Jangan Buang Waktu! Tipe Laki-laki Ini Lebih Baik Dijauhi

Jangan Buang Waktu! Tipe Laki-laki Ini Lebih Baik Dijauhi
ISTOCK

Jangan buang waktu untuk hal yang nggak penting, buat kamu para perempuan lebih baik menghindari laki-laki dengan tipe seperti ini.

Mari meluruskan satu hal: kita, para perempuan ini, juga tidak sempurna, jadi memang tidak mencari pasangan yang sempurna—atau keluarga kerajaan dengan ternak ratusan kuda putih. Hanya ingin seseorang yang baik. Brengsek. Bagaimana caranya agar kami, para jomblo dan rasanya masuk dalam kategori anak baik-baik ini, tidak tertipu? Woop meminta saran dan bantuan Irene Raflesia, M. Psi., seorang Psikolog Klinis dari Klinik Pelangi, Cibubur.

“Mungkin ada di antara kita sudah yang memiliki sederet daftar kualitas yang harus dimiliki oleh calon pasangan. Smart, ganteng, mapan, lucu, pengertian, dan masih banyak lagi,” katanya.

Tidak hanya itu saja, sudah ada urutan dari satu sampai 50, “atribut positif lain yang kita harap dapat ditemukan pada diri seorang Mr. Right. Bahkan kalau bisa, calon pasangan ideal ini benar-benar tidak ada kekurangan sama sekali. Tentunya, sangat menyenangkan memiliki pasangan yang sempurna, ya?” lanjut Irene.

Tidak ada bantahan dari sini. Pasti juga akan lebih gampang diperkenalkan dan merebut hati orangtua. 

Irene mengutip Gwendolyn Seidman, seorang Professor Psikologi di Albright College yang mendalami studi tentang Psikologi Sosial yang merangkum lima kualitas penting yang sering dikaitkan dengan pernikahan yang sukses dan langgeng. Tidak terlalu banyak—dan kabar baiknya, kita dapat mendeteksi lima kualitas ini sebelum memutuskan untuk menjajaki hubungan yang lebih serius dengan calon pasangan.

Berikut kualitas yang dimaksudkan: 

1. Kepribadian yang baik, setia, dan pengertian.

2. Kesamaan sikap dan nilai yang dianut.

3. Bertanggung jawab dan dapat diandalkan

4. Memiliki stabilitas emosi yang baik.

5. Keyakinan bahwa hubungan membutuhkan kerja keras dari kedua pihak. 

“Tidak memiliki semua kualitas tersebut tentu tidak harus membuat khawatir dan untuk buru-buru mengakhiri hubungan," Irene mengingatkan. "Seiring berjalannya waktu, kualitas ini akan semakin tampak pada diri pasangan. Di sinilah pentingnya kita untuk mengenali apa yang betul-betul jadi kebutuhan kita,” ujarnya.

Intinya: sabar! Hubungan butuh waktu. 

Namun, bagaimana jika belum tahu apa yang inginkan dan butuhkan dari pasangan kita? Daftar 'kriteria pasangan yang dicari' milik kita masih kosong dan bersih. 

“Maka dari itu, mungkin sudah saatnya kita mengenali pola kita dalam memilih calon pasangan. Ada beberapa pertanyaan yang bisa kamu tanyakan pada diri sendiri,” jawabnya.

Untuk memudahkanmu mengenali dan mengetahui kebutuhanmu atas pasangan, coba jawab beberapa pertanyaan ini dengan jujur: 

  • Apa yang awalnya mendasari ketertarikanmu terhadap pasangan?
  • Apa ketertarikan itu masih ada hingga saat ini?
  • Apakah pada kenyataannya calon pasangan ini menunjukkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan apa yang kamu bayangkan?
  • Berapa lama hubungan itu berlangsung?
  • Apakah hal-hal baru yang kamu temukan selama berhubungan membuatmu berubah pikiran?
  • Apa yang membuatmu memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan?
  • Adakah pola atau kesamaan antara hubungan yang sekarang dengan yang dulu?

“Berusaha mengenali diri kita dapat memudahkan kita dalam memilih calon pasangan yang sesuai pada saat berkencan. Kita perlu juga untuk menyadari bahwa setiap orang membawa dan memiliki pengalaman negatif, luka, beban atau ‘bagasi’ emosional dari masa lalu. Bagasi emosional ini cenderung melekat dan sedikit banyak berperan dalam membentuk pandangan kita terhadap orang lain,” jelasnya.

"Misalnya, dulu ia pernah kecewa ditinggalkan oleh pasangan sehingga menjadi takut untuk menjalin hubungan kembali dan sulit memercayai orang lain," ujarnya memberi contoh. Hal yang sama pun berlaku untukmu, 'bagasimu' pun tidak kalah peliknya dengan calon pasangan. "Tapi terlepas dari daftar kualitas pasangan ideal yang kita miliki, kita perlu menimbang sejauh mana bagasi emosional ini perlu dibawa pada hubungan baru. Bisa jadi kita perlu memulihkan diri dan melepaskan sebagian isi dari bagasi emosional yang kita miliki sebelum memulai hubungan," sarannya. 

“Tidak ada satu formula khusus yang tepat dalam memilih pasangan,” kata Irene. “Yang pasti, jangan memilih tipe-tipe pria yang sering melibatkan segala bentuk kekerasan fisik, emosional, verbal, dan juga psikologis,” lanjutnya.

Selain itu, menurut Herway, ada enam tipe yang sebaiknya dihindari dari kehidupan cintamu.