Ingin Putus, Tapi Pasangan Menolak? Ini yang Harus Dilakukan!

Ingin Putus Tapi Pasangan Menolak? Ini yang Harus Dilakukan!
ISTOCK

Info: sebelum mengucapkan kata "putus", sebenarnya seseorang sudah putus secara emosional. 

Jadi akhirnya terjadi: kamu ingin memutuskan pasangan. Rasa "itu" sudah tidak ada, konon. Namun, tidak peduli baru tiga bulan atau sudah tiga tahun berhubungan, mengakhiri sebuah percintaan itu pelik.

Jika kamu merasakan jaman keemasan Nokia 3310, barangkali akan setuju bahwa urusan putus-memutuskan sekarang 20 kali lebih rumit dibandingkan 20 tahun yang lalu. Semua mereka akan tahu karena tiba-tiba dia mengganti foto profil, plus #breakupsucks, #patahhati, dan #jomblo. Lalu, drama digelar, lengkap dengan skenario ala sinetron Indosiar. Ini membuat kita bertanya-tanya: sebenarnya, adakah cara memutuskan dengan efek drama minimalis? Dan oh, boleh 'kan lewat telepon saja—soalnya, melihat wajahnya saja membuat perut bergejolak!

“Akan lebih baik jika putus secara bertatap muka," saran Pingkan C. B. Rumondor, M.Psi, Psikolog., seorang dosen dan psikolog klinis dari Departemen Psikologi Universitas Bina Nusantara. Jakarta dan pendiri cintasetara

"Dengan demikian kita bisa mengemukakan dengan jelas alasan mengapa memutuskan hubungan. Jika hanya dari teks/pesan singkat, maka terkesan kurang sopan dan bisa timbul salah paham dari keterbatasan media. Jika bertatap muka, maka perasaan juga dapat tersalurkan melalui ekspresi wajah dan intonasi suara," jelasnya. 

Tatap muka. Melihat mukanya, menatap matanya dan berkata dengan suara jernih, "sepertinya hubungan ini sudah tidak punya masa depan lagi," atau "aku ingin putus." Ohya, "Sebelum bertemu, sebaiknya diperjelas dahulu, apa tujuan dari pertemuan tersebut. Dan fokus pada tujuan dari pertemuan tersebut. Jagalah percakapan tetap 'business-like'/formal agar tidak tergoda untuk kembali,” Pingkan mengingatkan.

Dan bilang saja, kamu berhasil mengucapkannya dengan tegas dan lantang di depannya. Namun, di luar skenario, si-calon-mantan tidak menerima kabar terbaru itu dengan ikhlas. Uh-oh. Bagaimana menghadapi situasi ini dengan bijak?

Menurut Pingkan, ada tiga hal yang bisa dilakukan saat si dia tidak rela dan menolak putus:

  1. Jika seseorang sudah mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan, biasanya "perpisahan" antara dia dan pasangannya sudah terjadi jauh sebelum keputusan putus diambil. Perpisahan tersebut bisa dalam bentuk "perpisahan emosional" (semakin berjarak, merasa "jauh", jarang menghabiskan waktu bersama, dan lainnya). "Jadi, jika pasangan menolak keputusan kita untuk mengakhiri hubungan, maka ungkapkan fakta-fakta mengenai perpisahan emosional tersebut," Pingkan menganjurkan.

  2. Selain alasan mengenai perasaan, alasan putus bisa juga karena orang yang meminta putus sudah menyadari ada perbedaan yang tidak bisa ia terima (contoh: keyakinan, kebiasaan, dan lainnya). "Jadi, bisa jabarkan alasan ini, beserta fakta-fakta yang kamu amati."

  3. Terakhir: keputusan untuk putus tentu bukan keputusan yang mudah dan sudah dipikirkan sebelumnya. Ada alasan kuat yang mendasari. "Jadi, kalau pasangan tetap tidak bisa menerima, maka bisa menekankan lagi bahwa: kamu dan pasangan menginginkan hal yang berbeda (sehingga semakin memperkuat alasan untuk putus). Ingatkan juga bahwa hubungan itu bisa berjalan kalau ada dua individu yang setuju menjalani. Jadi, kalau salah satu pihak saja sudah tidak mau menjalani, maka apa pun kata si pasangan, maka hubungan tersebut tetap tidak bisa dilanjutkan," tegas Pingkan. 

Jadi, ingat baik-baik: "Maka dari itu, pertimbangkan dulu alasan putus sebelum membicarakan keputusan ini ke pasangan,” kata Pingkan.

Shop From Our Partner Cathaofficial.com