Satu Hal Ini yang Sebaiknya Jangan Dikatakan Kepada Anak

Satu Hal Ini yang Sebaiknya Jangan Dikatakan Kepada Anak
ISTOCK

Menurut penelitian dari Tiongkok.

Si kecil dapat nilai super bagus di sekolah (juara di antara teman-temannya), yah biasanya orangtua pastinya mengusap-usap kepalanya, memberikan pujian, (bahkan sampai mengabarkannya ke seluruh dunia lewat media sosial).

STOP! Tunggu dulu. Pasalnya sebuah penelitian baru yang diterbitkan di Psychological Science menyimpulkan bahwa anak-anak yang dipuja-puji karena intelektualnya memiliki kecenderungan lebih besar mencontek saat ujian. Sementara anak-anak yang dielu-elukan karena usaha mereka, bukan kemampuannya, mempunyai kesempatan lebih besar untuk sukses karena mereka merasa termotivasi. 

Carol Dweck, pemimpin penelitian ini, mengatakan bahwa jika anak-anak tersebut percaya bahwa kemampuan intelektual merupakan sesuatu yang bsia berkembang, bukan sesuatu yang "sudah dari sononya", mereka akan lebih dapat menghadapi kegagalan. 

Dweck menyarankan orangtua untuk menggunakan kalimat yang bersifat kritik membangun, contohnya lebih baik mengatakan "biologi sepertinya belum menjadi mata pelajaran terbaikmu," daripada "biologi bukan mata pelajaran terbaikmu."

Penelitian terbaru ini memperlihatkan bahwa kebiasaan ini bisa mempengaruhi anak pada usia jauh lebih muda dari yang selama ini diperkirakan. Anak-anak memiliki kecenderungan tidak jujur sejak umur tiga tahun jika menerima pujian karena hasil akademis mereka. 

"Memang sesuatu yang normal dan alami memberitahu betapa pintarnya mereka," jelas co-author Gail Heyman seperti yang dituliskan oleh The Independent

"Bahkan ketika orangtua dan para pendidik tahu hal tersebut membahayakan motivasi prestasi, tetap saja mudah melakukannya. Apa yang ditunjukkan oleh studi kami ini adalah dampak negatifnya bisa lebih dari sekadar mempengaruhi motivasi, tapi juga merambah ke area moral. Hal tersebut membuat anak lebih ingin berbuat curang agar hasilnya bagus," kata Heyman. 

Untuk tiba kepada kesimpulan ini, para peneliti meminta 300 anak—setengah berusia tiga tahun, dan sisanya lima tahun—di Tiongkok Timur untuk bermain sebuah permainan tebakan. Beberapa dipuji karena intelektualitas sementara yang lain karena performa dan sisanya tidak dipuji sama sekali.

Tahap berikutnyalah yang membuat penelitian ini semakin menarik. Para peneliti meminta anak-anak yang menerima pujian untuk berjanji tidak akan berbuat curang. Lalu, meninggalkan ruangan di tengah permainan, membiarkan anak-anak tersebut tanpa pengawasan para peneliti.

Sebuah kamera tersembunyi merekam bahwa selanjutnya anak-anak tersebut mencontek, melihat kunci jawaban yang diletakkan di atas meja lain.