Benarkah Anak Harus Dilarang Membaca Buku Disney Princess?

Benarkah Anak Harus Dilarang Membaca Buku Disney Princess?
ISTOCK

Haruskah mengucapkan selamat tinggal pada Cinderella dan Snow White?

Ada buku dongeng tentang putri-putri nan cantik bermata besar berpinggang kecil di sekitar rumah? Singkirkan dan jauhkan dari si kecil karena akan merusak anakmu. Oh, saran ini bukan dari Woop ya, melainkan dari Keira Knightley yang baru-baru ini bilang dia melarang anak perempuannya untuk menonton Cinderella dan The Little Mermaid karena penggambaran (menurutnya, ya) perempuan tidak tepat. Tidak hanya dia, Kristen Bell juga mengatakan (FYI, dia pengisi suara Anna di Frozen) bahwa Snow White memberikan pesan yang salah tentang perihal tentang consent. "Karena kamu tidak bisa mencium seseorang jika mereka tidur." Begitu katanya. 

Jadi, apakah memang sebaiknya anak dilarang menonton atau membaca buku-buku Disney Princess? 

“Perkembangan anak terdiri dari fisik, kognitif, dan psikososial. Setiap kegiatan dapat mempengaruhi perkembangan anak, tidak terkecuali dengan membaca buku cerita Princess Disney," ujar Hertha Christabelle Hambalie, M. Psi., psikolog, seorang psikolog anak dari Clarity Assessment and Development Center. "Kegiatan membaca buku cerita Princess Disney dapat mempengaruhi perkembangan anak, terutama di area kognitif dan psikolososialnya. Dari segi kognitif anak belajar mengenal nama-nama benda atau hewan, misalnya pada cerita Cinderella, adanya hewan tikus, kuda, burung. Atau dari cerita Princess Ariel, ada ikan, anjing, lobster, dan kura-kura. Dari segi psikolososial anak akan belajar bagaimana bersikap di lingkungan, misalnya nih, Princess Tiana mau bekerja keras atau cerita Snow White yang mau membantu orang lain," jelasnya. 

Jika kognitif dan psikolososial akan didapatkan oleh anak. Namun, bagaimana dengan pengaruh baik dan buruknya?

“Pengaruh baik dan buruk yang bisa didapatkan tergantung bagaimana orangtua menerangkan cerita dan anak menangkap suatu cerita,” ujarnya. Menurutnya, buku cerita Princess Disney memiliki sisi positif, di antaranya:

  • Anak mampu mengenal berbagai nama benda, hewan, atau lingkungan baru dengan cara yang menarik.

  • Anak belajar memahami kejadian yang bersifat sebab akibat di dalam sebuah cerita.

  • Anak mendapatkan role model yang memiliki sifat-sifat atau perilaku positif yang dimiliki oleh tokoh dalam cerita. Misalnya, Princess Belle yang suka membaca dan sayang dengan ayahnya, Prince Philip (pasangan Princess Aurora) yang pemberani atau Cinderella yang baik hati dan penyayang binatang.

Namun, ada juga beberapa pengaruh negatif yang harus diketahui oleh orangtua:

  • Selain ada tokoh baik (protagonis) ada pula tokoh jahat (antagonis) dalam cerita, sehingga anak juga mendapatkan role model atau contoh tokoh dengan sifat buruk. "Di sinilah peran orangtua untuk menjelaskan perilaku atau sifat apa saja yang tidak boleh dicontoh. Orangtua dapat menerangkan dengan bantuan sebab akibat. Misalnya, tokoh-tokoh jahat akan kalah dengan tokoh baik."

  • Buku Disney dibuat dengan kandungan budaya Barat yang mungkin tidak selalu sesuai dengan budaya di Indonesia. "Misalnya, ciuman bibir. Orangtua dapat menerangkan hal tersebut dilakukan saat dewasa dan kepada orang yang disayang. Misalnya, ayah kepada ibu," terangnya.

“Dengan kata lain, setiap buku (termasuk Disney Princess Book) memiliki hal yang positif dan negatif, untuk itu perlu pendampingan orangtua selama kegiatan membaca cerita,” katanya.

Yep, benar. Pendampingan orangtua menjadi hal terpenting untuk anak. Lalu, buku seperti apa yang memang harus diberikan kepada anak?

“Buku yang harus diberikan pada anak adalah buku yang sesuai dengan usia anak. Mulai dari usia 1,5 sampai 2 tahun diberikan buku-buku yang berfokus pada gambar dan nama-nama benda, binatang, buah atau bentuk. Pada usia lebih dari 2 tahun, anak mulai diberikan buku cerita dengan kalimat-kalimat singkat. Kemudian, pada usia 3 tahun ke atas, anak sudah mampu diberikan cerita yang lebih panjang. Setiap buku memiliki kategori usia tertentu. Misalnya, buku pun Disney dibagi sesuai dengan kategori usia,” saran Hertha.

Selain itu, “buku yang perlu diberikan kepada anak adalah buku yang memiliki pesan positif yang sesuai dengan pesan yang ingin diajarkan orangtua. Pertimbangkan buku-buku yang memang memiliki budaya berbeda, mulai dari cara berpakaian, cara bicara atau bahasa dan cara berperilaku,” lanjutnya.

“Buku cerita adalah media yang sangat baik untuk belajar, karena memberikan contoh nyata atau modeling perilaku, sehingga lebih mudah dipahami oleh anak. Bila memang tidak mau memberikan buku bacaan tentang Disney, orangtua dapat mencari alternatif buku lain yang memang sesuai dengan anak atau orangtua seperti cerita rakyat," sarannya.

Atau, "orangtua dapat berkreasi dengan membuat cerita sendiri. Pembuatan cerita dapat dengan menggunakan foto keluarga, stiker, gambar yang dapat digunting dan ditempel menyesuaikan cerita. Orangtua juga dapat menggunakan boneka atau mainan lain yang mendukung cerita. Buatlah cerita yang ringan, misalnya tentang kehidupan sehari-hari (social story) tapi tetap mengandung pesan positif, seperti kejujuran, sopan santun, atau berbagi. Berikan kesempatan anak untuk ikut aktif dalam cerita yang dibuat. Jadikan hal tersebut aktivitas yang menyenangkan dengan anak,” saran Hertha.

Ah, leganya karena berarti masih sah untuk mengajak si kecil menonton para putri Disney di Wreck-It Ralph 2

Selanjutnya: Kamu tidak boleh melakukan hal ini—apa pun yang terjadi. Dampak negatifnya terlalu besar bagi anak.