Banner

Kata Psikolog Ini: 'Bad Mood itu Normal'

Apa itu Bad mood? Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
ISTOCK

Berguna dan merupakan faktor adaptif dari manusia, membantu kita menghadapi berbagai situasi dan tantangan setiap hari

Ketika hal "itu" datang susah untuk menahan diri dari menekan semua huruf di kibor komputer dengan penuh nafsu. Hal "itu" maksudnya adalah suasana hati yang tidak menyenangkan atau bad mood. "Bad mood adalah keadaan emosi yang cenderung buruk/negatif dan sifatnya sementara. Biasanya disebabkah oleh peristiwa kecil yang dianggap kurang menyenangkan," kata Vinaya Untoro, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila. Dan setiap orang mengalami ini. Penyebabnya bisa sangat random, entah itu kesal orderan belanja online tidak kunjung datang setelah sebulan atau sedih karena ditegur oleh bos. "Bad mood sesuatu yang normal," tambah Vinaya.

Joseph Paul Forgas, profesor psikologi dari UNSF, menuliskan pada theconversation.com bahwa bad mood merupakan sesuatu yang normal, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan homo sapiens, sama seperti good mood (merasa senang dan bahagia). Bahkan berguna dan merupakan faktor adaptif dari manusia, membantu kita menghadapi berbagai situasi dan tantangan setiap hari.

Namun ada kalanya "kenormalan" bad mood tersebut diberi label negatif. Apalagi dengan keberadaan media sosial, kampanye dan budaya yang mengklaim bahwa kita harus bahagia setiap waktu. #happinessgoal. Apakah suasana hati seperti marah, kesal, sebal, sedih, takut, malu sangat, sangat negatif? 

"Intensitas bad mood sangat berbeda bagi setiap orang. Sebab yang sama bisa diartikan berbeda oleh setiap orang. Misalnya, disenyumin orang lain sudah sejuta rasanya, tapi ada juga yang menganggapnya biasa saja," jawab Vinaya. "Afeksi—perasaan positif membuat manusia memandang hidupnya dengan lebih positif, lebih mampu produktif dan berkarya dengan lebih baik. Bukan masalah harus bahagia, tapi banyak kebaikan yang bisa diperoleh dengan memiliki mood yang baik," terangnya. 

Penelitian di tahun 2015 menyimpulkan bahwa menangis bisa membuat kita merasa lebih baik. 

Sebuah penelitian lain dari tahun yang sama memperlihatkan bahwa bad mood sendiri bukanlah sebuah masalah. Yang penting adalah bagaimana sikap kita terhadap suasana hati negatif tersebut. Dengan kata lain sikap positif menghadapi bad mood tersebut membuat perbedaan yang signifikan. 

Dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan, mengalami bad mood sesekali dipercaya memiliki keuntungan tersendiri. Di antaranya: 

  • memiliki ingatan yang lebih baik. Dalam sebuah studi, bad mood (yang disebabkan oleh cuaca jelek) membuat orang mengingat lebih baik detail dari toko yang baru dikunjunginya. 
  • lebih akurat menilai sesuatu. Contohnya, hakim-hakim yang sedikit sedih menghasilkan impresi yang lebih akurat dan bisa diandalkan karena mereka memproses detail lebih efektif. 
  • lebih termotivasi. Beberapa penelitian menemukan bahwa ketika diminta untuk menyelesaikan tugas mental sulit, mereka yang mengalami bad mood mencoba lebih keras dan tekun—menyediakan lebih banyak waktu, bertanya lebih banyak—dibandingkan yang merasakan good mood. 

"Juga balik lagi ke individu. Umumnya sih, bad mood lebih berpengaruh negatif. Namun, memang di sisi lain bisa membuat kita belajar untuk mengendalikan diri dan belajar reinterpretasi situasi," tambah Vinaya. 

Di sisi lain, bad mood yang berlangsung persisten, terus menerus bisa menandakan kondisi mental yang lebih serius seperti depresi atau mood disorder, yang bisa memberikan dampak negatif terhadap kesehatan. Untuk hal ini, sebaiknya kita mencari pertolongan serius, seperti membicarakannya dengan ahli psikologis. 

Namun untuk sesuatu yang sementara—misalnya tiba-tiba kesal karena teman membatalkan janji lima menit sebelumnya dengan alasan tiba-tiba tidak enak badan—ada yang bisa dilakukan. 

"Karena sifatnya sementara, umumnya akan hilang dengan sendirinya dengan berlalunya waktu. Namun, jangan biarkan produktivitas dikendalikan oleh mood. Kenali hal-hal yang bisa meningkatkan mood, seperti bertemu dengan orang-orang yang membuat mood bisa lebih positif (sahabat, anak, dll), lakukan kegiatan sosial yang akan membuat diri lebih berharga, melakukan sesuatu yang kita sukai. Entah ke salon, makan makanan favorit, dan lain sebagainya," saran Vinaya. 

Namun dalam kenyataannya tidak semudah itu. Terkadang saat sedang bad mood, selain tidak menyenangkan, kita juga merasa seperti gagal—karena yah... menjadi orang yang sepertinya membawa hawa negatif. 

"Bad mood banyak penyebabnya, salah satunya adalah terkait dengan kegagalan. Balik lagi ke interpretasi situasi. Umumnya bila penyebabnya sesuatu yang besar misal ditolak pujaan hati, dipecat dari pekerjaan, bukan lagi terkait dengan mood, bisa terkait dengan stres berkepanjangan atau depresi," jawabnya. 

Dan di sekitar pergaulan kita ada saja seseorang yang sepertinya bad mood berkepanjangan, setiap hari bad mood. Sehingga keluar pernyataan bernada seperti, "Oh, biarin aja dia memang lagi bad mood. Dia memang seperti itu kalau lagi bad mood." Apakah hal ini tepat?

"Setiap orang memiliki mekanisme sendiri dalam menghadapi persoalan di dalam hidupnya. Ada yang bisa meregulasi emosinya dengan baik, ada yang kurang baik. Ada yang sangat mengikuti suasana hati, ada yang tidak memedulikannya. Selama tidak mengganggu produktivitas/merugikan orang banyak sepertinya masih bisa ditoleransi. Ingat, karena mood sifatnya sementara, maka akan hilang dalam waktu yang tidak lama."