Penelitian Ini Menemukan Satu Penyebab Utama Pasangan Sering Adu Mulut

Penelitian Ini Menemukan Satu Penyebab Utama Pasangan Sering Adu Mulut
ISTOCK

— ZZZZZ.

Setiap pasangan di dunia ini memiliki "rutinitas" konflik. Setiap kali menyebut topik-topik panas—entah itu tentang higienis, efisiensi keuangan, mertua, sampai masalah mengganti tisu di toilet—percakapan yang awalnya mesra, bisa berujung "kamuegois," atau "kamu nggak pernah mau dengar," atau "udahlah, malas ngomong sama kamu." Yep, setiap pasangan mengalami hal-hal ini, bahkan mereka yang selalu super-duper-luar-biasa-minta-ampun-mesranya-mengalahkan-barbie-dan-ken di media sosial. 

Semua pasangan mengalami cekcok rumah tangga, tapi yang membedakan adalah bagaimana mereka menanganinya. Beberapa pasangan berdebat secara positif, sementara yang bertukar kosa kata yang dulu hanya terucapkan diam-diam di belakang toilet gedung sekolah. 

Apa rahasianya? Pasangan yang berseteru seperti USA vs Korea Utara kemungkinan kurang tidur. 

Jawaban ini ditemukan oleh peneliti di Ohio State University, yang melibatkan 43 pasangan untuk mengeksplorasi bagaimana interaksi perkawinan mempengaruhi kesehatan seseorang. 

"Ketika orang kurang tidur, kemungkinan besar mereka akan melihat dunia dengan kacamata buram," kata Janice Kiecolt-Glaser, salah satu peneliti, kepada The New York Times. "Suasana hati mereka lebih jelek. Mereka lebih pemarah. Kurang tidur bisa merusak hubungan." 

Usia pernikahan pria dan wanita yang menjadi partisipan di dalam studi ini bervariasi, mulai dari tiga sampai 27 tahun. Mereka mengalami jumlah jam yang tidur berbeda—mulai dari tiga setengah jam sampai sembilan jam dalam satu malam. Setiap pasangan mengunjungi laboratorium penelitian sebanyak dua kali, dan didorong untuk membicarakan isu-isu yang paling sering membuat mereka adu urat. Kemudian para peneliti menganalisis video-video percakapan para pasangan dengan menggunakan teknik nilai yang valid untuk menaksir interaksi positif dan negatif serta respons kasar dan konstruktif. Setelah semua data diuraikan, muncul sebuah pola jelas. 

Pasangan cenderung lebih kasar ketika keduanya tidur kurang dari tujuh jam. 

Sementara, pasangan yang tidur lebih dari tujuh jam sehari meski tetap berargumen, tapi intonasinya sangat berbeda. Misalnya, alih-alih mengatakan "kamu egois," responnya adalah, "aku kayaknya lebay, ya ."

Meskipun pasangan tersebut sering berdebat tentang hal yang sama, tapi karena tidur cukup keduanya menjadi lebih sabar dan konstruktif saat menghadapi konflik. 

"Ini bukan tentang fakta bahwa pasangan tersebut berbeda pendapat," kata Dr. Kiecolt-Glaser. "Ini tentang kekurangan tidur dan cara mereka menghadapi perbedaan pendapat."