Jangan Pertahankan, Ini Tanda Hubunganmu dengan Si Dia Tidak Sehat

Jangan Pertahankan, Ini Tanda Hubunganmu Tidak Sehat
ISTOCK

Coba cek baik-baik, apakah hubungamu dengan si dia memiliki tanda-tanda berikut ini. Jika iya, lebih baik pergi sekarang juga

Saat badan tidak sehat, kamu kemungkinan besar merasakannya. Mudah mengenali tanda-tandanya: tenggorokan gatal, pegal, kepala mau pecah, capek, dan rasanya ingin lengket dengan kasur sepanjang hari. Namun, jika kamu sudah menjalin hubungan dengan seseorang apakah kamu bisa dengan tangkas mengidentikasi gejala-gejala jika komitmen tersebut terkena virus? 

“Sebelum mengetahui tanda-tandanya, kita harus sadar dengan kondisi hubungan yang kita jalani terlebih dahulu, baik atau malah sedang buruk,” kata Pingkan C. B. Rumondor, M.Psi, Psikolog., seorang psikolog klinik dewasa dari TigaGenerasi dan juga dosen psikologi Universitas Bina Nusantara, Jakarta. “Kita bisa mengetahui bahwa kita berada dalam hubungan yang tidak sehat atau buruk saat kita merasa tidak sejahtera, lebih sering merasa sedih daripada senang, merasa tidak punya kontrol, tidak bebas menjadi diri sendiri, dan merasa tidak dipedulikan hampir setiap saat," tuturnya. 

Selain itu, “kita juga berpikir bahwa, ‘i’m not worthy’, dan kita menunjukkan perilaku yang merugikan diri sendiri, seperti menggunakan narkoba, bolos sekolah, dan lain sebagainya,” lanjutnya.

Jika ternyata hubunganmu sehat—selamat! Pertahankan. Akan tetapi seandainya sebaliknya, pastikan dengan mengenali gejalanya. Menurut Pingkan, setidaknya ada lima tanda yang patut diawasi:

1. Tanda yang paling terlihat adalah kekerasan fisik. Seperti pasangan memukul, atau menyakiti fisik kita dengan cara lain, misalnya menjambak, menendang, mencubit dan lainnya.

2. Adanya kekerasan psikologis atau verbal. Misalnya, si dia selalu mengolok-olok dan menjuluki 'si bodoh', dan perkataan kasar lainnya. Bentuk kekerasan psikologis lainnya ialah menyindir dan membuat kita merasa bersalah, alias pasif agresif. Contohnya, si pacar marah-marah karena macet dan menyalahkan kita tanpa alasan yang jelas.

3. Pasangan membiarkan atau tidak memperhatikan ataupun memberikan dukungan emosional. Biasanya, sikap pasangan seperti ini membuat kita merasa 'berjuang sendirian'. Jika berlangsung dalam waktu yang lama, berarti itu sudah tidak sehat.

4. Kita terbiasa bersikap kasar atau ngambek pada pasangan. Yep, kita, kamu akhirnya ikut terbiasa berkata kasar atau naik darah tanpa alasan yang masuk akal.

5. Pasangan sangat membatasi gerak gerik kita. Misalnya, membatasi boleh pergi dengan siapa, jam berapa pergi/pulangnya, atau bahkan tidak boleh keluar rumah tanpa si pasangan.

Jika di dalam hubunganmu tidak ada tanda-tanda seperti di atas—sekali lagi selamat. Namun, "bukan berarti dalam hubungan yang sehat tidak ada masalah sama sekali, ya," imbuh Pingkan. "Dalam hubungan sehat, wajar saja terjadi pertengkaran, wajar saja kalau sesekali kita merasa tidak dipedulikan oleh pasangan. Bedanya, pertengkaran dalam hubungan sehat tidak akan menyakiti fisik, dan kalaupun menyakiti hati, maka ada saatnya rekonsiliasi."

Ia pun melanjutkan, “saat kita merasa tidak dipedulikan, biasanya karena pasangan sedang memiliki masalah. Jika masalah selesai, maka pasangan akan kembali memperhatikan. Dalam hubungan yang sehat, jika ada salah satu pihak yang punya masalah, pihak lainnya akan berusaha memahami dan memberikan dukungan emosional atau memberikan bantuan. Jadi, fase pertengkaran akan berakhir dan tidak bertahan lama." 

Katakan saja, hubunganmu tidak sehat. Merugikan kedua belah pihak. Bagaimana cara melepaskan diri?

“Untuk melepaskan diri dari hubungan seperti ini adalah kamu harus mengakui ke pasangan bahwa hubungan kalian bermasalah,” saran Pingkan. “Setelah itu, kita baru bisa meminta bantuan orang lain, minimal bantuan untuk memperkuat diri kita untuk putus dari hubungan tersebut. Biasanya nih, seseorang yang sedang berada dalam hubungan seperti ini, ia jadi tidak percaya diri dan sulit untuk putus. Tapi ia harus memperkuat diri untuk langkah selanjutnya," ujarnya. 

“Sekali lagi, ini memang tidak akan mudah, tapi memutuskan dan pergi jauh dari hubungan yang tidak sehat ini, lebih baik untuk kesehatan mental,” kata Pingkan.

Katakan saja, hubunganmu sudah bertahun-tahun, dan cintamu sedalam dan serumit algoritma Google. Seringkali, pilihan yang diambil adalah tetap bertahan dan berharap pasanganmu akan berubah atau kembali 'normal'. “Untuk mengubah hubungan yang sudah tidak sehat dan banyak mengandung racun ini memang sangat susah," Pingkan berpendapat. 

"Tapi jika memang ingin mengubahnya kembali diperlukan kesadaran dari kedua belah pihak, yakni bahwa hubungan mereka bermasalah," ujarnya. Ini syarat wajib karena jika tidak, maka "akan sangat sulit mengubah hubungan tersebut menjadi penuh cinta lagi. Lebih baik ditinggalkan agar tidak berlarut-larut merugikan kesehatan mental. Tapi jika kedua belah pihak sudah mengakui bahwa mereka punya masalah, ada baiknya berkonsultasi dengan profesional untuk mendapatkan bantuan,” sarannya. 

“Oh iya, ada yang harus tahu diketahui, biasanya seseorang yang terlibat dalam hubungan penuh dengan racun dan tidak sehat ini memiliki isu atau trauma masa lalu yang mungkin tidak disadari, atau ia sebetulnya memiliki gangguan mental yang bisa ditangani, seperti depresi, bipolar, atau gangguan kepribadian borderline. Jika bisa berdamai dengan isu atau trauma masa lalunya dan mendapatkan penanganan gangguan yang tepat, maka mungkin saja hubungan tersebut menjadi lebih baik,” tutup Pingkan.