Panduan Setiap Fase Cinta (Dari Pdkt Hingga akan Menikah) Agar Semakin Awet dan Bahagia

Panduan Dari Pdkt Hingga akan Menikah
Panduan Setiap Fase Cinta (Dari Pdkt Hingga akan Menikah) Agar Semakin Awet dan Bahagia

Artikel ini panjang—sama seperti hubungan yang membutuhkan kesabaran dan waktu. Mungkin itu adalah hubunganmu?

Ingin bertanya: sedang berada di tahapan mana hubungan cintamu saat ini? Masih dalam perkenalan atau sudah agak serius? Ada baiknya tahu posisi kamu dan si dia saat ini karena ternyata apa yang kita lakukan—dan kita bicarakan—di setiap fase cinta itu berbeda. Mengapa? Karena ini akan membantu hubunganmu lebih sehat, bertumbuh dan bersemi. 

TAHAP PERKENALAN

Ah, ini adalah bagian paling menyenangkan dalam sebuah hubungan. Pertama kali kamu merasakan sesuatu yang menggebu-gebu dan ingin berduaan sepanjang hati. Generasi dulu menyebutnya PDKT. Seperti yang kita tahu, mengenal seseorang itu bukan sesuatu yang mudah atau membutuhkan waktu singkat. Dari sekian banyak hal yang sebaiknya kamu ketahui tentang si dia, apa yang menjadi prioritas?

"Tahap perkenalan, biasanya kita lebih tertarik karena penampilan fisiknya atau minat yang satu selera," ujar Sri Juwita Kusumawardhani, M.Psi, Psikolog, seorang psikolog klinis dewasa, dan Tim Penulis Buku, Anti Panik Mempersiapkan Penikahan

Menurutnya, sebelum memutuskan berpacaran, ada beberapa hal yang harus dibicarakan terlebih dahulu, antara lain:

  1. Pengalaman hubungan romantis (pacaran berapa kali dan alasan putus dengan si mantan);
  2. Memiliki riwayat kriminalitas atau tidak; memiliki masalah adiksi pada minuman keras, obat-obatan terlarang, dan judi.
  3. Keluarga. Bagaimana tradisi/budaya yang lekat dengan keluarganya dan bagaimana sikap orangtuanya terhadap pacar/anak mantu.
  4. Pengalaman-pengalaman menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam hidupnya.

“Dari situ kita bisa mempertimbangkan apakah orang tersebut memiliki latar belakang yang aman untuk dijadikan pasangan dan cocok dengan kita atau tidak,” imbuh Wita.

Setelah itu, bagaimana meyakinkan hati bahwa dia bisa dijadikan pasangan yang tepat?

“Cara untuk meyakinkan hati adalah dengan banyak berkomunikasi mendalam, bukan hanya sekedar menanyakan sudah makan atau belum, dan banyak berinteraksi berdua. Tidak harus traveling berdua, tapi cari situasi yang bervariasi agar kita dapat melihat bagaimana calon pasangan menyelesaikan suatu kondisi berbeda/ menantang atau suatu permasalahan. Di situlah kamu bisa menilai apakah calon pasanganmu merupakan orang yang mandiri, mampu mengelola emosi, dan bisa menyelesaikan masalah dengan banyak solusi,” jelasnya.

TAHAP BERKENCAN/BARU PACARAN/KASMARAN 

Ini yang namanya tahap 'apapun terasa manis', berbunga-bunga, buta terhadap duri. Ciri-cirinya: tidak ingin jauh darinya, selalu ingin menempel, menghubungi setiap lima menit, mengirimkan emoji-emoji yang tidak penting, dan selalu membalas pesannya dengan emoticon senyum. Satu tahap lebih serius dibandingkan PDKT, jadi apa yang bisa dilakukan agar tetap romantis dan harmonis? 

Wita menuturkan bahwa masa pacaran adalah masa perkenalan lebih dalam, "sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Belajar untuk berkomitmen dengan pasangan. Namun, jangan batasi pergaulan.” Artinya: "kita tetap harus menjalin pertemanan, bahkan berkenalan dengan orang-orang baru yang mampu berkontribusi positif dalam aspek pendidikan/karir, tentunya dengan tetap menjaga batasan untuk menjaga perasaan dan komitmen terhadap pasangan kita. Dengan tetap membuka pergaulan dan melakukan aktivitas kita (keseharian tidak hanya diisi oleh pacaran), justru akan membuat hubungan menjadi lebih bervariasi/banyak warna, sehingga akan jauh dari rasa bosan,” sambungnya. Intinya, saat kekuatan cinta memang bisa membuat otakmu berkabut, tapi usahakan untuk tetap ingat 3 P ini: pendidikan, pekerjaan, pertemanan. 

Sementara mengenai romantisme, Wita berpendapat bahwa definisinya bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Alih-alih berandai-andai dan bermimpi ala novel atau film romantis, dirinya berargumen bahwa yang terpenting adalah mengomunikasikan dengan pasangan, "apa definisi romantis milikmu sehingga pasangan mengerti dan bisa berusaha mewujudkannya."

Pasalnya, ada yang merasa dicintai melalu words (ekspresi cinta langsung seperti kata-kata sayang atau pujian, kata-kata dukungan, dibuatkan surat/lagu/dikirimi kartu), tapi ada juga yang merasa pasangannya manis jika sering memberikan hadiah sesuai minatnya, kebutuhannya, kejutan hadiah yang diberikan di luar ulang tahun/anniversary. Selain itu, ada yang mendefinisikan romantis sebagai quality time (pergi dan mengobrol berdua, melakukan hobi bersama). Atau, ada orang yang merasa romantis itu ketika disentuh oleh pasangan (physical touch), misalnya digandeng, dirangkul, diusap kepalanya, dipeluk, dsb.

"Satu lagi, bahwa bukti cinta itu harus nyata (act of service)—diantar jemput, dibantu mengerjakan tugas, memasak untuk pasangan. Intinya, kamu harus mengenali bahasa cinta pasanganmu dulu dan tunjukkan cinta sesuai kebutuhan agar hubungan tetap bisa berjalan romantis,” paparnya.

Oleh karena ini adalah tahap krusial, ada yang banyak hal yang harus kamu cermati baik-baik; istilahnya peringatan dini untuk memastikan apakah hubungan tersebut sehat dan bisa dilanjutkan ke tahap selanjutnya. “Yang pertama adalah sikap pasangan yang menganggap kita seperti barang kepunyaannya. Contohnya seperti mengontrol pertemanan kita, mengatur penampilan atau perilaku, melakukan checking yang berlebihan/posesif (menanyakan keberadaan kita dimana, sedang apa, sama siapa dengan chat atau telepon)—itu semua bukanlah tanda yang positif. Selain itu, kita pun bisa mengevalusi hubungan melalui intropeksi diri selama menjalani hubungan, apakah lebih banyak bahagia atau juga sedih/menangisnya. Dari hal-hal tersebut, kita perlu lebih mempertimbangkan untuk melanjutkan hubungan atau tidak,” sarannya.

TAHAP YANG LEBIH SERIUS 

Setelah super antusias saat pdkt, berbunga-bunga saat pacaran, rasanya sah-sah saja jika kita menginginkan sesuatu yang lebih serius. Satu kata: komitmen. Namun, kok sepertinya akhir-akhir ini banyak masalah ya, tidak seperti satu tahun yang lalu: semuanya pelangi dan harum mewangi? 

“Hubungan romantis tidak akan pernah jauh dari masalah, misalnya kamu dan pasangan sedang punya masalah yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pasangan menyelesaikan masalah, bukannya memikirkan bagaimana cara keluar dari kebosanan,” jelas Wita. “Masalah dan perbedaan adalah hal yang tidak terelakkan di dalam suatu hubungan, karena kita datang dari latar keluarga dan budaya yang berbeda. Namun, apakah kita dan pasangan dapat berkompromikan dalam perbedaan? Dan bagaimana cara kita dan pasangan menyelesaikan dan mencari solusi untuk itu? Kalau hubungan lebih banyak masalahnya apalagi sampai membuat kita lebih sering menangis, artinya hubungan tersebut tidak sehat. Karena pada hakitkannya hubungan romantis mampu memberikan banyak kebahagiaan dan dukungan positif di dalam hidup sehingga kita dan pasangan dapat menjadi versi diri yang lebih baik lagi,” ungkapnya.

TAHAP PERTUNANGAN 

Ah, akhirnya dilamar juga! Skenario terindah adalah melaluinya dengan semangat dan ceria, tapi pada beberapa kasus pembatalan bisa terjadi. Alasannya bermacam-macam, misalnya perselingkuhan, ketidakcocokan antara kedua keluarga, dan perbedaan visi dan misi ke depannya. Untuk menghindari hal ini terjadi pada saat sudah sangat serius, ada baiknya meminimalisir faktor-faktor ini membicarakan hal-hal penting saat masih pacaran (misalnya, seharusnya tema visi dan misi dirembuk sebelum pertunangan). 

(DETIK-DETIK MENUJU) TAHAP PERNIKAHAN

Menurut Wita, secara teori sebaiknya setiap pasangan menjalani hubungan selama dua tahun sebelum akhirnya menikah. “Selama dua tahun hubungan, biasanya komunikasi yang dilakukan mendalam dan interaksinya intens, sehingga kita dan pasangan dapat saling mengenal pribadi dan keluarga masing-masing dengan baik."

Oleh karena menikah adalah sesuatu yang mengubah hidup seseorang (dan berharapnya hanya dilakukan sekali seumur hidup), ada yang banyak hal penting yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan. Salah satu cara untuk mengetahui apakah pernikahan merupakan sesuatu yang membawa berkah adalah: coba perhatikan apakah pasanganmu dan kamu memiliki hal ini: 

  1. Kemampuan untuk dapat menghargai seseorang sebagai pribadi yang unik dan memiliki minat, kesenangan, dan pilihan-pilihan yang mungkin berbeda dengan dirinya.
  2. Kemampuan untuk tidak memaksakan kehendak pribadi ataupun mengontrol pihak lain seakan benda milik pribadi.
  3. Keinginan untuk mendengarkan pendapat dan berkompromi setiap terjadi perbedaan pendapat.
  4. Kemampuan mengendalikan emosi tanpa menggunakan kekerasan (fisik ataupun kata-kata kasar) baik ketika berinterakasi dengan pasangan maupun orang lain.
  5. Memiliki kepercayaan diri yang baik sehingga kesuksesan satu pihak tidak akan mengintimidasi dirinya.
  6. Kesiapan dan kemauan untuk saling mendukung kemajuan dan pertumbuhan satu sama lain di dalam hubungan. 

Wah, banyak, ya! 

“Memutuskan untuk menikah memang perlu pertimbangan yang matang. Buatlah daftar kualitas positif dan negatif pasangan, dan kualitas positif dan negatif hubungan. Jika masih belum yakin, coba ajak bicara orangtua/keluarga yang kamu percaya. Coba sampaikan kepada pasangan, apakah ia mampu mengusahakan agar kamu menjadi lebih yakin. Jika semua sudah dicoba tapi belum berhasil, coba temui tenaga professional seperti psikolog. Diskusikan dengan pihak yang objektif dapat memberikanmu perspektif baru dan segar,” anjurnya. 

Loading Facebook Comment ...