Seberapa Jauh Anak Diperbolehkan Mencoba Makeup?

Seberapa Jauh Anak Diperbolehkan Mencoba Makeup?
ISTOCK

Butuh BO (Bimbingan Orangtua). 

Si kecil terlihat menggemaskan. Apalagi saat mencoba makeup ibunya. Lucu. Bahkan ketika lipstik celemotan di bibirnya terlihat imut! Iiih. Seberapa jauh anak diperbolehkan mencoba makeup?

“Seorang anak tidak perlu menggunakan makeup,” tegas dr. Dikky Prawiratama, M. Sc, Sp.KK., seorang dermatolog dari Erha Derma Center dan Ergia Klinik, Yogyakarta. “Karena banyak makeup yang memiliki kandungan iritatif, dan kulit anak-anak belum terbentuk sempurna, sehingga rawan untuk mengalami peradangan akibat makeup yang berlebihan. Selain itu juga, kulit wajah akan terjadi iritasi,” ujarnya.

Itu dari sisi kesehatan kulit.

Sementara Marcelina Melisa Dewi, S. Psi, M. Psi, Psikolog, seorang psikolog klinis anak dari Mutiara Edu Sensory dan Brawijaya Clinic, mengatakan: “Memperkenalkan berbagai hal pada anak merupakan suatu aktivitas yang memang sebaiknya dilakukan oleh orangtua. Sejauh hal yang diperkenalkan adalah positif, maka anak akan semakin kaya dalam mendapatkan pengetahuan dan pengalaman."

Kamu yang sudah punya anak, keponakan—atau pernah kecil, pasti paham di usia pertumbuhan tingkat keinginantahuan lebih tinggi daripada bintang di langit. Termasuk, ketika melihat ibu, tante, kakak, nenek berdandan, antena kepo mereka sepertinya bergetar hebat. 

Makeup atau tata rias bertujuan untuk mempercantik perempuan yang memakainya. Jika anak yang masih berusia dini (usia SD) sudah menggunakan makeup tentunya kurang wajar, karena tidak sesuai dengan tujuannya,” Marcelina berpendapat. Kecuali, “jika anak usia SD ini menggunakan makeup untuk tuntutan profesi, misalnya yang berprofesi sebagai artis," sambungnya. 

Menurutnya, rasa ingin tahu yang dimiliki anak merupakan sebuah hal yang wajar, apalagi saat anak perempuan melihat ibunya memakai makeup setiap hari dan ingin mencoba. Namun, setelah mencoba, ibu dapat menjelaskan bahwa makeup digunakan untuk perempuan dengan usia yang lebih besar darinya, atau ibu juga bisa bilang bahwa si anak bisa menggunakannya kalau sudah besar nanti,” paparnya. 

Lain halnya dengan anak berusia remaja (SMP atau SMA) yang ingin mencoba makeup. “Orangtua dapat mengelaborasi terlebih dahulu alasanmengapa anak ingin menggunakannya. Ada remaja yang didasari oleh rasa ingin tahu, karena teman-teman sebayanya menggunakan makeup. Ada juga remaja yang tidak ingin dianggap ketinggalan informasi sehingga menggunakan makeup (meskipun dia tidak menyukainya). Kemudian, ada remaja yang merasa kurang percaya diri sehingga menganggap makeup dapat mempercantik bagian tertentu dari wajahnya. Tidak dapat dipungkiri juga keterpaparan remaja pada media yang banyak berisi iklan kecantikan dan makeup dapat mempengaruhi mereka dalam menggunakan makeup,” jelas psikolog ini. 

Menilik usia dan tingkat pertumbuhan, apa yang harus dipikirkan oleh orangtua sebelum memberikan izin kepada anak menggunakan makeup?

“Tentunya, orangtua harus mengindentifikasi alasannya, supaya kita dapat memberikan respon yang tepat. Misalnya, apabila remaja ingin tahu atau takut ketinggalan informasi, kita dapat memperbolehkan anak mencoba dengan pendampingan ibu. Setelah remaja mencoba, berikan pemahaman untuk menghindari penggunaan makeup yang berlebihan terlebih dahulu. Misalnya, gunakan alasan 'bahwa saat ini hormon yang dimiliki sedang kurang seimbang sehingga apabila ada bahan yang kurang cocok dengan kulit wajah, dapat menjadi alergi atau memperburuk kesehatan wajah'. Atau, jika remaja merasa kurang percaya diri, ajak mereka untuk merawat kulit dan menemukan produk yang cocok sesuai jenis kulit. Orangtua dapat mendampingi remaja pergi ke dokter spesialis kulit apabila memang diperlakukan,” sarannya. 

HALAMAN
12