Apakah Kamu Perlu Mengonsumsi Kolagen dan Suplemen Kecantikan Lain?

Apakah Kamu Perlu Mengonsumsi Kolagen dan Suplemen Kecantikan Lain?
ISTOCK

Dermatolog ini menjelaskannya.

Kulit kurang kencang? Ada pil untuk itu. Rambut kurang lebat? Silakan melirik toko, tinggal pilih. Ya elah, bahkan ada pil untuk melindungi kulit dari sinar matahari! Kalau boleh jujur, radar sinis dan skeptis kita mendengung-dengung dengan kencang ketika mendeteksi pil-pil kecantikan ini. Apa iya, mereka benar-benar efektif? Oleh karena itulah, Woop berkonsultasi dengan ahli perawatan kulit terpercaya: dermatolog. 

“Seperti namanya supplemen, yang berarti tambahan,” ujar dr. Dikky Prawiratama, M. Sc, Sp.KK., seorang dermatolog dari Erha Derma Center dan Ergia Klinik, Yogyakarta. “Asalkan pola diet kita seimbang saya rasa sih, supplementasi tidak diperlukan. Tapi mengingat sekarang makin susah untuk diet yang baik dan benar, tidak ada salahnya untuk menambahkan suplementasi tersebut (agar bisa mendapat kulit yang sehat),” sambungnya.

Ah, pola makan. Seperti yang tahu mempengaruhi segal hal mulai dari kesehatan jantung, otak sampai kulit. Dan jika dipikir-pikir kulit merupakan salah satu organ yang paling mendominasi tubuh, maka logikanya memang dirawat. Dari luar diolesi krim, dari dalam sejumlah orang memilih merawat kulit dengan mengonsumsi suplemen. Dari sekian banyak suplemen yang tersedia di pasaran, ini jenis yang paling sering dipakai—dan Woop bertanya seberapa penting menjadikannya sebagai bagian dari rutinitas perawatan kulit. 

KOLAGEN

Ah, suplemen ini sedang naik daun dan jika sering mengunjungi gerai-gerai kecantikan, para petugasnya akan menawari dengan ramah.

Seperti yang diketahui kolagen adalah protein. Kolagen terbentuk dengan sendirinya di dalam tubuh sepanjang kita hidup dengan tujuan untuk membantu jaringan kulit lebih elastis dan tahan terhadap peregangan (lebih jelasnya baca di sini). Menurut dr. Dikky, kolagen merupakan salah satu komponen utama kulit, rambut, dan kuku. Terutama kolagen tipe I dan tipe III. Fungsi kolagen adalah sebagai ‘kerangka’ kulit yang memberikan sifat elastic pada kulit. Semakin kita menua, maka kolagen yang secara alami diproduksi oleh tubuh pun akan berkurang. Suplementasi kolagen bisa diberikan ke kulit baik secara langsung atau secara tropikal (penggunaan krim atau serum), maupun dikonsumsi secara oral. “Secara umum, waktu yang tepat untuk mengonsumsi kolagen belum ditentukan. Tetapi jika melihat dari penurunan produksi kolagen yang dimulai pada usia 30 sampai 35 tahun, maka pada usia-usia tersebut suplementasi kolagen oral bisa diberikan,” ujarnya. Selain itu, kolagen oral bisa dikonsumsi oleh siapa saja, baik tua maupun muda, asal disesuaikan dengan kebutuhan. “Karena pada dasarnya, selama diet kita seimbang, asupan kolagen bisa didapatkan dari makanan harian,” katanya. 

Kolagen bisa berasal dari biota laut maupun bovine. Kolagen yang didapat dari biota laut biasanya mengandung kalsium dalam jumlah yang tinggi. Konsumsi yang tidak tepat dapat menyebabkan kondisi hiperkalsemia dalam tubuh. Efek hiperkalsemia ini antara lain konstipasi, mual dan muntah. Tidak hanya itu saja, kolagen juga bisa menimbulkan efek hipersensitivitas, terutama kolagen yang diperoleh dari biota laut (marine collagen). 

BIOTIN

Biotin adalah golongan Vitamin B yang larut di air atau dikenal juga dengan Vitamin B7. Secara umum biotin berfungsi untuk mengubah makanan menjadi energi di dalam tubuh, sehingga, sangat dibutuhkan untuk kulit yang sehat. Menurut dr. Dikky, biotin dapat membantu kerja enzymatic dalam tubuh untuk mengubah glukosa dan asam lemak menjadi energi yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh, termasuk kulit, agar dapat berfungsi dengan baik.

Pada intinya, jika kita mengonsumsi diet yang seimbang, maka jarang sekali ditemukan kasus kekurangan biotin, karena biotin dapat dengan mudah ditemukan pada telur unggas, jamur, kacang-kacangan dan keju. Biotin dapat dikonsumsi oleh semua orang. Terutama orang dengan keluhan kuku yang rapuh, rambut mudah patah, ibu hamil dan menyusui. Namun, biotin dengan dosis yang berlebih pada umumnya tidak menimbulkan efek samping, karena sifatnya yang larut dalam air. Jadi, ketika tubuh menerima dosis biotin yang berlebihan akan dibuang melalui urin.

HALAMAN
12