5 Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Borosmu!

5 Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Borosmu!
SHUTTERSTOCK
5 Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Borosmu!

Ada alasan psikologis dibalik orang-orang yang gemar sekali menghabiskan uang—dengan mudahnya.

Apakah kamu adalah orang yang boros? Jika iya, Woop hanya ingin menasihatmu: Berhentilah mulai sekarang! Yep, boros menjadi kebiasaan jelek yang harus kamu ubah dalam hidupmu. Dengan memiliki sifat boros, hal ini malah akan membuat masa depan finansialmu tidak berjalan dengan lancar, bahkan kamu bisa miskin di hari tua. Tidak mau kan? Perlu kamu ketahui, sebenarnya ada beberapa alasan psikologis di balik kebiasaanmu menghabiskan uang lho.. Penasaran apa saja?

  • Diskon Hadiah 

Menurut seorang psikolog dari Santa Rosa, California, Carla Marie Manly, ada jenis proses pemikiran yang disebut diskon hadiah yang tertunda. Hal ini adalah salah satu alasan mengapa beberapa orang cenderung mengeluarkan uang lebih banyak. Orang-orang yang bersedia untuk berhenti sejenak dan mempertimbangkan risiko dari keputusan pengeluaran biasanya memiliki kebiasaan belanja yang lebih baik. Sebaliknya, mereka yang impulsif dan tidak bersedia berpikir sebelum melakukan pengeluaran malah akan menyesali hal tersebut di kemudian hari.

  • Prinsip Kelangkaan ‘Ekonomi’

Yep, ini adalah teori ekonomi yang meneliti hubungan antara penawaran dan permintaan. Saat diterapkan pada bidang psikolog, prinsip ini menyatakan bahwa semakin sedikit sesuatu yang tersedia, maka semakin banyak yang menginginkannya. Sehingga hal ini paling sering terjadi saat kamu berbelanja online.

ISTOCK
ISTOCK

Baca: Review Aplikasi Money Lover: Aplikasi Keuangan di Smartphone

  • Pengeluaran yang ‘Salah’

Misalnya adalah biaya yang akan dikeluarkan sebagai keanggotaan sebuah gym. Biasanya yang terjadi setelah kamu membayar mahal untuk menjadi member, kamu malah tidak menggunakannya. Uang yang telah dibayarkan tersebut tidak bisa dikembalikan, terlepas dari apakah kamu pergi ke gym atau tidak. Jadi, berhentilah melakukan pengeluaran uang untuk sesuatu yang tidak akan kamu lakukan di masa depan.

  • Harga Barang Setengah Harga

Prinsip psikologi lainnya tentang seseorang yang terlalu banyak mengeluarkan uang adalah melihat barang denga harga yang lebih murah. Misalnya, kamu belanja dan melihat barang dengan harga yang tadinya adalah Rp100 ribu menjadi Rp50 ribu. Kamu tidak akan berpikir bahwa mungkin harga aslinya sudah dinaikkan terlebih dahulu--baru diturunkan—karena terlalu fokus memperhatikan bahwa barang tersebut dapat dibeli dengan setengah harga.

  • Fasilitas sosial

Terkadang berada di dekat orang lain bisa membantumu membuat keputusan yang lebih baik dan ini dikenal sebagai fasilitas sosial. Sayangnya dalam hal pengeluaran, fasilitas sosial biasanya justru malah merugikan. Contohnya adalah lelang, di mana kamu didorong untuk belanja lebih banyak dan berkompetisi mendapatkan barang tersebut, sehingga membuat kamu menjadi tidak rasional.

Selanjutnya: Foundation Huda Beauty, kira-kira beli atau tidak ya? Baca review-nya di sini.