Jika Kamu Memilih Mencari Pasangan Lewat Tinder, Sebaiknya Tahu Ini

Jika Kamu Memilih Mencari Pasangan Lewat Tinder, Sebaiknya Tahu Ini
ISTOCK

Agar aman dan menemukan apa yang dicari.

Jawab dengan jujur: apakah kamu pernah menggunakan aplikasi online dating untuk mencari pasangan? Apakah malu menjawabnya? Di dalam hati pun boleh, kok. Geser kanan, geser kiri di Tinder atau match.com untuk menemukan "pemberi rusuk" bukan sesuatu yang aneh. Pasalnya kita hidup di abad 21, 2017 (hampir 2018) dimana mencari pasangan (baca: pria yang baik) dengan cara konvensional (kenalan dari teman, temannya teman, anaknya si tante anu, tetangga si om X) sepertinya agak sulit dilakukan (kalau tidak nyaris mustahil). Oleh karena itu, tidak ada salahnya memanfaatkan teknologi karena itulah salah satu fungsi teknologi: membuat mencari jodoh lebih gampang. Namun, kembali ke pernyataan di atas: tidak semua orang buka-bukaan tentang membuka dan mengunduh aplikasi online dating di ponselnya. Malu? Hmm... anti? 

“Kalau ditanyakan ‘kenapa ada orang yang anti terhadap online dating', kemungkinan besar sikap tersebut muncul karena kurang yakin dengan motif di balik keinginan berkencan," ucap Maharsi Anindyajati, M. Psi, Psikolog, seorang psikolog klinis dewasa dari Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta. 

"Dasar dari sebuah hubungan adalah adanya trust atau rasa kepercayaan. Yang kita lihat di dunia maya, kita bisa dengan mudah memalsukan indentitas, kita pun bisa menciptakan sosok yang ideal dan disukai oleh banyak orang. Apalagi yang ditemui orang dari daerah bahkan negara yang berbeda, jadi mereka memiliki peluang yang banyak untuk memalsukan identitas, dan berakhir penipuan. Dengan banyaknya kasus yang terjadi karena berkenalan secara online, kepercayaan pun sulit terbentuk, dan hal itu yang menyebabkan orang anti terhadap aplikasi ataupun website online dating,” paparnya. 

Namun, Maharsi juga mengingatkan bahwa tidak semua perkenalan di dunia maya berakhir dengan penipuan. "Ada beberapa yang malah berlanjut ke pernikahan. Yang penting kita harus waspada agar tidak merugikan diri sendiri. Jangan terburu-buru menuruti semua permintaan kenalan di semua online dating. Tetap gunakan akal sehat dan jangan mudah merasa tersanjung. Biasanya dari sebuah sanjungan, banyak orang yang terlena. Ya karena dipuji cantik, pintar, seksi, dan lain sebagainya. Ada juga yang karena sudah nyaman diajak berbicara dan baik, mereka meng-iyakan saja ketika disuruh mentransfer uang. Intinya, harus waspada saja,” tegasnya.

Tidak semua aplikasi diciptakan sama dan bisa dipercaya. Oleh karena, Maharsi mengatakan bahwa hal pertama yang wajib dilakukan ketika memutuskan untuk mencari pasangan lewat daring adalah "pilihlah aplikasi atau website online dating yang kredibel. Meski tidak menjamin semua orang yang ada di aplikasi itu berniat baik, tapi paling tidak langkah ini memperbesar kemungkinan kita bertemu dengan orang yang sesuai dengan keinginan kita.

"Selanjutnya, kenali siapa orang yang mengajak kamu berkenalan atau yang ingin kamu kenal lebih akrab. Kenali siapa dia yang sesungguhnya, keluarganya, dan latar belakangnya. Cermati data diri yang ia cantumkan, perhatikan apakah ada yang janggal. Misalnya, jika ia menuliskan seperti ini: “for a while in Jakarta, wanna have fun.” Nah, sudah dapat dipastikan ia hanya mau ‘bersenang-senang’, bukan untuk membina komitmen jangka panjang denganmu. Atau, apabila foto profilnya menunjukkan perilaku narsistik, misalnya tidak memakai atasan dan sengaja memperlihatkan otot tubuhnya.”

Perasaan memang campur aduk saat membuka aplikasi dan melihat begitu banyak (kadang-kadang tidak percaya bahwa ada begitu banyak jomblo di dunia ini): deg-degan, senang, antuasias, sedikit takut, lumayan ragu, dan lain sebagainya. Namun, pastinya kamu tidak ingin tertipu saat sudah memberanikan diri mencoba metode mencari pacar modern ini. Untuk itu, Maharsi membagikan beberapa tips yang bisa kamu terapkan. 

1. Cermati data pribadi dan fotonya. "Kalau perlu jadi seorang stalker, cek semua media sosialnya. Jangan hanya percaya dengan ceritanya mengenai dirinya. Jika akun media sosialnya penuh dengan kejanggalan, misalnya tidak ada foto teman dan keluarga, hanya profil dirinya saja, sepertinya kamu harus mulai waspada. Jangan lupa untuk melihat kapan akun tersebut dibuat, jika terlihat baru, ada kemungkinan akun tersebut palsu."

2. Apabila di awal percakapan, ia langsung mengatakan "wanna have fun'," sebaiknya tidak usah dilanjutkan. Sudah jelas ia hanya menginginkan hubungan singkat dan bersenang-senang saja, bukan sebuah komitmen.

3. Di awal perkenalan, tidak perlu menyebutkan dengan detail data pribadi kita, "seperti alamat rumah, nama, bahkan alamat kantor. Batasi dulu berbagi data penting."