Hati-hati! Ini Kalimat yang Sebaiknya Dihindari Suami-Istri di Depan Anak

Kalimat yang Sebaiknya Dihindari Suami-Istri di Depan Anak
Kalimat yang tidak boleh diucapkan di depan anak (ISTOCK)

Saat berbicara di depan anak, orang tua sebaiknya menjaga ucapan mereka. Sekilas terdengar tidak berbahaya, tapi sebenarnya...

Kalimat-kalimat ini terdengar polos, ringan—tidak heran jika para suami atau istri sering mengucapkannya tanpa berpikir panjang. Plus, lidah memang tidak bertulang, sehingga ketika dicetuskan pun mungkin sebenarnya minus maksud jelek. Di depan anak-anak. Di dapur, di ruang tamu, atau di dalam mobil.

Namun seperti kita tahu bahwa anak-anak meniru orang dewasa, baik dari perkataan maupun perbuatan. Interaksi yang terjadi antara suami dan istri—ayah dan ibu mereka—diobservasi oleh anak-anak, dan diulangi oleh meraka. Jika kamu menggunakan sumpah serapah, dengan kecepatan super dia akan mengingat dan menggunakannya. Termasuk kalimat-kalimat tadi, yang hmm... dilontarkan tanpa pikir panjang kepada suami/istrimu.

Setelah berbicara dengan beberapa ahli, Huffington Post menyimpulkan beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari orangtua ketika anak bersama mereka. 

1. "Kamu Tidak Pernah Melakukan Apapun di Rumah"

Seorang konselor, Jonathan R. Bennett (juga penulis buku berjudul The Popular Man) mengatakan bahwa ketika salah satu pihak mengucapkan kalimat ini kepada pihak lain, seperti mengindikasikan bahwa orang tersebut tidak berguna, tidak memiliki sumbangsih. Padahal pihak tersebut juga memberikan kontribusi besar—hanya bentuknya berbeda, misalnya bekerja sampai malam di kantor untuk menghidupi keluarga. 

2. "Tuh 'Kan, Aku Bilang Juga Apa" 

Jarang ada orang yang bahagia ketika mendengar kalimat ini. Hal yang sama juga berlaku untuk suami dan istri. "Mungkin terdengar tidak berbahaya saat mengingatkan pasanganmu bahwa kamu benar dan dia salah. Namun hal ini seperti mengatakan kepada anak-anak bahwa komunikasi adalah tentang 'siapa yang benar' dan siapa yang lebih memegang kontrol, daripada mencapai tujuan yang sama," kata Bennet. 

3. "Tuh Lihat, Akibat dari Perbuatanmu..."

Ketika mendengar kalimat ini, anak-anak akan berpikir bahwa kesalahan yang dibuat merupakan satu-satunya hal yang paling penting. Padahal yang lebih penting adalah mencari cara untuk mencari jalan keluar, dan mengetahui bahwa kesalahan merupakan salah satu cara untuk belajar, bukan sebuah kegagalan. 

4. "Saya Perlu Berolahraga Karena Badan Saya..."