Jangan Asal Blokir Sosmed Mantan! Belajar Move-on Sehat dengan Cara Ini!

Jangan Blokir Sosmed Mantan! Ini Move-on yang Lebih Sehat
ISTOCK

Di-unfollow, di-block, atau dibiarkan saja? Apa dampaknya? Semua tergantung keadaan putusnya.

Pertanyaan sederhana: saat putus dengan pasangan, bagaimana dampaknya kepada hubungan di media sosial? Apakah sebaiknya di-unfollow, diblokir, atau biarkan saja siapa tahu...? Apalagi jika berakhirnya hubungan diwarnai dengan jeritan, urat di leher,  uraian air mata, lelehan ingus dan semburan air ludah. Singkat kata: seperti drama sinetron di Indosiar. 

“Pengalaman yang telah kita lalui tidak bisa kita hilangkan dari memori kita. Hal terbaik yang dapat dilakukan dengan pengalaman buruk adalah dengan menerima pengalaman tersebut, memaafkan diri sendiri dan orang lain yang terkait di dalamnya, dan carilah hikmah dari pengalaman tersebut. Sehingga diharapkan di kemudian hari kita tidak mengalami yang serupa,” kata Rena Masri, M. Psi, Psikolog., seorang psikologis klinis dari Q Consulting dan pendiri Cinta Setara.

Dulu, waktu masih SD, guru pasti pernah bilang bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Itulah sisi baiknya memori: tidak bisa dilupakan sehingga bisa dijadikan bahan pembelajaran. Yep, tidak mudah—yang bilang mudah, sepertinya patut dicurigai—terlebih di era keemasan media sosial yang membuatmu bisa melihat apa yang sedang dilakukannya—dan bersama siapa! Bukannya melanjutkan hidup, malah akhirnya terjebak di parallel universe di mana kamu masih menjadi Juliet dan dia Romeo pra-adegan di balkon. Jadi, apakah kita sebaiknya harus menghapus, memblokir, dan berhenti mengikuti (unfollow) media sosialnya? 

“Jadi, saat kita belum bisa menerima keadaan putus, ada baiknya untuk men-delete foto dan lainnya yang berhubungan dengan mantan. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak lagi terpancing secara emosional oleh foto-foto, barang-barang, dan lain sebagainya, yang berhubungan dengan mantan," jawab Rena. Dan, "jika kita merasa masih terganggu dengan melihat aktivitasnya, maka mem-block atau unfollow lebih baik," tegasnya. Terlebih, jika setelah hubungan berakhir, mantan tidak terima, masih terobsesi, mengejar-ngejar, "sedangkan kita sudah yakin untuk putus, keputusan untuk mem-block atau unfollow juga terasa tepat, agar si mantan tidak dapat ‘mengganggu’ kita lagi, jika penyebab putus dikarenakan adanya kekerasan,” paparnya.

Namun, “jika kita sudah menerima keadaan, tentu hal ini tidak akan banyak mempengaruhi kita. Karena kita sudah bisa ‘move on’ dari keadaan putus,” tambahnya. 

Menurutnya, tidak semua kasus putus cinta itu harus men-unfollow, memblok, atau bahkan menghapus akunnya dari media sosialmu. “Karena akan sangat berbeda kondisinya untuk setiap kasus putus cinta. Untuk itu sangat perlu kita memahami bagaimana perasaan kita setelah putus, agar lebih memudahkan kita untuk melangkah kembali,” sambungnya.

Bilang saja selama berhubungan tidak hanya dia yang kamu pelototin, tapi juga ibunya, tantenya, saudara sepupunya, bahkan keponakannya. Bagaimana dengan "nasib" mereka di akunmu? Entah kenapa, diblok atau di-unfollow terkesan ekstrim. 

“Ini juga sangat terkait dengan kasus putus cinta,” tegas Rena. “Jika setelah putus, keluarga mantan menjadi lebih sering menghubungi untuk meminta kembali misalnya, dan hal ini membuat kita terganggu, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah mengomunikasi hal ini secara asertif. Kita bisa bilang secara baik-baik, seperti kalau memang sudah tidak mungkin untuk kembali, atau kalau memang kita merasa terganggu dengan telepon atau chat mereka yang sangat sering dan meminta untuk kembali. Bisa juga mengatakan secara jujur jika kita butuh waktu untuk menenangkan diri sehingga untuk waktu tertentu kita minta untuk tidak menghubungi dulu,” jelasnya.

Sekali lagi, Rena mengatakan: “Sebagai manusia dewasa tentu kita juga harus bertindak dan berperilaku layaknya seorang dewasa. Kita harus terus berusaha untuk bangkit dan kembali menjalani hari-hari dengan positif dan semangat. Maka, nanti jika kita telah tenang dan menerima keadaan, kita akan merasakan bahwa sebenarnya tidak perlu menjauhi mantan atau pun teman dan keluarganya.”

Bilang saja perasaanmu (sepertinya) sudah baik-baik saja, tetap menjadikan si mantan dalam lingkaran sosial dunia maya. Satu saat, dia memposting sesuatu, dan jempol sangat gatal untuk bereaksi, apakah oke menyerah pada godaan untuk memberikan komentar atau ikon tidak berdosa, 'like'?

“Boleh saja,” jawab Rena. “Tidak ada salahnya dari sebuah like atau memberikan komenter di sosial media mantan, apalagi jika hubungan kita dengan mantan memang sudah baik dan sudah tidak ada ketegangan. Kita bisa melakukan hal-hal seperti yang kita lakukan terhadap teman kita kepada mantan kita.”

FYI, tidak semua mantan harus diperlakukan seperti virus mematikan. Namun, move on itu perlu.  

Rena menjelaskan putus cinta bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dilalui, apalagi jika hubungan yang dibangun telah sedemikian kuat. Ada banyak perasan yang akan muncul setelah putus cinta; marah, sedih, kesal, kecewa, lega dan lain sebagainya. Perasaan yang muncul itu dipengaruhi oleh penyebab putusnya suatu hubungan.

“Kalau ditanya bagaimana caranya move on, itu sebenarnya tergantung pada apakah kita sudah menerima keadaan atau belum. Jika kita sudah bisa menerima keputusan untuk berpisah biasanya akan lebih mudah untuk menghadapi suasana setelah putus. Namun, jika belum, maka itu yang akan menghambat diri kita untuk move on,” tuturnya.

Menurut Rena, ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar dapat memahami dan menerima keaadaan putus cinta, antara lain:

1. Telaah kembali penyebab putus. Apakah penyebab putus merupakan hal-hal yang sepele yang bisa didiskusikan ataukah memang hal besar dan mendasar yang sulit untuk dicari jalan tengahnya.

2. Berikan waktu kepada diri sendiri untuk menerima keadaan putus.

3. Lebih memperhatikan kebahagiaan diri. "Gunakan waktu untuk melakukan ‘me time’ atau hal-hal yang disukai. Hal ini dimaksudkan agar pikiran dapat menjadi lebih jernih dan perasaan menjadi lebih tenang, sehingga dapat lebih rasional dan tidak emosional dalam bertindak."

4. Intropeksi diri. "Cobalah untuk lebih memahami diri sendiri, apa kekuatan dan kelemahan kita. Buatlah target untuk mengembangkan kekuatan kita."

5. Bergaul. Artiinya, bertemu teman untuk sekadar makan bersama atau bertukar pikiran "sangat baik agar kita tidak melulu memikirkan keadaan putus yang baru dialami. Tertawa bersama teman juga dapat mempengaruhi mood sehingga kita dapat lebih nyaman dan tenang."

6. Usahakan untuk ‘tidak penasaran’ terhadap mantan pasangan. "Fokuslah pada keadaan diri sendiri dulu, pada kebahagiaan diri sendiri. Karena jika kita menemukan hal-hal yang tidak kita sukai dari mantan, dikhawatirkan akan kembali mempengaruhi mood dan perasaan kita. Kecuali, jika kita memang benar-benar sudah move on dan menerima keadaan."

7. Melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga atau hal lainnya. "Karena aktivitas fisik dapat membuat tubuh menjadi lebih fit dan mood menjadi lebih baik."

Intinya, “jika seseorang telah menerima keadaan putus, maka akan lebih mudah baginya untuk mulai menjalin hubungan sebagai teman dengan mantan pasangan,” pungkas Rena. Efeknya berantai: jika sudah menerima kenyataan dan si dia hanyalah teman, apa pun yang dipostingnya di media sosial, kamu akan baik-baik saja. Semoga. 

Salah satu cara terbaik untuk menenangkan diri: liburan. Berikut rekomendasi destinasi liburan yang tidak hanya baik untukmu, tapi juga akun Instagrammu (membuat si mantan iri... oopsss.)