Berita Terbaik Sejauh Ini: Vaksin Jerawat

Berita Terbaik Sejauh Ini: Vaksin Jerawat
ISTOCK

Mungkin berita terbaik sepanjang masa?

Rabu pagi, seolah hidup belum cukup rumit dengan panas dan macet, sebuah jerawat muncul di dagu dengan arogannya. Rasanya seperti Bumi berhenti berputar karena terlalu sibuk menatap wajah kita. Sepanjang presentasi di kantor, seluruh mata cuma tak berhenti memelototi satu jerawat merah tersebut sepanjang waktu, melupakan materi presentasi yang membuat kita kurang tidur (alias penyebab jerawat itu muncul). Dan ajaibnya, setiap lama ditatap, rasanya jerawat semakin membesar. Positif: penderitaan Pinokio tidak sebesar yang kamu rasakan saat itu.

Tenang dulu, soalnya kamu bukan minoritas dalam permasalahan jerawat vs dunia ini. Menurut para peneliti di UC San Diego, 85% orang pernah mengalami persoalan jerawat dalam hidupnya—jadi kita senasib sepenanggungan. (Kecuali mereka yang termasuk dalam hitungan 15% itu—go sit in the corner and think about what you have, lucky b$#©§t).

Dari dulu sampai sekarang, sains telah menghasilkan obat untuk memerangi jerawat seperti Accutane, antibiotics, dan retinoid topical, tapi seperti yang diutarakan para peneliti tersebut, “Tidak ada terapi pasti yang berfungsi jangka panjang dan secara sistematis efektif” dalam mengurangi bakteri P.acnes (bakteri penyebab jerawat). Sebagian besar perawatan biasanya juga reaktif dan digunakan setelah luka jerawat muncul, dan saat dihentikan, jerawat berpotensi untuk kembali dengan kekuatan penuh.

Namun, baru-baru ini para peneliti tersebut membocorkan bahwa mereka sedang mengerjakan sebuah proyek yang bisa dibilang sangat revolusioner dalam isu ini: vaksin jerawat. Wow! Tarik nafas, dan buang pelan-pelan. Ini adalah kabar terbaik selama dua tahun ini belakangan ini, bahkan mengalahkan berita tentang panda raksasa yang dikeluarkan dari daftar binatang hampir punah dan populasi harimau meningkat pertama kali dalam satu abad!

P.acnes mengeluarkan sebuah racun protein ke kulit yang menyebabkan inflamasi, tapi vaksin ini akan berfungsi sebagai antibodi terhadap protein. Eric C.Huang, salah satu peneliti, menjelaskan kepada Allure bahwa vaksin ini tidak akan membunuh bakteri tersebut karena dalam beberapa hal P.acnes juga memiliki manfaat—gram-positive bacteria-nya ditemukan di dalam rambut, leher, wajah, dan usus, dan beberapa turunannya bahkan menghancurkan virus-virus yang berusaha masuk ke dalam kulit.

Lebih mengejutkan lagi, vaksin ini memiliki fungsi dari sekadar mencegah jerawat: akan menolong dalam hal endocarditis (infeksi langka dan berpotensi fatal pada lingkaran dalam hati), endophthalmitis (inflamasi pada bagian dalam mata), osteomyelitis (infeksi tulang karena bakteri), juga infeksi sistem tulang dan saraf, serta cranial neurosurgery infections (infeksi saraf pada tengkorak kepala).

Sejauh ini, vaksin jerawat tersebut telah sukses diujicobakan pada binatang dan biopsi kulit dari pasien-pasien yang memiliki jerawat. Akan tetapi, masih harus terus dilakukan tes pada pasien-pasien sungguhan di klinik-klinik uji coba, dan konon dibutuhkan waktu sampai dengan dua tahun untuk mendapatkan perkembangan maksimal. Senangnya, bukan main! Namun, tetap saja masih iri dengan populasi 15% tadi!