Kesalahan #1 Saat Punya Pasangan Baru

Kesalahan #1 Saat Punya Pasangan Baru
ISTOCK

Etiskah mengecek ponselnya?

(Setelah bertahun-tahun), akhirnya kamu bertemu seseorang dan statusmu berubah menjadi, tidak jomblo lagi. Rasanya selalu ingin dipepet terus dan mendengar suaranya. Akan tetapi, belajar dari kesalahan masa lalu, ada baiknya tahu aturan dasar saat hubungan baru... berdiri sejak Agustus 2018. 

 “Sebelum menjalankan hubungan baru, pertama-tama kita bicara dulu soal kesiapan. Kita harus betul-betul sudah harus menerima realita bahwa hubungan dengan mantan sudah berakhir. Kondisi emosi dan pikiran kita sudah stabil dan tidak lagi kacau, sehingga kita dapat membuat keputusan menjalin relasi baru dengan (orang yang) tepat," ujar Ahastari Nataliza, B. A., M. Psi., Psikolog., seorang psikolog klinis dari International Well-Being Center, Yayasan Pulih dan Klinik Kancil. 

Kita akrab dengan ini, istilahnya rebound relationship

“Membanding-bandingkan hubungan baru dengan yang lalu menunjukkan bahwa sebetulnya kita belum siap menjalin relasi yang baru. Selanjutnya, kita juga harus memberikan waktu untuk berdamai dengan diri sendiri, mengevaluasi diri sendiri, evaluasi hubungan yang gagal dan belajar dari kesalahan masa lalu. Sadari kekurangan diri dan berusahalah untuk memperbaiki," lanjutnya. "Motivasi kita dalam menjalankan hubungan baru adalah bukan semata-mata untuk memamerkan dan menunjukkan ke mantan pasangan atau misalnya balas dendam, atau sengaja untuk mencari-cari kegiatan pengalihan agar tidak lagi terpikirkan soal mantan. Kita juga harus mempelari hal-hal tentang relationship dengan membaca buku, diskusi dengan konselor atau mengikuti seminar dating adalah hal-hal yang disarankan agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama di hubungan selanjutnya,” lanjutnya.

Memamerkan pacar baru kepada mantan merupakan salah satu tanda bahwa hubungan barumu tidak sehat. Selain itu, tanda-tanda lainnya menurut seorang penulis di Psychology Today adalah kamu hanya menelepon si orang baru saat kesepian, tapi dilepeh saat sedang bahagia, dan terbayang-bayang mantan sedang bersama pacar baru, serta ogah memperkenalkan pacar baru dengan orang-orang terdekat. 

Jika setelah mengevaluasi kamu menyimpulkan bahwa hubungan baru tersebut sehat (selamat!), selanjutnya adalah menjalininya. Mabuk kepayang, kasmaran, selalu ingin mengobrol dan berkirim pesan setiap lima menit.

“Saling memberikan kabar kepada pasangan adalah hal yang wajar dan baik untuk ada di setiap hubungan. Dengan hal itu, bisa menjadi salah satu cara menjaga kelancaran komunikasi serta menunjukkan rasa peduli kepada pasangan," ujar Nataliza. "Namun, menjadi tidak wajar ketika kita terus menerus menghubunginya sehingga sampai mengganggu aktvitas keseharian kita dan dia. Menghubungi pasangan berlebihan juga bisa mengarah kepada posesif, di mana hal tersebut merupakan tanda bahaya dalam sebuah hubungan (kita berusaha mengontrol dan membatasi gerak gerik pasangan),” ungkapnya.

Jadi, seberapa sering menelpon, sms, atau men-chatpasangan setiap hari agar dia tidak kabur? 

“Waktu untuk berkomunikasi pada pasangan tidak ada keharusan waktunya. Semua tergantung pada kebutuhan kita dan kesepakatan kita dengan pasangan. Yang terpenting adalah tidak membuat kita terfokus hanya untuk chat dan sms, sehingga mengabaikan pekerjaan atau tugas kita sehari-hari. Sesuaikan juga dengan waktu pasangan sehingga ia tidak merasa terganggu,” jawab Nataliza.

“Seperti menanyakan ‘lagi dimana?’ dan ‘sudah makan apa belum?’ dan lain sebagainya masih dianggap wajar untuk suatu hubungan," katanya. "Karena ini merupakan cara kita untuk tetap terkoneksi dengan pasangan. Selain itu, bertanya mengenai hal-hal ini juga merupakan cara kita menjaga komunikasi dan menunjukkan kepedulian serta perhatian kepada pasangan. Tetapi dalam hubungan yang lebih serius, komunikasi di level informasi ini bukan jadi concern satu-satunya, masih banyak hal-hal lain yang perlu didiskusikan dan dikomunikasikan lebih mendalam tidak hanya sekedar menanyakan kabar saja,” sambungnya

HALAMAN
12