Dilema Menjadi Ibu Tiri: Apa yang Harus Diketahui Sebelum Dicap Kejam?

Dilema Menjadi Ibu Tiri: Apa yang Harus Diketahui Sebelum Dicap Kejam?
ISTOCK
Dilema Menjadi Ibu Tiri: Apa yang Harus Diketahui Sebelum Dicap Kejam?

Ibu tiri ≠ Lady Tremaine. 

Apa persamaan yang dimiliki Snow White, Cinderella, kembar di The Parent Trap, Prince Edward di Enchanted? Sama-sama memiliki ibu tiri yang tabiatnya yang ya... ampun! Thanks to Disney, bertahun-tahun lamanya imej ibu tiri yang tertanam adalah kejam, kerjanya nyuruh-nyuruh dan terobsesi dengan hal-hal berbau fisik (mata duitan, awet muda). Namun, penasarannya kenapa di dunia Disney, tidak ada figur ayah tiri jahat, ya? Another misogyny

Entah para pendongeng itu sadari atau tidak saat membuat cerita-cerita tersebut, imej negatif ibu tiri tersebut memberikan beban tersendiri terutama bagi mereka yang akan menikah dengan pria duda, dan memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Pasti sulit untuk mementahkan pandangan tersebut di dunia nyata non-Disney. 

Menurut Fathya Artha Utami, M.Psi., seorang psikolog anak dari Paediatric Clinical Psychologist, memang, beban yang ditawarkan cukup berat untuk menjadi menjadi ibu penyambung atau ibu tiri, ditambah aneka ragam judgements yang diberikan oleh banyak orang. Oleh karena itu, ada yang harus kamu ketahui sebelum memutuskan untuk menikah dan akan memiliki anak sambung. 

1. Pastikan kamu tahu tentang latar belakang dan kondisi pasangan.

“Latar belakang tersebut bisa mencakup, alasan kenapa bercerai, apakah pasangan sudah sepenuhnya ‘move on’, apakah keluarga besarnya menerima pasangan baru, jumlah anak, kondisi psikologis anak, dan sebagainya.”

2. Menanyakan diri sendiri 'apakah saya siap?'

“Tanyakan pada diri, apakah sudah siap untuk memulai pernikahan dan langsung memiliki dua peran sekaligus, yaitu menjadi istri dan seorang ibu. Begitu juga terkait financial, bahwa setelah menikah ada biaya selain biaya hidup dengan pasangan yang perlu dipikirkan, seperti kebutuhan anak, pendidikan anak, dan sebagainya. Komunikasikan hal-hal tersebut dengan calon pasangan. Komunikasikan juga ketakutan-ketakutan yang kamu miliki agar bisa diselesaikan sebelum pernikahan.”

3. Get along with the kids.

“Ketika berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan pasangan yang sudah memiliki anak, pendekatan harus dilakukan pada anak-anaknya. Pendekatan ini bisa terlihat mudah atau sulit, tergantung dari penerimaan anak terhadap orang baru. Agar lebih mudah, cari tahu hal-hal yang disukai anak dan ajaklah bermain. Lebih mudah ketika anak tersebut masih berusia di bawah 5 tahun, karena ia masih suka bermain.”

4. Mulailah baca buku.

“Mulailah membaca buku-buku seputar tumbuh kembang anak agar mengetahui cara yang tepat mendekati dan bermain bersama anak sesuai dengan usianya.”