaman,” kata Rena. Nuh—bukannya saat itu dia malah sudah tidak butuh nasihat? “Dalam memberikan nasihat, tentu saja kita juga perlu memperhatikan karakter teman tersebut. Misalnya saja, jika teman kita tergolong orang yang lemah lembut dan sangat perasa, maka berikan nasihat dengan suara yang juga lembut, bukan dengan nada tinggi. Selain itu, kita juga harus memikirkan penggunaan kata-kata agar tidak menyinggung perasaannya,” jawabnya.

Rumit ya, ingin dibantu kok malah... *becanda. 

Ia kembali melanjutkan, “jika teman kita masih terlihat emosional (misalnya, menangis atau marah), maka hal yang dapat kita lakukan saat itu adalah menenangkannya terlebih dahulu. Usahakan agar ia bisa mengontrol dan menyalurkan emosinya secara baik supaya dapat menjadi lebih tenang dan rileks. Jika sudah tenang barulah kita boleh memberikan pandangan kita.”

HALAMAN
123