Kasus Audrey, Orangtua Harus Tahu Ini Agar Anak Tak Membully

Kasus Audrey, Orangtua Harus Tahu Ini Agar Anak Tak Membully
ISTOCK

Beberapa hari ini media sosial diramaikan dengan tagar #JusticeforAudrey. Jika kamu mengikuti kasus perundungan ini sangat membuat hati terluka. Agar tidak terjadi lagi, apakah yang harus diketahui orangtua tentang perundungan? 

Tagar #JusticeforAudrey mendunia. Kasus perundungan yang diterima oleh seorang siswa SMP bernama Audrey ini sedang ramai dibahas oleh semua orang. Audrey dikeroyok oleh lebih dari satu siswa SMA hanya karena masalah yang belum jelas dan masih diselidiki oleh polisi. Menjadi masalah yang tidak pernah selesai, perundungan seolah akan terus menjadi bom waktu yang menakuti banyak orang, terutama anak-anak di bawah umur yang masih bersekolah. Sebagai orang terdekat dari anak, orangtua harus ikut andil tentang masalah perundungan ini. Agar anak-anak tidak lagi menjadi korban ataupun pelaku dari kasus perundungan.

img

Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang: bagaimana anak bisa menjadi pelaku perundungan? Padahal jika dilihat dari wajah tidak sama sekali mencerminkan seseorang yang berani melakukannya.

"Seorang anak dapat dilihat memiliki kecenderungan mem-bully pada usia bermain yaitu 3 sampai 6 tahun. Karena pada usia tersebut anak sudah dapat memunculkan/menunjukkan rasa inisiatif pada diri sendiri atau lingkungannya,” ujar Fathimatuzzahroh Rahmah Gustiani, M.Psi, seorang Psikolog Klinis Anak dan Remaja di SMP/ SMA Perguruan Islam Al-Izhar, Pondok Labu, Jakarta. Lanjutnya, “namun yang perlu digarisbawahi di sini adalah tetap tidak menghakimi atau memberikan label buruk kepada anak. Karena apapun yang ada pada dirinya masih harus ditelusuri terlebih dahulu dan masih dapat berkembang lebih baik lagi.”

Ungkapan 'buah tidak akan jatuh dari pohonnya' selalu saja dikaitkan dengan sifat anak yang menurun dari orangtuanya. Apakah orangtua berperan dalam ‘melahirkan’ sifat perundungan ini?

“Pengaruh pola asuh dan sikap orangtua kepada anak itu sangat kuat. Orangtua mewariskan genetik kepada anaknya. Ditambah juga, besarnya pengaruh lingkungan rumah pada awal pertumbuhan dan perkembangan anak juga ikut memengaruhi. Karena interaksi orangtua ataupun lingkungan dengan anak sangat intensif, hal itulah yang dapat membentuk pola pikir dan sikap anak. Adanya stimulus dan respon yang ditangkap oleh indera anak akan sangat mudah 'direkam' dan dicontoh oleh anak. Mengingat perkembangan otak anak yang masih berkembang pesat, anak akan dengan mudah mengingat hal-hal yang dipelajarinya dari lingkungan,” jawabnya.

img

Selain itu, menurutnya ada beberapa faktor lain yang membuat anak menjadi pelaku perundungan yang membuat orangtua harus waspada, antara lain:

  • Faktor keluarga

Anak yang melihat orangtuanya atau saudaranya melakukan bullying akan mengembangkan perilaku bullying juga. Ketika anak menerima pesan negatif berupa hukuman fisik di rumah, mereka akan mengembangkan konsep diri dan harapan diri yang negatif. Kemudian berdasarkan pengalaman tersebut mereka akan cenderung lebih dulu menyerang orang lain sebelum diserang. Bullying dimaknai oleh anak sebagai sebuah kekuatan untuk melindungi diri dari lingkungan yang mengancam.

  • Faktor sekolah

Karena pihak sekolah yang mengabaikan keberadaan bullying ini, anak-anak akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi anak-anak yang lainnya. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah yang sering memberikan masukan yang negatif pada siswanya misalnya, berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah.    

  • Faktor kelompok sebaya