Pernahkah Kamu Diam-Diam Iri dengan Teman Baikmu? (Silakan Dijawab Dalam Hati)

Pernahkah Kamu Diam-Diam Iri dengan Teman Baikmu? (Silakan Dijawab Dalam Hati)
ISTOCK

Dan bagaimana jika si teman yang iri terhadapmu?

Silakan berhenti membaca jika merasa tidak pernah merasakan ini: iri dengan teman. Mungkin karena kesuksesannya, "kelebihannya" makan apa pun tapi berat badannya tidak pernah bertambah, karier bagus, punya pasangan (yang sepertinya) sempurna, memiliki follower di Instagram lebih banyak, dan lain-lain. Daftarnya tidak terbatas. Kemudian, saat merasakannya kamu merasa bersalah. 

“Cemburu sebenarnya bisa berdampak positif ataupun negatif, tergantung dari bagaimana cara kita mengelola rasa cemburu tersebut,” kata Rena Masri, M. Psi, Psikolog., seorang psikolog klinis dewasa dari Q Consulting dan pendiri cintasetara.

Positif. Ada pula sisi negatifnya. 

“Begini, bisa menjadi positif jika membuat kita menjadi lebh aware dengan kelebihan dan kekurangan kita dan berusaha untuk memotivasi diri kita agar mengembangkan secara opitimal kemampuan kita. Namun, bisa menjadi negatif, jika kita tidak dapat mengontrolnya, sehingga kita merasa marah, sedih, takut secara berlebihan, ataupun menjadi bersaing dengan tidak sehat demi mendapatkan sesuatu yang kita inginkan,” ungkapnya.

Menurut Rena, ada beberapa hal yang bisa jadi merupakan akar dari rasa cemburu tersebut:

1. Kurang percaya diri

Seseorang cemburu dengan keberrhasilan orang lain biasanya mereka memiliki rasa kurang percaya diri akan kemampuan mereka. "Mereka belum menemukan cara untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya," katanya.

2. Pola asuh orangtua

"Pengasuhan dari orangtua terutama pada masa-masa awal sangat mempengaruhi perkembangan karakter dan kepribadian anak," ungkap Rena. Misalnya, saja jika sejak kecil ornagtua suka membandingkan-bandingkan, kurang menghargai hasil dan usaha yang dilakukan anaknya, dan lain sebagainya. "Hal itu bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya sfat cemburu saat dewasa."

3. Lingkungan

"Lingkungan yang memang marak dengan kompetisi sangat mementingkan kemenangan bukan saja proses juga dapat menanamkan sikap iri, sehingga keberhasilan dipandang sebagai satu-satunya jalan untuk mendapatkan pujian dan penghargaan," terangnya, 

4. Kurang rasa bersyukur

"Bersyukur sangat penting dilakukan dalam kehidupan, sehingga kita dapat lebih mengenali diri kita, apa kelebihan dan kemampuan kita," katanya. Dengan bersyukur kita menjadi lebih dapat berpikir secara logis dan rasional bagaimana cara mengoptimalkan segala kemampuan dalam diri kita. "Jika kita tidak bersyukur dengan apa yang ada dalam diri kita, biasanya akan sangat mudah kita cemburu dengan segala hal yang dimiliki oleh orang lain."

5. Pengaruh perkembangan media sosial

"Tak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi khususnya media sosial dapat mempengaruhi kemunculan rasa iri terhadap orang lain," katanya. 

Ah, kita yang aktif di media sosial pasti tahu betul bahwa di sana, persaingannya sangat ketat dan kejam. 

Satu hal yang membuat penasaran, apakah rasa iri terhadap teman ini sesuatu yang wajar? 

“Ini sangat bergantung bagaimana kita mengelola rasa cemburu itu. Jika rasa cemburu dapat menjadi motivasi bagi kita untuk berusaha lebih keras secara sehat, maka itu masih wajar," jawabnya. "Hanya, jika kita tidak dapat mengelola rasa cemburu, kita akan menjadi merasa bersaing secara tidak sehat. Inilah yang membuat rasa cemburu itu menjadi negatif.”

Wajar, tapi tergantung. Dan seandainya sekarang kamu sedang merasakan cemburu berlebihan kepada seorang teman, ingat dampaknya sama sekali tidak bagus. Rena menerangkan dari segi apa pun, iri tak terkendali bisa membuatmu tidak sehat baik secara fisik maupun mental. Misalnya:

  • Cemburu itu tidak baik bagi kesehatan. "Karena kita menjadi sering merasakan rasa takut, sedih, marah, dan juga stres yang tentunya saja tidak baik bagi kesehatan tubuh."

HALAMAN
123