Suami Suka Film Porno dan Akibatnya terhadap Hubungan Suami-Istri

Suami Suka Porno dan Akibatnya terhadap Hubungan Suami-Istri
ISTOCK/ND3000

Dampak suami yang suka menonton porno dan bagaimana cara seorang istri mengintervensi. Simak penjelasan lengkapnya

Fabrikasi seksualitas yang ditampilkan di dalam produk-produk pornografi disetujui keduanya menyebabkan pria memiliki ekspektasi yang salah dan pada akhirnya, “membuatnya mempertanyakan performa seksualitasnya, termasuk memiliki imej tertentu tentang cara dia berelasi dengan si perempuan, pasangan seksnya, dan ini yang lebih berbahaya.

Ketika menyaksikan film porno, seorang laki-laki memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri yang juga dia rusak dan nantinya akan mempengaruhi performa seksualnya. Yang which is ini adalah ketakutan semua laki-laki yang nggak mau kan, performa seksualnya hancur?” beber Zoya Amirin.

“Saya sama sekali tidak setuju siapapun Anda untuk menonton film porno. Kalau Anda mau bermasturbasi baik pria maupun perempuan, lakukanlah untuk mengeksplorasi seksualitas anda, untuk mengeksplorasi zona-zona di tubuh anda, untuk mengeksplorasi di sekitar tubuh anda, tapi tidak dengan sambil menyaksikan film porno. Dengan konten pornografi apapun itu karena sekali lagi bisa membuat Anda mempertanyakan kenormalan seksual,” Zoya menegaskan.

Menonton Porno untuk Mencari Inspirasi

Seorang teman pria berkata bahwa salah satu alasannya menonton film bokep atau jenis softporn adalah untuk mencari inspirasi; dalam rangka menciptakan kehidupan seksual yang lebih bervariasi dengan istrinya.

Untuk situasi seperti itu, Zoya menyarankan agar pasangan suami-istri mencari inspirasi dari buku-buku yang bisa dibeli di sex shop kalau di luar negeri atau secara online atau majalah-majalah pria yang sekarang cukup banyak menyajikan artikel-artikel tentang, “'Posisi hubungan seksual anda hari ini' atau 'posisi hubungan seksual yang sesuai dengan bintang anda atau horoskop' atau apalah yang lucu-lucuan begitu. Any kind of porn itu jelek,” katanya. Menurutnya, majalah-majalah seperti Cosmopilitan atau Esquire, memiliki tujuan untuk mengedukasi pasangan, menambah variasi dalam hubungan seksual; bukan pornografi.  

Hal senada diungkapkan oleh Baby Gim. “Bahwa itu menjadi referensi, bisa saja begitu karena cukup banyak orang yang nggak tahu harus nyari atau lihat referensi apa yang benar, buku apa, metode apa. Kita harus memiliki seks edukasi yang multi perspektif dan adequate.

Beberapa ayah mengatakan kepada saya bahwa mereka mengajarkan anak-anak mereka pendidikan seks. ‘Oh ya, bagus dong? Gimana caranya?’ tanya saya. ‘Oh, gue ajak dong, nonton bokep barang-bareng gue’. Menurut ngana? Materi bokep itu apakah materi edukasi atau bukan? Kan bukan!” katanya dengan nada cukup keras. 

Adiktif atau Sesekali

Entah itu adiktif—sampai merelakan pulang cepat dari kantor demi menonton film bokep terbaru, melewatkan kesempatan mengobrol dengan teman-teman demi masturbasi, misalnya—atau sesekali menonton tayangan porno, menurut Zoya tetap berbahaya: sebuah bahaya laten tepatnya.

“Artinya jika melakukannya seminggu sekali atau sebulan beberapa kali, dalam waktu dua puluh tahun ke depan, Anda akan punya masalah dengan otak jika teradiksi pornografi. Mungkin berasanya belum sekarang, masih dua puluh tahunan lagi; mungkin banyak orang berpikir 'ah, belum tentu gue hidup dua puluh tahun lagi’, yah terserah. Tapi bahaya psikologisnya pasti sudah akan anda rasakan secara pelan-pelan ketika menyaksikan film porno, dan bahaya jangka panjangnya juga ada: kerusakan otak yang merupakan akibat dari adiksi pornografi.”

Yang Harus Dilakukan Istri….

Kedua seksolog menyetujui bahwa ketika suami teradiksi pornografi bisa jadi menandakan bahwa ada ketidaknyamanan dalam hubungan suami-istri tersebut dan lantas lari ke pornografi. “Apakah itu salah kita? Nggak juga, kadang-kadang memang laki-lakinya insecure,” tegas Zoya.

Satu hal yang pasti, menurut Zoya ketika seorang istri menangkap basah suami sedang atau ternyata penikmat film porno. “Harus ada intervensi, tapi yang asertif, artinya stand for your right without hurting others. Caranya dengan menggunakan I language. Kalimatnya diawali dengan, ‘saya merasa’, bukan ‘kamu tuh, adiksi porno’, ‘kamu tuh, orang yang nggak benar’ atau ‘kamu nggak ingat Tuhan, ya’. Itu hanya memperparah keadaan.