6 Hal yang Bisa Kamu Lakukan Ketika Teman Menolak Bercerita tentang Masalahnya

6 Hal yang Bisa Kamu Lakukan Ketika Teman Menolak Bercerita tentang Masalahnya
ISTOCK
6 Hal yang Bisa Kamu Lakukan Ketika Teman Menolak Bercerita tentang Masalahnya

R.E.S.P.E.C.T.

Kamu punya teman dan tahu bahwa dia sedang dalam situasi "rasanya dunia mau kiamat"—tapi, dia menolak membicarakannya. Oh. Apa yang seharusnya kamu lakukan? Ini, baca ini sebagai pencerahan. 

1. Jangan Pernah Memaksanya untuk Bercerita

Caramu dan temanmu menghadapi situasi sedih sulit berbeda-beda. Mungkin dia adalah tipe yang tidak ingin membicarakan perasaannya kepada siapa pun (kepadamu atau orang lain). Jika ini yang terjadi, "biarkan," saran Russel Friedman, penulis buku The Grief Recovery Handbook dan When Children Grieve. Jika memungkinkan, lakukan sesuatu yang sama-sama kalian berdua sukai bersama-sama. "Kamu akan lebih membantu mereka ketika hanya berlaku layaknya sebagai seorang teman," katanya. 

2.  Berikan Dia Waktu Sendiri

Ini mungkin saran yang sulit dilakukan jika kamu sangat peduli dan sayang terhadap orang tersebut. "Namun, tidak banyak yang bisa kamu lakukan ketika saat ini dia menolak membicarakannya denganmu," tulis seorang terapis, Kristina Randle, Ph.D., LCSW. Pasalnya, jika kamu terlalu memaksa (meski niatmu baik), akan membahayakan hubungan kalian. Saran Randle adalah memberikan waktu kepada orang tersebut. "Dia mungkin akan mempertimbangkan tawaran bantuan darimu di masa yang akan datang atau memutuskan untuk menghadapi situasi tersebut sendiri, tapi untuk saat ini dia tidak tertarik [dengan bantuanmu itu]. Meski sulit dimengerti, hargai keputusannya dan siap sedia ketika dia berubah pikiran." 

3. Tetap Berhubungan 

Jika temanmu tidak ingin membicarakannya, tidak perlu dipaksa. Satu hal yang bisa kamu lakukan adalah tetap berhubungan (lewat email, bertanya kabar di WhatsApp), seperti halnya yang kamu lakukan jika seseorang sedang berduka. "Ikatan sosial akan membuatnya merasa tidak menderita sendirian," saran para psikiatris di Ventre Medical Associates. Hal ini juga adalah sinyal bahwa kamu akan ada untuknya jika dia siap membicarakannya. 

4. Respek 

Ini mungkin satu saran yang bisa kamu pertimbangkan ketika temanmu adalah korban pelecehan seksual. "Respek apa pun reaksi mereka, bahkan ketika itu terkesan tidak 'normal,'" kata psikolog klinis Andrea Bonior Ph.D. Singkirkan apa pun bayangan yang ada di benakmu tentang apa dan bagaimana seseorang seharusnya bereaksi setelah mengalami pelecahan seksual. Dalam hal ini, "tidak ada istilah normal," lanjutnya. Dan jangan diinterogasi. Meski kamu ingin mengajukan berbagai pertanyaan agar lebih bisa mengerti tentang apa yang terjadi, "hal tersebut bisa terlihat seperti menghakimi atau menyalahkan—bahkan bisa membuat seseorang trauma lagi. Biarkan mereka membuka diri atau membicarakan—atau tidak membicarakannya—sesuai dengan ritme mereka."  

5. Kenali Peranmu dan Realistis 

Dalam artian, "Jangan pernah mencoba untuk menjadi terapisnya," tulis psikolog Jenna Baddeley. Atau dokternya, atau psikiaternya. "Jika seseorang yang sedang depresi membutuhkan seseorang yang bisa dihubungi tengah malam ketika sedang sedih, untuk membicarakan bunuh diri sementara kamu butuh tidur, atau sudah terjebak di dalam situasi buruk yang sama selama berbulan-bulan atau tahunan, mereka harus berkonsultasi dengan terapis untuk mencari bantuan profesional." 

6. Lengkapi Diri dengan Pengetahuan Seputar Masalahnya

Jika temanmu sedang depresi, memiliki keinginan bunuh diri, atau korban kekerasan seksual—edukasi dirimu, cari tahu sebanyak mungkin informasi tentang subjek tersebut (dari sumber yang bisa dipercaya). Pengetahuan ini akan membantu mengetahui apa yang sebaiknya—atau tidak–dilakukan. 

Lakukan enam hal itu. Lalu, sebaiknya JANGAN lakukan ini: 

1. Jangan katakan "Yang kuat ya," "Jangan Nangis," atau "Fokus pada yang positif," atau "Bersyukurlah atas apa yang kamu miliki." 

Yeah, yeah, kalimat itu memang terlihat indah, tapi sedikit basi. Alih-alih membuat mereka lebih baik kalimat itu akan menjadikan mereka lebih tertekan, lemah, dan malu. "Biarkan mereka mengeluarkan emosi; jangan ditahan atau dibatasi," tulis psikoterapis Megan Bruneau. 

2. Jangan remehkan kondisi mereka dengan mengatakan "masih banyak anak kelaparan dan korban perang di Afrika," dan jangan katakan bahwa kamu tahu persis apa yang mereka rasakan.

Bahkan ketika kamu pernah di posisi yang sama, reaksi setiap orang berbeda. "Jadi, tetaplah berempati," saran Bruneau. 

3. Jangan menyerah dan menghilang dari hidupnya. 

Kamu mungkin merasa frustrasi, tidak berdaya, patah semangat, capek. "Ini adalah pengalaman biasa yang dialami ketika mendukung seseorang yang sedang kesulitan." Jika kamu merasa sudah mencapai batas, bicarakan dengan temanmu itu. Atau, kondisi itu mungkin adalah pertanda bahwa bantuan profesional dibutuhkan secepatnya.

4. Jangan takut menanyakan apakah mereka memikirkan tentang bunuh diri. 

Tidak semua orang depresi memiliki pemikiran ini, tapi "hampir setiap orang yang berkontemplasi tentang bunuh diri pernah mengalami depresi," tulis Bruneau. Jadi, jangan takut mengajukan pertanyaan tersebut. Dan jika mereka menjawab "iya", "ingatkan bahwa hal tersebut mekanisme pertahanan alami (cara 'menghentikan penderitaan'), tapi bunuh diri tidak akan membuat situasi membaik. Kemungkinan besar kamu tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang ini, jadi tetaplah bersama mereka sambil terus mendorong untuk mencari bantuan profesional." Kamu bisa membaca tentang bunuh diri di sini

5. Jangan lupakan kesehatanmu.

Ini penting. "Menyokong orang lain bisa melelahkan baik secara emosional dan mental," terang Bruneau. Jadi, jangan lupakan kesehatanmu. Tetap ingat self-care

Selanjutnya: Salah satu wujud self-care yang paling mudah adalah... tidur yang cukup. Pasalnya, terlalu sering kurang tidur membuatmu rentan terhadap bahaya-bahaya ini