Sejauh Mana Kamu dan Pasangan Harus Berkompromi?

Sejauh Mana Kamu dan Pasangan Harus Berkompromi?
ISTOCK

Bagaimana jika dia ingin saya berhenti kerja, tapi... 

Untuk yang hubungan cintanya sedang berbunga-bunga, mungkin kata kompromi akan membuatmu tersenyum-senyum dan berbunga-bunga. Namun, bagi yang sedang berselisih dengan belahan jiwanya, misalnya tentang kebiasaannya buang angin atau mengupil yang tanpa pandang tempat dan situasi, perkataan 'harus kompromi, terima apa adanya,' bisa berujung pada kursi atau piring di lempar. Sebenarnya, sejauh apa kita harus berkompromi dengan pasangan—apakah semuanya, semuanya harus menjadi fleksibel?

“Jadi, ada yang harus diketahui terlebih dahulu, ya, arti kompromi itu apa sih?" kata Pingkan C. B. Rumondor, M.Psi, Psikolog., seorang psikolog klinik dewasa dari TigaGenerasi dan juga dosen psikologi Universitas Bina Nusantara, Jakarta. "Kompromi itu salah satu dari lima gaya pemecahan konflik; keempat lainnya, antara lain, kompetisi, kolaborasi, menghindar, akomodasi atau mengalah."

Dia melanjutkan, “Tentunya dalam kompromi, bisa dikatakan dua belah pihak mengalah agar masing-masing mendapatkan sebagian dari apa yang mereka inginkan. Sebagai contoh, kamu ingin kencan seharian (delapan jam, ya) dengan pasangan di hari Sabtu, tapi ternyata pasanganmu ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda dan harus diselesaikan hari itu juga. Kesal 'kan? Tapi daripada marah dan berantem, maka kamu setuju dia menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu baru pergi kencan. Biasanya orang yang bisa berkompromi adalah orang yang lebih memilih kualitas, dibanding dengan kuantitas," papar Pingkan. 

Pingkan menjelaskan jika dibandingkan dengan gaya pemecahan konflik lainnya, berkompromi lebih baik untuk keberlangsungan hubungan ke depannya. Jadi memang perlu dan dibutuhkan. 

“Ya memang, sangat perlu berkompromi dengan pasangan, karena pada dasarnya, kita sebagai manusia pasti memiliki tujuan yang berbeda-beda dalam menjalani kehidupan, ya 'kan? Misalnya nih, sebagai seorang individu, kamu punya tujuan ingin naik jabatan di tempat kerjanya, ingin sehat dan ingin punya tabungan yang banyak. Sementara, pasanganmu pasti juga mempunyai tujuan, seperti menghabiskan banyak waktu bersamamu, ingin sehat dan ingin traveling dan mencoba tempat makan baru.

“Nah! Kamu dan pasanganmu mempunyai beberapa tujuan akhir yang sama, tapi ada juga yang bertolak belakang, seperti menabung dan traveling; yang satu mau menyimpan uang, yang satu ingin 'membuang' uang. Jika tidak dikompromikan, maka tujuan kalian berdua bisa saja tidak tercapai dan beranggapan bahwa hubungan ini sebagai suatu hambatan. Ya, akibatnya, kalian tidak puas dan bisa saja menyerah, mengakhiri hubungan. Tidak mau 'kan?" katanya. 

Dengan kata lain, berkompromi menjadi salah satu cara cepat untuk memecahkan konflik dan menghindari efek negatif konflik. Menurutnya, alasan utama kenapa banyak pasangan yang melakukan kompromi adalah karena ingin mempertahankan hubungannya dengan orang yang sudah dipilihnya.

Namun, kapan waktu yang tepat untuk berkompromi dengan pasangan? “Kompromi perlu dilakukan kalau seseorang punya tujuan atau goal yang berbeda atau bertolak belakang dengan pasangannya, sehingga bisa terjadi konflik di antara kalian,” jawabnya.

Dan pertanyaan penting: seberapa jauh kita harus berkompromi? “Kompromi perlu dilakukan sejauh tidak membuat diri kamu dan pasangan menderita, satu sama lain.”

Kompromi yang membuat menderita? Maksudnya? “Maksudnya gini, batasan kompromi adalah jangan sampai membuat kamu menderita secara psikologis. Kamu merasa cemas, tertekan, sedih berkepanjangan, dan lain sebagainya. Atau fisik: kamu merasa kelelahan, terluka fisik, dan lain-lainnya,” jelasnya.