Apa Itu Intermittent Fasting dan Benarkah Efektif untuk Mengurangi Berat Badan?

Intermittent Fasting, Paling Efektif Mengurangi Berat Badan?
ISTOCK

Pola makan ini sedang hype karena dianggap sebagai salah satu cara terbaik untuk menurunkan berat badan.

Jika kamu hidup dan eksis di tahun 2018, mungkin kamu pernah mendengar: intermittent fasting. 

“Intermittent fasting adalah pola makan yang memiliki siklus antara periode puasa dan makan,” jelas dr. Arti Indira, MGizi., Sp.GK., seorang dokter gizi dari Beyoutiful Clinic, Jakarta, kepada Woop. 

Pola Intermittent Fasting

1. Metode 16/8

Dikenal juga sebagai protocol leangains. Metode ini dilakukan dengan melewatkan jam sarapan dan membatasi asupan selama periode tertentu dalam 8 jam. Misalnya, jam 1 sampai 9 makan, kemudian puasa selama 16 jam.

2. Eat-Stop-Eat

Metode ini dilakukan dengan puasa selama 24 jam sebanyak 1 sampai 2 kali dalam seminggu.

3. The 5:2 Diet

Metode ini mengonsumsi asupan hanya 500 sampai 600 Kalori yang sama sekali tidak makan atau mengonsumsi makanan sangat sedikit, sekitar 500 Kkal saat hari puasa. Lalu, pada hari tidak puasa, konsumsi makanan seperti biasa.

4. The Warrior Diet

Metode ini dilakukan selama siang yakni hanya mengonsumsi sayur dan buah, malam hari makan biasa 1 kali.

5. Alternate-Day Fasting

Puasa selang sehari. Pada hari puasa ada yang sama sekali tidak boleh makan atau yang hanya boleh dikonsumsi sedikit, sekitar 500 Kkal. Pada hari tidak puasa, konsumsi makanan seperti biasa.

Banyak ya, pola dan pilihannya? Apakah berarti itu lebih efektif dibandingkan pola diet lain yang membatas-batasi asupan, misalnya lemak atau karbo? Hm... tapi di sisi lain, berpuasa sehari membuat kita cenderung "lapar mata" setelahnya. 

“Intermittent fasting dapat meningkatkan pembakaran lemak dan menurunkan berat badan dengan memaksa tubuh untuk menggunakan lemak sebagai sumber energi. Pada keadaan normal, tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber utama energi dan menyimpannya sebagai glikogen dalam otot dan hati. Ketika tidak ada asupan makanan yang masuk, tubuh akan memecah glikogen sebagai energi dan ketika glikogen habis, maka tubuh akan mencari sumber energi alternatif, seperti sel lemak untuk dipecah sebagai sumber energi tubuh,” paparnya. Jadi, “kita tidak terlalu pusing untuk mengukur atau menakar asupan makanan dalam bentuk kalori atau gram,” jawabnya. Benar juga, kita (kamu dan saya) sibuk, sama sekali tidak punya waktu untuk mengukur satu porsi gado-gado setiap kali akan makan siang. 

Lebih dalam lagi, Arti menjelaskan, “pada suatu penelitian yang dilakukan oleh [Tatiana] Moro, dkk, di tahun 2016, mendapatkan hasil bahwa intermittent fasting metode 16/8 dapat menurunkan massa lemak dengan tetap mempertahankan massa dan kekuatan otot.”